Search + histats

Showing posts with label DELUHI fanfic. Show all posts
Showing posts with label DELUHI fanfic. Show all posts

Sunday, 20 January 2013

Forbidden Fruit 14


Author : Rukira Matsunori
Rated : T++ (haha..)
Genre : AU/ romance/ school/ BL
Fandom: DELUHI.. *sisanya gak penting (plak)*
Pairing: AggyXLeda *gyaa~*
Chapter : 14
Warning : MalexMale!! *tumben warningnyo~~*
Summary : forbidden fruit is sweetest.... perasaanku padamu adalah sebuah dosa. Namun terasa begitu manis
Length : 12 pages (3.239 words)
Note : ini agak diluar kehendak T_T




Seorang pemuda memain-mainkan ponsel di atas kepalanya, terlentang di atas tempat tidur dengan cahaya lampu kamar yang remang. Satu ibu jari tangannya sibuk menekan-nekan keypad ponsel yang telah bersamanya sejak beberapa tahun lalu. Membuka pesan-pesan lama di inbox-nya. Membuka kenangan-kenangannya. Tanpa pernah bosan.

ada beberapa teman, tapi tetap saja rasanya ada yang kurang kalau kau tak ada (^_^)7 bagaimana denganmu di sana?
-------------------------

Kau pasti bisa! Percayalah d(^_^)b
-------------------------

Ada anak yang cantik….(O.O)
-------------------------

Bukan begitu (-////-)
Ah entahlah, tapi sepertinya dia sulit didekati.
-----------------------------

Ayahku mulai ngamuk lagi (-_-“) coba aku bisa menginap di rumahmu seperti dulu.
-----------------------------

Pemuda itu tersenyum membaca beberapa pesan lama di ponselnya.

Aku bicara dengannya!!!!! Hari ini aku bicara dengannya lho!!! Kenapa aku sesenang ini ya? XD
-----------------------------

Dia benar-benar cantik! Kalau kau melihatnya pasti akan jatuh cinta haha eh!! Tapi sungguuuuh, senyumnya, suaranya, tingkahnya~~~~ aah…….*mati*
-----------------------------

apa menyukai seseorang itu begini rasanya? seakan pandanganmu hanya tertuju untuknya? Dadamu akan begitu bergemuruh hanya dengan dia berjalan melewatimu? Tidak melihatnya satu menit saja membuatmu kesepian.
-----------------------------

Detik pertama pemuda itu masih tersenyum samar,

Ano~ Gitarku rusak ahahah…(^_^)7
-----------------------------

dan detik berikutnya bibirnya mulai bergetar.

ini sudah keterlaluan. Ini salah.
-----------------------------

Tapi aku menyukainya….
-----------------------------

Pluk!

Pemuda itu meringkukan tubuhnya membiarkan ponsel yang ia jatuhkan di samping kepalanya tanpa rawatan tangannya. Ia tidak menghapus pesan-pesan lama itu, dan tidak akan pernah menghapusnya, meski setiap membacanya hanya akan memunculkan serangan rasa yang begitu perih di dada kirinya, tapi itu adalah kenangannya. Ia tidak ingin menghapus kenangannya. “kau benar. dia cantik….”, ia menutup kedua mata dengan lengannya. “tapi kecantikannya terlihat busuk dimataku”

***

BRUK!

“…….”

“…….”

“aa…sudah kuduga, kau masih lemah Aggy…”, Leda membangunkan tubuhnya yang menimpa Aggy. “maaf aku tidak sengaja haha…”

Kau sengaja!!

Merasakan adanya tanda-tanda bahaya refleks tangan Leda yang terbebas dari genggaman Aggy mendorong pipi laki-laki itu dan tanpa di duga, Aggy malah ikut ambruk menyamping di tempat tidur karena terdorong tubuh Leda tadi. Aggy sendiri terkejut karena ternyata tubuhnya benar-benar dalam keadaan lemah. Bahkan bagian dadanya mulai terasa sakit juga tubuhnya panas dingin. “kau tidak apa-apa?”

“aku bisa sendiri”, ujar Aggy ketus saat Leda ikut membantu membangunkan tubuhnya kembali duduk di atas tempat tidur. Aggy masih sedikit kesal.

“sebaiknya memang makan dulu. kau masuk angin Aggy. apa perlu aku suapi?”

“….!!!!!“, Aggy refleks menoleh ke arah Leda yang berdiri di sampingnya. Leda menatapnya tanpa dosa masih mengharapkan jawaban sementara wajah Aggy perlahan mulai terasa matang. Aggy segera meraih piring makanan di sampingnya, kembali memalingkan wajahnya merasa kesal sambil melahap makanan dalam piring di tangannya. Kenapa Leda bisa mengatakan hal seperti itu dengan tampang innocent begitu?
rasanya Aggy ingin pulang!!!!! Berada berdua di ruangan tertutup(?) seperti ini tanpa bisa melakukan apa-apa itu adalah sebuah penyiksaan.
Tapi Aggy tidak bisa melakukan itu. ada banyak pertanyaan di kepalanya yang harus mendapatkan jawaban. Dan Aggy ingin mendapatkan jawaban-jawaban itu sekarang!

“kau pasti bolos lagi ya?”, gumam Leda. Aggy menurunkan kedua kakinya ke lantai setelah meletakan piring makanannya di meja di samping tempat tidur, mendudukan tubuhnya di bibir ranjang setengah menunduk. Leda hanya memperhatikan laki-laki di hadapannya itu dan saat melihat lengan Aggy ia teringat.

“sikutmu lecet”

Aggy hanya melirik sikutnya yang memang terdapat kulit yang lecet lalu kembali mengabaikannya. Hal kecil begitu tidak akan membuat Aggy menyadarinya. “kau—“

“aku membeli ini tadi”, Leda mengeluarkan sebuah antiseptic dari saku celananya dan beberapa plester. “meski tidak parah tapi pasti ada bagian tubuhmu yang terasa sakit kalau jatuh dari motor begitu. ah ini juga ada”, Leda mengeluarkan minyak angin(?) dari saku celananya. Aggy mendengus. Yang benar saja! dipaksa pun Aggy tak akan sudi memakai minyak seperti itu.

“katakan! Darimana saja kau beberapa hari ini?”, tanya Aggy tiba-tiba.

Leda menghentikan aktifitasnya membuka tutup antiseptic di tangannya, “oh, aku mengunjungi pamanku, tiba-tiba saja dia jatuh sakit”

“ha?”, Aggy mengernyitkan dahinya. “kalau begitu kenapa kau mematikan ponselmu? Tidak memberi kabar pada Kiyoharu! semua mengkhawatirkanmu!”

“ah! Maaf! aku tidak bermaksud begitu! waktu itu aku terlalu panik dan terburu-buru mendengar pamanku jatuh sakit, sampai aku melupakan ponselku tertinggal di sini hahaha dan aku lihat tadi batre-nya habis”, Leda menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. “aku bermaksud menghubungi Kiyo-sensei tapi aku tidak menghafal nomor ponselnya di luar kepala jadi….ah aku juga sudah menjelaskannya pada Kiyo-sensei tadi”

Aggy melongo. Beberapa hari ini ia dibuat hampir gila, simple sekali alasan yang Leda utarakan padanya. “kau….tidak bermaksud berhenti masuk sekolah?”

“apa? ahaha tentu saja tidak. mana mungkin….”, Leda mendudukan dirinya di tepi tempat tidur di samping Aggy lalu meraih sikut lengan laki-laki itu. “seseorang susah payah memasukanku ke sekolah itu mana mungkin aku berhenti begitu saja”, gumam Leda sambil memberikan beberapa antiseptic di luka lecet Aggy dan memberinya plester. “maaf, karena kecerobohanku sudah membuat kalian khawatir”, ucap Leda tersenyum.

Ah….ada sesuatu yang terasa kembali menghangat di dada Aggy. bukankah itu yang Aggy rindukan? Berada begitu dekat dengannya, berbicara hal-hal ringan dan senyumannya itu….

Leda sedikit menundukan kepalanya menatap lantai di bawah kakinya, “mungkin suasananya akan sedikit berbeda, tapi aku tidak berpikir untuk berhenti masuk sekolah karena itu”, Leda tersenyum hambar. “aku tidak punya rasa malu sama sekali ya Aggy?”

Aggy mengernyitkan dahinya. “malu?”

