Search + histats

Sunday, 28 September 2014

Tiger Eyes ※6A

Author: RuKira Matsunori
Chapter: 6A/6
Genre: AU // Romance // Drama
Rating: R 
Fandom: Alicenine
Pairing: Tora / Saga.
Warning: Male x Male!
A/N: Maaf untuk ke-telat-annya xD minggu kemarin ada sedikit 'masalah' yang bikin saia gak mood ngetik. Oh ya part B-nya nanti malam ya xD *plakk*




Sunday, 14 September 2014

Tiger Eyes ※5B

Author: RuKira Matsunori
Chapter: 5B/6
Genre: AU // Romance // Drama
Rating: R
Fandom: Alicenine
Pairing: Tora / Saga.
Warning: Male x Male! 
A/N: -




Tiger Eyes ※5A

Author: RuKira Matsunori
Chapter: 5A/6
Genre: AU // Romance // Drama
Rating: R 
Fandom: Alicenine
Pairing: Tora / Saga.
Warning: Male x Male! 
A/N: -



Saturday, 6 September 2014

Tiger Eyes ※3

Author: RuKira Matsunori
Chapter: 3/?
Genre: AU // Romance // Drama
Rating: R 
Fandom: Alicenine
Pairing: Tora / Saga.
Warning: Bahasa! Male x Male
A/N: err~ walau masalah kerjaan numpuk tapi! ternyata saia berhasil menyelesaikan ini sesuai deadline wkwkwk 



×÷~虎の瞳~÷×

“Aku tidak mau ikut dengan paman dan bibi cantik itu! Takashi?” Shinji kecil mengguncang-guncang tubuhku.

Eh, apa?
Ini... adalah sehari sebelum kedua suami istri itu membawa Shinji dari panti asuhan. Aku masih ingat bagaimana dia menangis sambil mengguncang tubuhku, tapi aku malah mendorong tubuhnya saat itu dan mengatakan kalau dia cengeng dan manja. Shinji mengatakan dia akan ikut hanya jika aku juga mau ikut bersamanya.

Waktu itu aku benar-benar kesal. Kenapa dia begitu bodoh tidak ingin diadopsi suami istri kaya raya itu, padahal aku iri dengan keberuntungannya. Dan jika memang suami istri itu ingin aku ikut dengan mereka aku tidak akan menolaknya tapi mereka hanya meminta Shinji dan anak itu tidak bisa seenaknya mengatakan agar aku ikut juga. Aku tidak mengerti kenapa dia ingin aku ikut, padahal selama dia di panti asuhan aku hanya selalu mengejek dan membuatnya menangis. 

Kenapa aku baru teringat itu sekarang?

“Takashi !” Aku merasakan tubuhku masih diguncang-guncangnya. Shinji kecil menatapku dengan penuh harap, dengan kedua matanya itu dia seakan memohon aku mengatakan sesuatu.

Apa ini? 
Mimpi?

Jika dulu aku mendorong tubuhnya dan mengatainya cengeng dan manja, tapi karena ini adalah mimpi .... Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kukatakan? Apa yang sebenarnya kuinginkan?

“Kalau begitu, ya jangan pergi!” 

Eh, aku mengatakan itu?

“Apa Takashi ingin aku tetap tinggal di sini?” tanyanya terlihat begitu senang.
“Ya, tetaplah di sini. Dengan begitu aku bisa mengejekmu sepuasku.” 

Oh, itu kata-kata yang terdengar masuk akal untuk keluar dari mulutku ketika kecil dulu. Aku cukup ceplas-ceplos dan terkesan tidak berpikir dulu sebelum bicara.

“Aku tidak keberatan selama itu artinya aku masih bisa bersama Takashi,” Shinji tersenyum dan aku lihat dia berjinjit dan mengecup keningku, pipiku, hidungku...

Tunggu!
Shinji tidak mungkin berani melakukan hal seperti itu padaku!
Mimpi macam apa ini?!

“Shinji! Apa yang kau lakukan?” Aku mendorong wajahnya dan saat berhasil, aku sedikit terkejut karena Shinji di hadapanku sekarang telah berubah menjadi Shinji dewasa.

“Bangun.” Adalah kata yang keluar dari mulutnya.

He?

“BANGUN!!!” 

Aku membuka mataku dengan sedikit dengungan di telinga dan melihat Shinji dewasa sudah berdiri di samping tempat tidur. Oh ya, aku bermalam di apartmentnya semalam.
Aku mendudukan diriku dengan sedikit susah payah karena perutku masih terasa sakit begitupun seluruh wajahku.