“aku melihatnya waktu itu. pandangan-pandangan ketakutan dan terkejut. Mereka pasti sangat kecewa ketua kelas mereka adalah orang yang pernah membu—hmp!“, tiba-tiba mulut Leda dibekap tangan Aggy. Leda menoleh ke sampingnya dimana Aggy sudah menatapnya dengan pandangan tak suka. Aggy tidak suka dengan kata-kata ketua kelasnya. Aggy tidak ingin mendengar kata-kata hina seperti itu dari mulut ketua kelasnya.

“Kiyoharu sudah menceritakan semuanya. Berhentilah mengatakan kalau kau pernah membunuh! Apa kau merasa keren dengan mengakui hal seperti itu hah? kau merasa lebih hebat dariku?”

Leda melepaskan telapak tangan Aggy dari mulutnya sedikit tersenyum tak menatap Aggy. “bukannya sombong, tapi sepertinya aku memang lebih hebat darimu hahaha…”, Leda segera menutup mulutnya rapat melihat wajah serius Aggy yang menatapnya. Sepertinya candaannya Aggy anggap serius. “aa… Bercanda! Bercanda! Haha…”, Leda menepuk-nepuk pundak Aggy
sampai tiba-tiba kedua lengan meraih tubuhnya dan mendekapnya. Aggy Menyusupkan wajahnya di antara leher dan bahu Leda di sampingnya. Aggy tidak tahan lagi. Aggy tidak tahan membiarkan ia leluasa terbebas dari dekapannya.

“tidak usah berusaha tertawa di hadapanku! Bahkan candaanmu terdengar garing”, dengus Aggy.

Leda mematung. Aggy mengangkat wajahnya, “siapa aku bagimu?”, tanya Aggy tiba-tiba.

Aggy bisa melihat mata Leda sedikit melebar meski mereka tidak bertemu pandang. Tidak sesuai dugaan Aggy, itu sedikit mengejutkan. Aggy hanya mengharapkan dia menjawabnya tanpa ragu, “aku teman bukan?”

Leda menoleh, “he? iya haha tentu saja, Aggy teman”

“kalau begitu katakan apa yang membebanimu di sini..”, Aggy menepuk dada Leda, “aku ingin mendengarnya…..sebagai teman”

Leda merapatkan bibirnya menatap Aggy yang juga setia menatapnya. Leda segera menarik pandangannya, memalingkan wajahnya dari Aggy namun Aggy segera meraih pipi ketua kelasnya itu memaksa mendapatkan kembali kedua mata kecoklatan itu menatapnya. “aku ingin tahu….aku ingin tahu semua tentangmu, izinkan aku mengetahuinya”

“…….”

Leda sedikit menundukan wajahnya tersenyum. Dia tidak mengerti, tapi sesaat ia merasakan suasana yang sama seperti ‘saat itu’. Aggy dan ‘dia’ adalah dua orang yang berbeda, 360º berbeda. Tapi ada satu kesamaan diantara keduanya, dan itu adalah apa yang membuat Leda tidak bisa membenci Aggy. alasan yang membuat Leda diselimuti penyesalannya selama ini.

“kau pasti tahu kan, siapa orang yang menyebarkan berita tentang masa lalumu”

“he?”

“hanya ada dua orang di sekolah selain kau yang tahu tentang itu, tidak mungkin Kiyoharu kan? jadi pasti orang itu yang melakukannya kan?”, Aggy sedikit menaikan sebelah alisnya.

“aa, itu….”, Leda kembali sedikit menundukan wajahnya melihat kedua kakinya di permukaan lantai.

“dia bukan sembarangan kakak kelas semata kan? kenapa dia melakukan itu?”, Aggy mulai mengintrogasi.

“dia kakak kelasku”, Leda menolehkan wajahnya kearah Aggy, dan segera menariknya kembali saat melihat tatapan tak puas Aggy dengan jawabannya. “dia teman satu kelompokku, lebih tepatnya dia ketua kelompokku”

“……”

“orang pertama yang membuatku merasa diakui, dia mengajariku banyak hal tapi aku mengkhianatinya, dengan keluar kelompoknya dan bersekolah di sini. padahal dia begitu mengandalkanku dan mempercayaiku. Kurasa karena itu dia marah”, Leda tersenyum hambar.

“hanya itu?”, Aggy mengernyitkan dahinya. “kupikir ada sesuatu yang lebih?”, ucap Aggy jail.

“dia tidak seperti itu!!”

Aggy memajukan bibir bawahnya, “menyebarkan kalau kau seorang pembunuh sementara dia sendiri ketua kelompokmu? Dia juga ikut terlibat dalam kasus itu kan? kalau kau pembunuh berarti dia juga sama saja kan?”

“tidak. hanya aku yang membunuh’nya’. Syu dan yang lainnya tidak bersalah”, tatapan Leda kembali melayu.

“ck, sudah kubilang berhenti mengatakan hal konyol seperti itu! “

“tapi aku benar-benar membunuhnya”, ucap Leda pelan masih dengan wajah yang sedikit tertunduk. Aggy hanya menatap wajah ketua kelasnya yang tak bisa ia lihat sepenuhnya karena poni-poni itu menghalangi pandangannya, tapi Aggy bisa melihat bibir ketua kelasnya sedikit terkembang tipis. “aku membunuh orang itu”

Aggy melirik Leda dengan ekor matanya.

“dia bilang dia menyukaimu hahaha”

Leda mengangkat wajahnya, segera menatap ke langit-langit kamarnya untuk menahan sesuatu yang bisa jatuh jika ia tetap tertunduk. Di wajahnya masih tergurat senyum tipis namun Aggy hanya bisa melihat kemurungan di wajah ketua kelasnya.

“anak itu bunuh diri”.

“aku yang membunuhnya!”

Aggy mendengus, “aku tidak mengerti denganmu, kenapa kau bersikeras melemparkan dirimu sendiri dalam kesalahan? Aku sudah mendengar semuanya dari Kiyoharu, mungkin kau memang membuli anak itu tapi tetap saja yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya adalah dia sendiri kan?”

“menjijikan! Mati saja kau!”

Leda kembali menundukan wajahnya, “aku orang yang tidak punya perasaan Aggy, kau mengatakan itu karena kau tidak mengenal seperti apa aku waktu itu. aku tidak sebaik yang kau pikirkan. Aku yang sesungguhnya hanyalah berandal yang tidak punya perasaan”

“ck!”,Aggy memalingkan wajahnya dari Leda sedikit kesal, “kau boleh mengatakan masa lalumu adalah kau yang sebenarnya, ya itu kau yg sebenarnya waktu itu. tapi kau yang sekarang juga adalah kau yang sebenarnya sekarang, dan yang aku kenal adalah kau yang sebenarnya saat ini. aku tidak perduli dengan masa lalumu yang tak kualami”. Aggy memang tidak tahu, Aggy tidak tahu apa-apa tapi Aggy hanya ingin mempercayai apa yang dikatakan hatinya.

Leda tersenyum samar atas perkataan Aggy.

“sebegitu menyesalnya kau? aku pikir itu lebih karena perasaan kehilangan dibandingkan penyesalan”, ucap Aggy asal. Tapi dia memang merasa begitu. entah kenapa setiap Leda bicara tentang ‘orang it’ ‘orang itu’ membuatnya sedikit panas hati. “anak itu…..sebenarnya siapa dia?”

“he?”, Leda sedikit memalingkan wajahnya pada Aggy di sampingnya.

“siapa dia bagimu?”, Aggy ikut memalingkan wajahnya ke arah Leda sampai kedua mata mereka saling bertemu. Aggy mengumpulkan semua ingatan-ingatan tentang bagaimana tatapan matanya begitu kesepian dan sedih, dan ia menyimpulkan itu mungkin karena penyesalannya ini? ah bukan. Tapi karena rasa kehilangannya akan ‘orang itu’?, ‘orang itu’ mungkin istimewa? Aggy tidak tahu, dan ia ingin tahu.

“ah, dia…. Dia teman sekelasku”, Leda sedikit mengusap tengkuknya. “ah ya, bagaimana keadaanmu Aggy? kau masuk angin kan? mau aku gosokan minyak anginnya?”, tawar Leda, mengangkat sebotol kecil minyak angin ditangannya dengan tampang innocent.

Aggy hanya menatap ketua kelasnya itu datar, dan Leda yang merasakan ketidaksukaan Aggy karena ia mengalihkan pembicaraan hanya tersenyum maksa.

“kau…”

“sini, biar aku gosokan!“, Leda refleks menarik seragam Aggy agar laki-laki di sampingnya itu tidak menyelesaikan kata-katanya, Leda tidak ingin meneruskan pembicaraan itu.

“……”

“……”

“mau apa kau?”, tanya Aggy datar, melihat Leda masih memegangi bagian depan seragamnya dan tampak kebingungan dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

“ha? ah, tentu saja aku akan menggosokan minyak anginnya kan? haha”, Leda tertawa garing dan masih dengan pikiran ‘apa yang aku lakukan’ di kepalanya, dia mulai membuka satu persatu kancing seragam Aggy dengan agak canggung. Leda sedikit melirik wajah Aggy, dan orang itu masih setia menatapnya datar. Sepertinya Aggy benar-benar tidak suka dengan pengalihan pembicaraan ketua kelasnya itu.

Leda sedikit menghela nafas, membuka tutup kecil minyak angin di tangannya, “sini punggungmu?”

GREP!!

Leda mengangkat wajahnya menatap Aggy yang tiba-tiba menggenggam satu pergelangan tangannya. “Ap—“, Leda spontan melebarkan matanya, saat Aggy tiba-tiba mendekatkan jarak diantara wajah mereka.

Satu tangan Leda yang terbebas segera mendorong tubuh Aggy namun Aggy segera meraihnya, hingga kedua pergelangan tangan ketua kelasnya itu berada dalam genggaman tangannya. “Aggy, hentikan ini…”, Leda memalingkan wajahnya menghindari Aggy.

“kalau begitu katakan siapa dia bagimu?”, bisik Aggy sembari mengecup satu telinga ketua kelasnya.

Leda sedikit bergidik merasakan geli, “hentikan!”, ia kembali mendorong tubuh Aggy dengan tangannya yang masih berada dalam genggaman Aggy.

“tidak mau”, ucap Aggy iseng mulai menurunkan kepalanya ke leher Leda. dan mengecup sudut diantara leher dan bahu ketua kelasnya itu.

“siapa dia bagiku itu bukan urusanmu kan? lagipula dia orang yang sudah mati”

Aggy mengangkat kepalanya dari leher Leda, menatap ketua kelasnya. “tidak, dia masih hidup dalam hatimu, dia sainganku kan?”

Leda terdiam beberapa saat dengan perkataan Aggy. “apa maksudmu?”

“kau lebih tahu apa maksudku”

“aku tidak menganggapnya seperti itu!!”, Leda menundukan kepalanya.

“siapa dia?”

Leda sedikit menggigit bibir bawahnya.

“siapa sainganku itu?”

“dia sudah mati !”

“siapa yang sudah mati?”

“Juri—“, Leda melebarkan matanya. Dia baru saja menyebutkan nama’nya’. Dan dadanya mulai terasa sakit sekarang.

“Juri? Namanya Juri ya…”

“tidak, bukan! Aku bilang Lepaskan!”, Leda membentak.

Aggy mengernyitkan dahinya, “aku tidak takut dengan bentakanmu”

“aku tidak nyaman dengan ini, kumohon lepaskan“, pinta Leda dengan nada yang lebih lemah.

Aggy melepaskan genggaman kedua tangannya di pergelangan tangan ketua kelasnya. dan Leda segera beringsut duduk menjauhi Aggy. Aggy hanya menatapnya datar namun dalam hatinya ia merasa tingkah ketua kelasnya begitu polos dan lucu, itu malah membuatnya ingin segera menjatuhkan Leda ke tempat tidur (wakak) itu Leda yang biasanya, itu Leda yang Aggy kenal.

“Yu-to”, panggil Aggy tiba-tiba.

Leda sontak menolehkan wajahnya ke arah Aggy dengan sedikit terkejut. “apa?”

“Yu-to san”, Aggy sedikit menyunggingkan senyum tipis menyebut nama itu.

“Aggy?”

“dia memanggilmu seperti itu kan? Juri-mu itu?”

“darimana kau tahu nama itu?”

“si murid baru itu memanggilmu seperti itu waktu itu, dan lagi…..”, Aggy menggantung kata-katanya mengingat mimpi siang bolongnya di kelas hari ini. entah kenapa dia menyimpulkan kalau orang yang menjadi dirinya dalam mimpi itu mungkin adalah ‘dia’. Pikiran itu melesat begitu saja dalam otaknya. “sepertinya dia mendatangiku”

“ha?”, Leda mengernyitkan dahinya.

“jadi….apa itu nama panggilan imutmu?”, Aggy masih penasaran dengan itu.

“apa? bukan! Itu…. nama yang diberikan Syu untukku, itu semacam nickname dalam kelompok”

“hm….”, Aggy menatap Leda mencurigakan. Leda yang menyadarinya mulai kembali merasa was-was. Aggy berdiri melangkah ke depan Leda dimana ketua kelasnya itu terduduk. Leda sedikit menengadah menatap Aggy heran sampai tiba-tiba laki-laki di hadapannya itu mendorong tubuhnya ke atas permukaan tempat tidur.

“Ag—hmmp”

Aggy menginterupsi protesan ketua kelasnya dengan membekap mulut itu dengan bibirnya. Sejujurnya Aggy sedikit panas hati ketua kelasnya mengatakan banyak hal yang tidak ia tahu. orang-orang dimasa lalu ketua kelasnya itu membuat Aggy iri. Mereka telah lebih lama bersemayam di ingatan Leda sementara dirinya hanya ada di ujung ingatan ketua kelasnya, Aggy hanya orang baru. Aggy tidak tinggal dalam ingatan Leda sekuat seperti orang-orang itu. Aggy …..cemburu.

“Aggy hentikan!”

Aggy meraih satu tangan ketua kelasnya yang berusaha mendorong tubuhnya, mengecup-ngecup leher putih pucat ketua kelasnya. Aggy bisa merasakan harum tubuh ketua kelasnya yang khas begitu dekat di hidungnya.

“Aggy—“, Leda merapatkan sebelah matanya merasakan kecupan-kecupan Aggy di lehernya ditambah rasa sakit yang menyerang tulang punggungnya, sepertinya luka dalam di tubuh Leda karena pukulan Satoshi dan kawan-kawannya belum benar-benar sembuh. Aggy hanya menggenggam satu pergelangan tangannya, tapi Leda tak melakukan perlawanan dengan tangan lainnya karena rasa sakit yang dirasakannya.

Aggy menghentikan aktifitasnya menatap wajah Leda yang masih merapatkan sebelah matanya. Aggy tersenyum iseng menyusupkan tangannya dari ujung sweater abu-abu yang dipakai ketua kelasnya, merangkakan tangannya di atas kulit putih tubuh Leda membuat laki-laki manis yang tadinya merapatkan sebelah matanya kini membuka kedua matanya lebar-lebar dan sontak mendorong tubuh Aggy dengan kekuatan penuh.

Aggy hanya terkikik kemudian segera mengangkat tubuhnya, berdiri di samping tempat tidur dan mulai mengancingkan kembali kemeja seragam yang tadi dibuka Leda seenaknya. “kenapa tidak mendorongku sekuat itu sejak awal?”, tanya Aggy jail. Leda tidak meresponnya.

Aggy segera meraih kunci motornya yang tergeletak di meja samping tempat tidur.

“motorku dimana?”

“di bawah, di depan apartemen ini”, jawab Leda sedikit canggung sambil memegangi lehernya. Ia baru saja membangunkan tubuhnya dari tempat tidur.

“kau membenciku?”, tanya Aggy tiba-tiba.

“he?”, Leda mengangkat wajahnya dan bibir Aggy mendadak mendarat di pipinya.

“tapi aku tidak perduli lagi dengan itu. kau pernah bilang tidak bisa membenciku kan? karena itu lebih berhati-hatilah sekarang”, Aggy sedikit menyunggingkan senyuman jahilnya. “thanks makanannya, Yu-to”

“……”

Leda tidak mengucapkan sepatah katapun sampai suara pintu apaato-nya ditutup dari luar terdengar di telinganya. Aggy telah menghilang dari sana dan Leda masih terdiam. Tubuhnya seakan membeku.

“Juri… kau benar-benar dendam denganku ya?”


@@@

Aggy memukul-mukul udara, menggigit bibir bawahnya menahan senyuman yang memaksa terkembang di wajahnya. Aggy tak bisa menahannya dan ia tersenyum sedikit menundukan kepalanya sambil mengusap-usap tengkuknya saat berjalan menuju apaato-nya.

“ekhm!”

Aggy mengangkat wajahnya, dan mendapati Kiyoharu berdiri di depan pintu apatonya. “kau lagi”, dengus Aggy. jujur saja Aggy merasa Kiyoharu sedikit mengganggu kesenangannya.

“tasmu”, Kiyoharu menyodorkan tas gendong Aggy di tangannya. “sekali lagi kau kabur, serius aku akan melaporkanmu pada Gakuto”

“terserah lah”, Aggy mengambil tasnya di tangan Kiyoharu cepat, dan segera membuka kunci pintu apatonya.

“kau dari tempat Leda?”, Kiyoharu mengernyitkan dahinya mengikuti Aggy masuk ke dalam apatonya.

“bukan urusanmu”, Aggy melemparkan kunci motornya ke atas meja dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. “bisa tidak…..kau pulang sekarang Kiyo? Aku sedang ingin merasa tentram sendiri”.

Kiyoharu menaikan satu alisnya melihat gelagat janggal dari anak sembrono itu. sungguh suatu hal yang ganjil melihat Aggy berkata padanya dengan senyum aneh seperti yang ia lihat sekarang. “kau benar-benar baru pulang dari tempat Leda ya?”

“Kubilang bukan urusanmu kan? sudah sana pergi, ah!”, Aggy menggerak-gerakan tangannya mengisyaratkan dia mengusir Kiyoharu..

“anak kurang ajar!”, Kiyoharu menjitak kepala Aggy spontan.

“tuh kan! kau itu penghilang mood!”

“belajarlah sopan sedikit pada orang yang lebih tua!”

“lebih tua? Bukannya sangat tua?”

Satu jitakan lagi Kiyoharu daratkan di kepala Aggy membuat anak  didik sembrononya itu mendengus kesal. Tapi rasa kesalnya pada Kiyoharu tidak mengalahkan rasa yang sedang ber-blooming-blooming ria dalam hatinya. Aggy sedang dalam keadaan termanisnya sekarang :v

@@@


‘ada apa? kau mengganggu tau’

“dia sudah kembali”

‘ha? benarkah? Haha…. Kupikir si brengsek itu kabur’

“lakukan itu secepatnya sebelum dia benar-benar kabur”

‘oi oi… Semua tergantung padamu, kau yang memegang ‘kuncinya’ dan ingat! aku bukan budakmu! Jaga nada bicaramu saat bicara denganku

“aku tahu. maaf, aku hanya sedikit bersemangat. Kau tahu kan? aku sudah menunggu ini sejak lama”

‘ck! aku tidak perduli dengan masa lalumu atau apapun itu, tapi aku mengerti soal ‘ semangat’ yang kau katakan. Itu juga sudah kutunggu sejak lama’

Trek.

Pemuda itu melemparkan ponselnya ke atas tempat tidurnya, sedikit meregangkan kedua tangannya kemudian kembali melirik kearah ponselnya , tersenyum sinis menatap benda itu yang kini tergeletak di permukaan kasur. Diraihnya kembali ponsel itu, terlihat mengetikan sesuatu.

Selamat malam dan Selamat datang kembali cantik….
Aku tidak akan membiarkanmu kabur lagi setelah ini.

Yu-to san…^_^


To@Be@Continued


Minyak angiiiin DXa saia ragu masukin kata minyak angin *plak*
Saia pribadi bener2 gak puas dengan ini, terutama scene Aggy Leda, sebelumnya saia sempet mikirin tapi hasil ini beda jauh sama pikiran saia sebelumnya v_v *akibat ditunda-tunda*, ada masalah sebelumnya yg coba saia selesaikan di sana tapi saia lupa apa itu, dan sebelumnya juga saia mikir scene itu harus lebih serius tapi jadinya nggak! DXa kedepannya pasti ada yang bolong. saia maksa ngerjain saat mood bener2 buruk! Jadi beginilah
m(_ _)m gomen…bener2 pengen cepet selesaaiiii…
Akan saia kerjakan chap selanjutnya secepatnya *bicara sama diri sendiri XD*

Sunday, 16 December 2012

Forbidden Fruit 13



Author : Rukira Matsunori
Rated : T++ (haha..)
Genre : AU/ romance/ school/ BL
Fandom: DELUHI.. *sisanya gak penting (plak)*
Pairing: AggyXLeda *gyaa~*
Chapter : 13
Warning : MalexMale!! *tumben warningnyo~~*
Summary : forbidden fruit is sweetest.... perasaanku padamu adalah sebuah dosa. Namun terasa begitu manis
Length : 17 pages (4.429  words)
Note : saia percepat ceritanya karena pengen cepet selesai…. Hho~~
disini ada potongan dari chap 12 (yang awal-awal) jadi yang seharusnya di situ TBC malah nggak, jadi kerasa ada yang aneh??? -_- *menurut saia*






“kampung halamannya?”, Kiyoharu sedikit kaget mendengar berita yang di bawa Kanon dan juga Aggy sepulang dari kediaman Leda.

“aku akan menyusulnya”, ucap Aggy tiba-tiba.

GPLAK!!

Sebuah buku kembali menyapa kepala Aggy. Dan Kanon yang melihatnya sedikit cengir karena sepertinya pukulan buku itu cukup menyakitkan jika dilakukan dengan penuh tenaga seperti yang baru saja ia lihat, “jangan bercanda kau! kau pikir Leda akan senang dengan kau melakukan itu hah?”

“aku tidak perduli!! Aku hanya ingin ia kembali ke sekolah ini seperti yang biasa ia lakukan!!”, Aggy mengucapkannya dengan suara yang cukup keras. Untung mereka tidak sedang berada di ruang guru. Melainkan di luar kelas.

“ck! kau pikir siapa dirimu bagi Leda…..Aggy?”, jujur saja Kiyoharu tidak ingin mengatakan itu tapi Kiyoharu hanya ingin agar Aggy tidak bertindak gegabah.

“lalu kau akan diam saja? Membiarkan muridmu menghilang tanpa kabar dan lenyap begitu saja tanpa berusaha kau bujuk kembali? dia pasti sedang berada dalam keadaan frustasinya, masa lalu yang membebaninya harus diungkit kembali di depan semua orang!”

Membebaninya?
Iya, Aggy bisa mengatakan itu karena ia bisa mengerti sekarang. tatapan-tatap yang memancar dari kedua matanya yang kadang Aggy tak mengerti. Kata-kata penyesalan yang kadang ia ucapkan yang selalu membuat Aggy mengernyitkan dahi. Itu pastilah sangat membebaninya.

Kiyoharu menghela nafas berat. “Aggy…cobalah berpikir positif sekali saja. Jangan menyimpulkan segala sesuatu berdasarkan rasa ketakutanmu! Mungkin saja ada sesuatu yang harus ia lakukan di sana. jika ia sedang dalam masa depresinya mungkin ia perlu menenangkan dirinya. Kita harus menghormati keputusannya”

“bagaimana kalau ia benar-benar tak kembali?”, Tanya Aggy lagi.

“sudah kubilang hormati keputusannya..”

“KIYO!!!!”, Aggy menarik kemeja Kiyoharu geram. Aggy sedikit kecewa dengan jawaban Kiyoharu yang ia harapkan dapat membuatnya merasa lebih tenang. “aku yang tidak bisa menghormati keputusannya! Aku tidak akan membiarkannya!!”, Aggy segera masuk ke dalam kelas dan seperti biasa menyeret tasnya untuk pulang lebih dulu daripada yang lain. Kiyoharu sama sekali tak mencegah Aggy ketika anak itu berjalan melewatinya untuk pulang.

“sensei…apa Aggy benar-benar bermaksud menyusul Leda-kun?”, Tanya Kanon sedikit ragu.

“hm…anak itu bisa melakukan apa saja yang ia mau. Tapi sebenarnya dia adalah anak yang penurut yang akan mendengarkan apa saja kata-kataku. Jadi kau tidak perlu khawatir..”, Kiyoharu mengusap-usap ujung kepala Kanon tersenyum, “ngomong-ngomong terimakasih sudah menggantikanku untuk mengunjungi kediaman Leda”

“ah tidak apa sei. Aku memang ingin melakukannya kan”

Kiyoharu tersenyum. “sudah mencoba menghubunginya lagi?”

“aku sudah beberapa kali mencobanya hari ini, tapi tetap tidak aktif”, ucap Kanon lesu. “sensei…benar-benar tidak apa-apa jika Leda-kun tidak kembali lagi?”

Kiyoharu kembali tersenyum menjawab pertanyaan siswi termanisnya itu. “dia murid terbaikku. Tentu saja aku akan merasa sangat kehilangan. tapi aku tahu semuanya Kanon-chan….Leda  tidak akan melakukan tindakan pengecut dan meninggalkan sekolah dengan cara seperti itu”


@@@


Aggy terus menghubungi nomor ponsel dengan nama Leda di kontaknya. Saat si operator menyelesaikan kata-katanya dengan akhiran bunyi ‘tut tut tut tut’  Aggy kembali menghubunginya dan terus seperti itu. Aggy mengabaikan rasa gugup atau perasaan apapun itu. Aggy hanya ingin mendengarkan suaranya.

“AYOLAH!!! AKTIFKAN!!!”, teriak Aggy pada ponselnya sendiri.


BRUGH!!

Aggy menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan menutupi kedua mata dengan sebelah telapak tangannya.

“kau pikir siapa dirimu bagi Leda…..Aggy?”

Dan kata-kata Kiyo itu seperti mengiang di telinga Aggy.

Siapa dirinya bagi Leda?

Aggy begitu tersiksa saat tak bisa melihatnya namun apakah Leda merasakan hal yang sama? Bahkan apakah dia mengingat Aggy sekarang?

Akankah Leda senang jika Aggy menjemputnya ke kota halamannya itu?

Memangnya aku siapa?


DUKH!!!

Aggy memukulkan sebelah tangannya ke permukaan kasur. Meringkukan tubuhnya yang sedikit bergetar. Aggy tak bisa membayangkan hari-harinya tanpa Leda. Ini seperti keadaan ketika Leda hendak dikeluarkan dari sekolah waktu itu terulang, namun ini lebih parah. Karena kemana ia pergi adalah tempat dimana Aggy sulit untuk menjangkaunya. Aggy selalu berharap hal seperti ini agar jangan pernah terjadi lagi, cukup sekali itu saja. Tapi kenapa?

Karena Aggy bukan siapa-siapa.

Seandainya saja Aggy adalah orang yang berharga untuknya. Dia pasti tidak akan menghilang tanpa kabar. Setidaknya dia akan memberitahu seseorang yang berharga untuknya kemana dan apa yang ia lakukan. Seandainya Aggy adalah seseorang yang berharga untuknya. Leda tidak akan pergi…
Dia tidak akan meninggalkan seseorang yang begitu berharga untuknya.

Namun Aggy bukanlah siapa-siapa.

“KUSSO!!!”


@@@


“Aggy tidak masuk lagi?”

“iya sei…”, Kanon membereskan buku-buku anak-anak sekelasnya yang baru saja ia bawa ke meja Kiyoharu menggantikan pekerjaan Leda. “sensei…bagaimana kalau Aggy benar-benar pergi ke Mie?”

“hmm….”


 @@@



Kiyoharu mengusap-usap rambutnya dengan handuk setelah keluar dari kamar mandi. Ia segera berjalan ke dapur dan membuka lemari es mencari makanan yang bisa dimakan. Cukup banyak makanan di sana tapi semua hanya mentahan. Perlu proses untuk membuat mereka bisa sampai ke perut Kiyoharu.

“err~~”, Kiyoharu menutup kembali lemari es-nya dan meraih ponselnya untuk memesan makanan dari luar. Namun ponselnya lebih dulu dihubungi seseorang rupanya, hingga terpaksa Kiyoharu harus menunda niatnya untuk menghubungi delivery service. “ya, Misa?”, Tanya Kiyoharu pada seseorang di line teleponnya.

‘Kiyo, apa Aggy bersamamu?’

“he? Tidak. Dia tidak di sini…ada apa?”

‘aku mencoba menghubunginya kemarin tapi dia tidak mengangkat teleponnya. Karena itu tadi aku datang ke apatonya tapi dia tidak ada di sana, aku baru saja pulang dari apatonya sekarang. apa Kiyo tahu kira-kira dia dimana?’

“hmm..sedang keluar mungkin? Bermain?”, Kiyoharu tidak yakin dengan jawabannya sendiri.

‘oh, iya, ya sudah. Maaf sudah mengganggumu Kiyo. Terimakasih ya, aku hanya sedikit mengkhawatirkannya’

“haha..tidak apa-apa. aku tahu”

‘kalau begitu selamat malam..’

“yap!”

Kiyoharu memanggil ke ponsel Aggy segera setelah sambungan dari Misa terputus. Namun ponsel Aggy benar saja tidak aktif, dan tadipun ia tak masuk sekolah untuk yang kedua harinya. Kiyoharu meletakan ponselnya di atas meja makan, tiba-tiba moodnya untuk memanggil delivery service lenyap.

“sensei….bagaimana kalau Aggy benar-benar pergi ke Mie?”

“apa yang dilakukan anak itu sebenarnya?”

@@@



“kau datang lagi anak muda?”

“hm? Oh iya”

“sudahlah anak muda! sepertinya dia tidak akan kembali. mungkin anak itu kabur karena tidak bisa membayar biaya sewa”

“apa?”

“sekarang sudah memasuki akhir bulan. Dan yang bulan lalupun dia belum membayarnya. Biasanya anak itu selalu membayar tepat waktu entah apa yang terjadi dengannya. Padahal aku tidak pernah memaksanya untuk segera membayar—“

“berapa biaya sewanya?”

“he? Kau mau membayarkan untuknya anak muda?”

“mungkin tidak seluruhnya, tapi kurasa aku bisa membayar untuk bulan sebelumnya?”


 @@@


“dia anak yang baik…semua orang di apartement ini mengenalnya sebagai anak yang selalu rajin berangkat sekolah dan bekerja. Dia juga selalu ramah pada semua orang. Semua orang disekitar sini menyukai anak itu.”

Aggy tertunduk dengan senyuman getir. Aggy tahu itu….di manapun ia berada, ia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Berbeda dengan Aggy.

“dia bekerja?”

“iya. Di mini market di pinggir jalan sana, yang di depan itu…kau tahu? kau akan bisa melihatnya sebelum sampai ke sini”, ibu pengurus apartemen itu menjelaskan.

“oh iya”, Aggy menganggukan kepalanya meski ia tak terlalu memperhatikan apa yang ada di sekitarnya saat ia menuju kemari.

“sepulang sekolah dia langsung standby di sana haha…anak itu benar-benar perlu diacungi jempol soal keuletannya”

Aggy sedikit menyunggingkan senyumannya atas perkataan ibu-ibu itu. hal yang jarang Aggy lakukan, namun ini adalah tentang ketua kelasnya. Aggy tersenyum karena ketua kelasnya. Aggy benar-benar merindukannya. Mendengar semua tentangnya semakin membuat Aggy semakin lemah. Aggy benar-benar ingin bertemu denganya sekarang juga.

“oh ya…sebelumnya tidak pernah ada seorang teman yang datang kemari untuk menemui anak itu, dia juga tidak pernah membawa teman sekolahnya. Tapi ngomong-ngomong Kau teman baiknya ya?”, Tanya ibu-ibu itu sedikit ragu melihat penampilan Aggy jika dibandingkan dengan Leda.

“he? I-iya…aku teman baiknya”

“ho…jarang sekali aku menemukan pertemanan seorang anak laki-laki seperti ini. sampai menungguinya setiap hari begini? Kalian berteman sudah sejak lama? Sepertinya hubungan kalian begitu dekat?”

“aa… i-iya kami sudah lama berteman. Dan kami cukup….dekat. iya kami cukup dekat”, Aggy sedikit gugup ditanyai seperti itu.

“khukhu…lalu sampai kapan kau akan terus menunggu anak itu di sini?”

“sampai dia kembali”

“khukhu…dasar anak muda! Ya sudah aku turun ke bawah ya…jangan sungkan kalau mau mampir ke tempatku!”

“i-iya”

Dan ibu-ibu pengurus apartemen itu pun pergi. Akhirnya Aggy bisa terbebas dari keamatirannya menghadapi seorang wanita usia lanjut yang agak ganjen. Aggy sedikit menghela nafas lalu menyandarkan tubuhnya di dinding di samping pintu apato ketua kelasnya. ini adalah hari kedua Aggy datang untuk menunggui Leda di sana. sedikit konyol tapi jika memang Leda berniat untuk tak kembali ke sekolah dan memutuskan untuk kembali menetap di kampung halamannya, Aggy berharap ada keajaiban, seperti ia ketinggalan salah satu barang berharganya di apato ini hingga Leda kembali lagi untuk mengambilnya.

Perlahan tubuh Aggy merosot dan ia terduduk di lantai. Aggy melentangkan satu kaki dan menekuk kaki lainnya untuk menjadi tumpuan lengan dan kepalanya yang ia sandarkan di sana.

Aggy benar-benar dalam keadaan lemah. Jika ia tak bisa lagi melihat ketua kelasnya. maka Aggy benar-benar akan mati.

Aggy tak bisa tanpa senyuman itu. Aggy tak bisa tanpa kebaikan itu.

Dan saat ingatannya tentang bagaimana ia memperlakukan ketua kelasnya itu kasar di tangga atap terlintas. Rasa sakit yang menyayat menyapa dada Aggy. Jika ini adalah hukuman atas perlakuannya waktu itu maka Aggy sangat menyesalinya. Aggy menyesali semua yang telah ia lakukan pada Leda. Jika karena itu takdir membuat Leda pergi darinya maka Aggy ingin mengulang waktu ke saat dimana ia tak bisa mengendalikan dirinya. Aggy merasa lebih baik jika Leda menjadi kekasih sekertarisnya tapi takdir mengizinkan Aggy untuk tetap bisa melihatnya di sekolah, membiarkan ia tersenyum pada Aggy dan menyapanya. Sudah terlambatkan jika Aggy berharap itu sekarang?


@@@


Gruuk!

Aggy memegangi perutnya sambil berjalan menuju apatonya. Sudah 2 hari ini ia makan dengan cuma sarapan pagi saja, itupun hanya sepotong roti. Tapi Aggy memang gak nafsu makan akhir-akhir ini. tapi sepertinya sekarang ia harus memaksakan nasi-nasi itu masuk ke perutnya kalau tidak, ia tak akan punya kekuatan mengendarai motornya besok untuk kembali ke apato ketua kelasnya.

“ekhm!”

Aggy menghentikan langkahnya sejenak saat tiba-tiba melihat Kiyoharu sudah bersandar di depan apatonya memperhatikan. “cis! Mau apa kau kemari?”, Tanya Aggy ketus sambil melewati Kiyoharu lalu membuka kunci pintu apatonya.

“jam 12 malam…seorang pelajar baru pulang ke rumahnya. Mentang-mentang kau tidak hidup dengan orang tuamu kelakuanmu selalu seenaknya ya”. ceramah Kiyoharu sambil memasuki apato Aggy mengikuti anak muda itu.

“bukan urusanmu!”, dengus Aggy sambil melemparkan jaketnya ke sandaran sofa.

“kemana kau tidak masuk selama dua hari ini?”

“males”

“lalu dari mana saja kau baru pulang jam segini?”

Aggy benar-benar merasa kalau Kiyoharu bertingkah seperti seorang ibu tapi jika itu adalah dia, itu menjengkelkan sekali. “sudah kubilang bukan urusanmu!”

“kau masih suka ng-trek dengan anak-anak jalanan itu? Aggy…aku pernah mengatakannya padamu. Jika itu hobimu aku tidak melarang kau melakukannya tapi kau tidak harus melakukannya setiap hari kan? Hanya sekedar hobi, lakukan saja disaat waktu senggang. Kalau sampai ayahmu tahu hal ini kau tahu apa yang akan terjadi?”

“berisik sekali kau! aku mau tidur!”, Aggy menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, membalik tubuhnya membelakangi Kiyoharu. Meski perutnya terasa begitu lapar tapi Aggy benar-benar kehilangan mood untuk makan gara-gara ceramah laki-laki sok keibuan itu. ini bukan tentang hal seperti itu, Aggy merasa Kiyoharu tak akan mengerti perasaannya.

Kiyoharu memukulkan sebuah guling ke tubuh Aggy agar ia tetap bangun dan mendengarkannya namun Aggy benar-benar kelelahan tampaknya hingga ia tidak bergerak sama sekali dengan pukulan-pukulan guling Kiyoharu di tubuhnya. Alam mimpi lebih menarik bagi Aggy daripada mendengarkan cerocosan laki-laki itu. “anak ini”, Kiyoharu mendengus jengkel.


@@@


Aggy memasukan sepotong roti ke mulutnya, memakai sepatu dan menarik jaket levis hitamnya. Tidak lupa ia mengambil kunci motornya di atas meja dan segera menuju ke luar apatonya. Namun lagi-lagi Kiyoharu memunculkan dirinya di hadapan Aggy tepat berdiri di depan pintu apatonya menyeringai.

“rapi sekali, mau kemana kau pagi-pagi?”

“ergh!!!!”


@@@


Aggy menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku dengan wajah super duper SEBALLL melihat Kiyoharu menerangkan di depan kelas. Aggy mengacak-acak rambutnya sendiri lalu meletakan kepalanya di atas meja belajarnya sambil menghela nafas panjang.

Kiyoharu berhasil menyeretnya ke sekolah meski Aggy berusaha menolak. Bahkan ia menggantikan baju Aggy dengan seragam tadi pagi dan itu sangat mengesalkan bagi Aggy. dan di sinilah ia sekarang. ruang kelas tanpa Leda. Dan itu sangat membosankan sampai rasanya mau mati.

Aggy lebih ingin menungguinya di tempat itu. itu terasa lebih berguna daripada terdampar di tempat menyebalkan ini.

Gruuk!

Aggy mengusap-usap perutnya yang kembali terasa lapar. Ia hanya memasukan setengah potong roti pagi ini karena melihat Kiyoharu lagi-lagi membuatnya gak mood makan.

Sementara Aggy asik memegangi perut keroncongannya sambil tiduran di atas meja belajarnya, Kiyoharu memperhatikannya dengan jengkel di depan kelas sana.

@

@

@


Aggy mencoret-coret bukunya di atas meja. Entah kenapa kepalanya terasa berat dipenuhi sesuatu yang bahkan Aggy tak mengerti apa itu. tangannya terus menerus menggoreskan sembarang garis kusut di atas kertas putih di bawah tangannya.

“apa yang kau lakukan?”

Ah, Suara ini…

Tiba-tiba Aggy mendengar sebuah suara yang sudah beberapa hari ini Aggy rindukan terdengar begitu dekat dengannya. Aggy segera mengangkat wajahnya dan orang itu berdiri tepat di samping bangkunya seperti memperhatikan coretan-coretan di buku Aggy.

Aggy begitu senang. Ketua kelasnya benar-benar ada di hadapannya. Begitu banyak pertanyaan yang ingin Aggy lontarkan, kenapa ia menghilang selama beberapa hari ini? bagaimana perasaannya ketika pergi meninggalkan kelas ini hari itu? untuk apa pergi ke kota halamannya? Aggy bisa melihat dia berdiri tepat beberapa senti di samping mejanya, Aggy bisa meraih tubuh itu dan Aggy ingin melakukannya. Aggy ingin menarik tubuh itu ke dekapannya. Aggy ingin tahu semua masa lalu yang tak Aggy ketahui tentangnya.

“sebenarnya apa yang ada di otakmu itu hah?”

DEG!!

Aggy sedikit melebarkan matanya saat tangan itu mendorong kepala Aggy. Aggy melihat Leda mengambil bukunya yang entah sejak kapan coretan-coretan yang tadi ia goreskan berubah menjadi sebuah nama ‘Yu-to’. Dan Leda menyobek-nyobeknya menjatuhkan sobekan-sobekan itu di atas kepala Aggy.
Entah kenapa tubuh Aggy tetap diam Leda memperlakukanya seperti itu. yang membuat Aggy lebih terkejut adalah…. ada sedikit perasaan senang di sudut hatinya dengan perlakuan Leda terhadapnya.

“sinting!”, ucap Leda dingin lalu ia pergi meninggalkan bangku Aggy .

Aggy seperti membatu di tempatnya duduk, ia dapat melihat ekspresi itu….ekspresi yang Leda tunjukan padanya baru saja bukanlah ekspresi yang selalu terpahat di wajahnya. Dan kata-katanya…. kelakuannya….
Tapi sekali lagi Aggy terkejut bibirnya malah mengembang tipis melihat punggung itu yang semakin lama semakin menjauh darinya.

Apa ini?....

Beberapa saat kemudian atmosfer di kelas itu berubah dan Aggy dapat melihat ketua kelasnya tepat berada di hadapannya. 

Aggy sedikit tersentak saat Leda menarik kerah seragamnya, membuat wajahnya begitu dekat dengan wajah Aggy.

Apa yang…

“Yu-to san…”

Aggy kembali melebarkan matanya. Suara yang keluar dari tenggorokanya bukanlah suaranya. Dan nama yang baru saja ia sebut bukanlah nama yang otak Aggy pikirkan untuk ia panggil dengan mulutnya.

“kau menginginkanku he? Apa yang kau inginkan dariku? apa yang bisa kau lakukan denganku? Kau mau bercinta denganku? Katakan!”

Entah kenapa kata-kata Leda terasa begitu menusuk hati Aggy. ia ingin tahu apa maksudnya ini. Leda berada tepat di depan matanya tapi Aggy tak bisa melakukan apa-apa untuk sekedar membalas perkataannya. ini terasa begitu menyiksa. Aggy ingin keluar dari suasana menyebalkan ini.

“maaf…”

“mati saja kau!!”

Sakit…


BLETAK!!!

“ugh!!”, Aggy mengusap-usap kepalanya yang mendadak terasa begitu nyut-nyut, namun kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya.

“bangun kau!”, Kiyoharu menjewer telinga Aggy membuat kesadaran Aggy akhirnya kembali ke tempatnya, se-lu-ruh-nya. “enak sekali hidupmu ini, kerjanya Cuma bermalas-malasan, sementara teman-temanmu belajar dengan sungguh-sungguh”

“cis!”, Aggy menyingkirkan tangan Kiyoharu dari telinganya mendengus.

“tidur lagi! Dan aku akan memberimu tempat VIP untuk mendengarkan penjelasanku dengan berdiri di depan kelas, biar kau lebih jelas mendengarnya. Duduk di belakang mungkin hanya membuat suaraku terdengar seperti nina bobo bagimu ya?”, cerocos Kiyoharu.

“aku tahu!”, Aggy menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku dan memalingkan wajahnya kesal dengan Kiyoharu.

“baiklah anak-anak kita lanjutkan lagi bla bla bla bla bla…..”, Kiyoharu kembali berjalan ke depan kelas setelah sebelumnya menjitak kepala Aggy supaya rasa ngantuknya benar-benar hilang.

Aggy kembali mendengus sambil menatap keluar jendela tak berminat sedikitpun mendengarkan Kiyoharu menjelaskan pelajarannya di depan kelas sana. Aggy masih berpikir tentang mimpi aneh yang baru saja ia alami tentang Leda-nya. Dan Aggy benar-benar bersyukur karena itu hanyalah sebuah mimpi. Sikaf dan perkataan Leda dalam mimpinya benar-benar jauh dari image yang selalu Aggy kagumi darinya. Apakah  itu Leda ketika dulu? saat Aggy belum bertemu dengannya? Mungkin Aggy terlalu memikirkan masa lalu Leda, bukan Aggy ingin tahu keburukannya. Aggy hanya ingin tahu semua tentangnya.

Dan nama ‘Yu-to’ yang entah kenapa muncul dalam mimpinya. Nama siapa itu?
Tapi Aggy seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya.

Yu-to…

“mungkin kau punya semacam pheromone memikat hati sesama jenismu Yu-to..”

“baiklah…sampai jumpa Yu-to, ayo bertemu diam-diam lagi kapan-kapan”

Orang itu…

Aggy ingat…
Murid baru itu memanggil Leda dengan sebutan Yu-to. Ada sedikit perasaan penasaran yang menyapa pikiran Aggy waktu itu, kenapa orang itu memanggil Leda dengan nama Yu-to? Apa itu semacam nama imut(?)nya ketika dulu? Aggy ingin tahu. tapi rasa penasaran itu terkalahkan jauh dengan rasa penasaran Aggy mengenai siapa orang itu bagi ketua kelasnya? bagaimana ia menyentuh Leda-nya. Hingga pertanyaan tentang nama Yu-to akhirnya tidak Aggy ungkit lagi.

Tapi apa maksud dari mimpi itu sebenarnya?
Aggy seperti menjadi orang lain dalam mimpinya yang Aggy tidak tahu siapa itu.

Jika Aggy diperlakukan seperti dalam mimpi itu oleh ketua kelasnya dalam dunia nyata. Yang jelas Aggy tak akan hanya tinggal diam dan perasaan menyakitkan apa itu? yang begitu menyesakkan di dada Aggy dalam mimpinya. Jika seperti itu, itu hanya akan membuat orang bejad seperti Aggy menggila dan mungkin memperkosa Leda saat itu juga wkwkwwk!!!

Tapi siapa orang yang hanya diam saja dengan perlakuan seperti itu yang menjadi diri Aggy dalam mimpinya?


KRIIIIIIIIIING!!!!!


Semua anak-anak dalam kelas Aggy memasukkan semua alat-alat tulis mereka ke dalam tasnya dan ada juga beberapa dari mereka yang langsung melesat keluar kelas menuju kantin untuk memenuhi panggilan-panggilan perut mereka. Sementara Aggy masih menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil menerawang ke luar jendela. Kanon sempat melirik Aggy dan ia hanya menghela nafas karena sepertinya ia tahu apa yang sedang Aggy pikirkan dan dia merasa sedikit kecewa karena dia bukanlah satu-satunya orang yang begitu mengkhawatirkan Leda di kelas ini bahkan Kanon mulai merasa kekhawatirannya tidaklah sebesar kekhawatiran Aggy.

“aku tahu apa yang dia pikirkan”, ucap Sujk tiba-tiba di depan bangku Kanon sambil melihat kearah Aggy, dan senyuman tipis namun terlihat begitu dipaksakan tergurat di bibir Sujk.

“apa yang kau tahu Sujk-kun?”, Tanya Kanon mengernyitkan dahinya.

“dia memikirkan Leda-san bukan?”

“he?”, Kanon sedikit terkejut, entah kenapa lagi-lagi dia kecewa karena ternyata bukan hanya dia di kelas ini yang tahu apa yang ada dipikiran Aggy. “Su-Sujk..kun, kau—“

“ahaha… aku hanya menebak-nebak. Habisnya kupikir di kelas ini hanya Leda-san yang selalu memperlakukannya biasa seperti  bagaimana ia memperlakukan yang lainnya. Karena itu pasti ia merasa kesepian saat Leda san tidak ada, iya kan?”

“eh..i-iya”, Kanon menggaruk-garuk pipi bagian bawahnya.

“ano..Wakeshima-san pernah menghubungi Leda-san?”

“he? Iya, aku sering melakukannya. Tapi selalu tidak aktif. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Aku sangat khawatir….ah Sujk-kun pernah melakukannya?”

Sujk mengangguk-anggukan kepalanya. “sama seperti Wakeshima-san, selalu tidak aktif sepertinya, aku harap dia baik-baik saja. aku tidak berharap Leda-san keluar sekolah secepat ini”

“HE??!!!”, Kanon refleks memukul lengan Sujk, “siapa yang mengatakan Leda-kun keluar sekolah?!”

“oh hahah maaf maksudku bukan—“, mendadak Sujk merasakan sebuah tatapan tajam tiba-tiba menjurus padanya. Sujk sedikit ragu tapi ia melirik kembali kearah Aggy, dan benar saja. Aggy sudah menatapnya dengan tatapan yang menakutkan karena sepertinya ia ikut mendengarkan pembicaraan Sujk dan Kanon. jika Aggy sudah mendengar nama Leda-nya disebut maka tidak akan Aggy biarkan pembicaraan itu terlewat untuk terekam di pendengarannya.

“ka-kalau begitu aku ke kantin. Wakeshima-san?”

“hm?”, Kanon agak heran dengan perubahan sikap Sujk yang tiba-tiba, “ Oh iya aku juga”

Dan kedua orang itupun keluar kelas. Tinggal Aggy seorang diri di sana. di bangkunya.

Dengan suasana kelas yang sepi. hanya membuat Aggy semakin merindukan seseorang untuk menghilangkan perasaan yang Aggy rasakan mulai mendingin lagi akhir-akhir ini. Aggy ingat saat ia memperhatikan ketua kelasnya dari pantulan kaca di sampingnya. Memperhatikannya tanpa sang objek sadari. Dan saat mata mereka bertemu pandang di sana Aggy benar-benar dibuat lemah, tapi Aggy menyukai itu. Aggy ingin saat –saat seperti itu kembali.

Dimana?...



GREK!!

Tiba-tiba ada sesuatu di luar sana yang menyita perhatian Aggy. seseorang yang Aggy lihat sedang berjalan bersama Satoshi dan teman-temannya.

Tatapan mata Aggy manguat manatap orang itu. Aggy segera keluar dari bangkunya dan keluar kelas dengan langkah cepat bahkan hampir menabrak Sujk yang hendak masuk kelas.

“ah Aggy-sa—“

Aggy mengabaikan Sujk dan melanjutkan langkah cepatnya.

“Kiyo-sensei memanggilmu!!”, Sujk setengah berteriak karena Aggy sudah berjalan lumayan jauh. Namun Aggy terlihat tak memberikan respon apapun. Sekarang pikirannya hanya tertuju agar segera bisa berhadapan dengan orang itu dan menanyakan banyak pertanyaan padanya. Tentang seperti apa hubungannya dengan Leda dulu? Dari caranya bicara waktu itu, Aggy merasa dia bukanlah orang yang mempunyai hubungan baik dengan Leda. Dan benarkah dia yang menyebarkan berita masa lalu Leda? Aggy ingin tahu itu.

“a-ano Aggy-san!! Kiyo-sensei bilang Leda-san mengiriminya pesan!!”, teriak Sujk sekali lagi.

“……”


@@@


“arigatou”

“ya ya ya…kalau bukan kau pasti sudah dipecat. Jangan lakukan lagi ! kami juga khawatir”

“haihai..ahahah maaf maaf”, Leda membungkuk-bungkukan badannya meminta maaf pada seorang senior di tempat kerjanya.

“ya sudah, nanti sore kau mulai kerja lagi ! tapi tidak ada libur untukmu dua minggu ini, sebagai hukuman”

“baiklah…”, Leda menggaruk-garuk belakang kepalanya sedikit keberatan. Tapi mau bagaimana lagi, itu lebih baik daripada dia dipecat.

Leda menuruni beberapa anak tangga keluar dari tempat kerja sambilannya sambil menjinjing sekantung makanan di sebelah tangannya sedangkan tangan yang lainnya asik memegangi ponsel yang sudah ia tempelkan di telinganya.

“aku tidak dipecat”

‘syukurlah’

“sudahlah paman, jangan khawatirkan tentang aku. jaga saja kesehatan paman aku ingin paman benar-benar sembuh”

‘aku sudah sembuh’

“kau belum benar-benar sembuh! Memang seharusnya aku tidak dulu pulang”

‘jangan ngawur. Kau bisa dikeluarkan dari sekolahmu! Kau yang jangan terlalu mengkhawatirkanku, konsentrasi saja dengan sekolahmu’

Leda menghela nafas berat, “baiklah…”, jika dia tidak mengatakan itu, pamannya hanya tidak akan berhenti bicara sedangkan dia belum benar-benar sembuh dari sakitnya. “paman sebaiknya istirahat saja. oh ya jangan lupa minum obat. Aku tutup ya”

“he? Oh, ya…ya sudah”

Leda sedikit tersenyum lalu memutuskan line teleponnya.
Leda benar-benar ketakutan saat rekan kerja pamannya menelponya hari itu, dan mengatakan kalau penyakit pamannya kembali kambuh dan dilarikan ke rumah sakit. Pikiran Leda seperti kosong. Bahkan Leda sempat berpikir akan terus menemaninya di sana agar tak terjadi hal seperti itu lagi pada pamannya, Leda ingin terus menjaganya. Tapi paman Leda menolak. Dia ingin Leda tetap melanjutkan sekolahnya dan tidak menyia-nyiakan masa mudanya hanya untuk menjaganya.

“Leda-chan! Kau sudah pulang?”, seorang ibu-ibu tiba-tiba menyapa Leda.

“oh, iya haha…”, maklum Leda sangat terkenal dikalangan ibu-ibu, bekerja di mini market tentu banyak ibu-ibu yang ia temui berbelanja di sana.

“kemana saja—“

“Kyaaaaaaaaa!!!!”

Leda dan ibu-ibu itu sontak menoleh kearah suara perempuan yang tiba-tiba berteriak tidak jauh beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Dan Leda bisa melihat sebuah motor sudah terguling di pinggir jalan dekat sebuah tiang listrik. Dan seseorang yang mengendarai motor itu tergeletak di tanah meski agak jauh dari tempat Leda tapi Leda bisa mengenali seragam sekolah yang dipakai orang itu.

Dan dalam beberapa saat orang-orang sudah berdatangan mengerumuni orang itu. Leda segera berlari kearah kerumunan mencoba melihatnya.

“tiba-tiba saja menabrakkan motornya ke tiang listrik”

“apa dia tidak apa-apa?”

“mungkin mabuk”

“permisi”, Leda menerobos mencoba melihat siapa si pengendara motor itu yang setelah melihat motornya dengan jelas Leda semakin yakin kalau ia memang mengenal siapa pemiliknya.

“Aggy?”

“eh? Leda-chan? Kau mengenalnya?”, Tanya seorang ibu-ibu lain di samping Leda.

“iya, dia teman sekelasku. permisi”, Leda semakin menerobos masuk mendekati Aggy yang sedang berusaha seseorang bangunkan. Tidak ada darah yang tercecer di tanah dan kerusakan pada motornyapun tidak parah. Sepertinya Aggy sedang menjalankan motornya dengan pelan. “permisi, dia temanku”


@@@


Aggy membuka matanya yang terasa berat dengan perlahan. Ia bisa menghirup aroma yang menenangkan di sekelilingnya. Dan apatonya tidaklah mempunyai aroma seperti itu. sampai mata Aggy benar-benar bisa terbuka sempurna dan yang ia lihat adalah sebuah atap yang berbeda dari atap apato miliknya, lebih rendah dan sedikit tidak terawat sepertinya.

Aggy berusaha membangunkan tubuhnya yang terasa begitu lemah, dan ia bisa melihat ruangan yang sedikit lebih berantakan dari tempat tinggalnya sendiri.

Dimana ini?

Aggy berusaha mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Yang ia ingat adalah…
Kiyoharu mengatakan kalau Leda telah pulang, lalu tanpa pikir panjang Aggy langsung berlari mengendarai motornya dengan kecepatan penuh, namun saat ia hampir sampai, Aggy memelankan laju motornya karena mendadak tubuhnya seperti kehilangan tenaga dan keringat dingin seperti mengucur di pelipisnya.

Dan Aggy tidak ingat apa-apa lagi.

“…..”

“Aggy? sudah sadar?”

DEG!!

Aggy sedikit melebarkan matanya tak buru-buru menoleh. Ia hanya berpikir apa dia DI DALAM APATO LEDA sekarang?

“maaf tempatku sedikit berantakan. Aku tidak sempat membereskannya haha…kau tidak apa-apa Aggy? orang-orang bilang kau tidak terluka jadi tidak perlu membawamu ke rumah sakit. Sepertinya kau mengendarai motormu dengan perut kosong? Mungkin kau masuk angin”, Leda berdiri di samping tempat tidurnya dengan sepiring makanan dan air minum di kedua tangannya. “oh ya, sebaiknya kau makan sesuatu biar tubuhmu lebih bertenaga”, Leda menyodorkan makanan di tangan kirinya pada Aggy, “oh! Sebaiknya kau minum lebih dulu ahaha”, Leda kembali menarik tangan kirinya dan menyodorkan tangan kanannya yang memegang air putih.

“…..”

Leda menaikan sebelah alisnya, Aggy sama sekali tak meresponnya.

“apa tenagamu benar-benar habis hanya untuk mengambil secangkir gelas?”, Tanya Leda sedikit kesal namun ia berusaha tersenyum.

Tiba-tiba Aggy mengambil gelas di tangan Leda dengan sedikit bernafsu dan meminumnya dalam sekali teguk membuat Leda sweatdrop. “ahaha.. kalau begitu makanan?”, tawar Leda. Aggy kembali tak meresponnya.

Leda lalu meletakkan makanannya di samping Aggy, “mungkin kau malu jika memakannya di depanku hha…”, canda Leda garing, namun itu tidak garing buat Aggy. “oh aku tidak tahu Aggy suka lewat ke jalan ini…”

“…..”

“aku tidak pernah melihat sebelumnya..”

“…..”

Leda menghela nafas. Sepertinya percuma saja basa-basi nanya ini itu tapi orang yang ditanya diam seperti batu. “baiklah kalau begitu aku keluar, jangan sungkan untuk memakan makanan itu”, Leda sedikit tersenyum kecil lalu beranjak hendak meninggalkan Aggy namun belum satu langkah tubuhnya menjauhi tempat tidurnya, Aggy tiba-tiba menarik tangannya.

“aku masih punya tenaga tanpa makananmu”

“he? Oh? baguslah hha…”

“bagus?”

“iya, bagus”

Aggy segera menarik dengan kuat tangan ketua kelasnya itu membuat Leda melebarkan kedua matanya.

Leda…

Memasukan macan yang kelaparan dan masih bertenaga untuk memburu mangsanya ke rumah itu tidaklah bagus.


to@be@continued



yaaaaaa!! Aggy kelaparan kan? XD selama seminggu tidak bertemu Leda pasti Aggy sangat ‘kelaparan’ *dijambak*

entahlah di chap 15 atau 16 atau 17 atau 18 selesainya wakak~ *ditaplek* yang jelas!! Saia berterimakasih untuk semua yang mau baca sampai selesai nanti. \(^o^)/ arigatou!!! Yang gak mau gak apa-apa *plak*