Aku melirik Shinji yang masih berdiri di samping tempat tidur dengan ponsel di satu tangannya dan dengan wajah yang tidak cerah sama sekali, dia terlihat jengkel. Sepertinya aku sulit untuk dibangunkan dan dia kesal dengan itu. 

“Cepat bereskan dirimu dan pergi dari sini!” 

Hah?
Apa dia baru saja mengusirku?

“Hei, Shinji—” 
“Jangan panggil aku Shinji! Aku sudah membuang nama itu sejak lama,” ucapnya dingin.
“Apa? Tapi—” 
“CEPATLAH!” 

Aku memegangi perutku yang mendadak terasa begitu sakit. “Aku benar-benar tidak mengerti kau!” Aku mendelik ke arah laki-laki raven itu sambil menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhku dan turun dari atas tempat tidur.

Semalam dia minta maaf padaku dan bersikap begitu lembut, dia bahkan merawat lukaku. Kupikir dia akan bersikap seperti itu untuk seterusnya, tapi seakan-akan dia berjalan saat tidur dan saat ia bangun sifatnya kembali berubah. Atau dia sedang mabuk atau apa? Dia yang memaksaku ikut ke tempatnya dan sekarang dia mengusirku. Serius! Aku tidak mengerti orang satu ini sama sekali!

Meski sedikit risih tapi aku meminta izin untuk ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum pulang. Amano mengizinkanku namun wajahnya terlihat tidak nyaman seakan dia ingin aku cepat pergi dari tempatnya. Aku buang air kecil, membasuh muka dan menggosok gigi dengan cepat, tidak perduli dia mengizinkanku atau tidak untuk meminjam sikat giginya, aku tidak minta izin untuk itu.

“Aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu itu. Tapi terimakasih sudah mengizinkanku tidur di kasur empukmu.” Aku meraih tasku.
“Tidak masalah,” jawabnya dingin, “Ada sedikit roti untuk sarapan di atas meja makan, dan kalau kau sudah selesai, cepat pergi!” 
“Tidak perlu, kau ingin aku cepat pergi kan?” 
“—Ya.” 
“Aku pergi sekarang.” 

Aku mengepal satu tanganku berjalan ke arah pintu.
Bodoh sekali aku sempat berpikir Shinji yang dulu telah kembali. Mungkin memang sudah tidak mungkin. Benar apa katanya, aku juga hidup di saat ini dan tidak seharusnya aku terus berharap pada masa lalu. Shinji kecil dulu adalah masa lalu, dan aku harus bisa membiasakan diri dengan perubahannya saat ini.

Aku membuka pintu apartmentnya untuk keluar namun aku melihat seorang wanita di luar sana yang juga terlihat bermaksud untuk membuka pintu namun sepertinya aku lebih dulu melakukannya.

“Eh?” 

Wanita itu menatapku, terlihat sedikit terkejut aku keluar dari apartment Sh— Amano! Namun kemudian ia tersenyum dengan anggun meski terkesan tegas.

Bisa kukatakan waktu muda dulu wanita di hadapanku ini pasti sangat cantik. Karena saat ini pun dia masih terlihat cantik. Dan sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat. 

Tunggu!

“Selamat pagi,” sapanya.
“Eh, oh. Selamat pagi.” 
“Kaasan!” Aku mendengar Amano di belakangku.

Oh. Aku ingat sekarang. Aku melihatnya ketika menjemput Shinji di panti asuhan dulu untuk ikut bersamanya. Ya, dia ibu angkat Shinji. 
Dan yang mengejutkan, wajahnya sama sekali tidak berubah sejak 14tahun yang lalu. Dia masih terlihat sama, memangnya berapa usianya sekarang? Shinji yang dia angkat ketika berusia 6 tahun saja sekarang sudah 20 tahun. Tentu dia sudah lebih dari kepala 3 atau bahkan mungkin kepala 4 atau jangan-jangan 5? Tapi jika seseorang mengatakan dia berusia 30 atau bahkan 27 tahunpun aku percaya.

“Tora tidak biasanya membawa seorang teman ke tempatnya. Kau pastilah teman baiknya?” 
“Oh, aku—” 
“Siapa namamu anak muda?” tanyanya ramah.
“Aku, namaku Sakamoto Ta—” 
“Saga!” 

Aku menoleh pada Amano yang sudah berdiri di sampingku. “Namanya Sakamoto Saga!” 

Apa-apan dia? 
Aku memang suka orang memanggilku Saga, tapi nama di ijazah dan KTP ku tetap Takashi.

“Sakamoto... Saga?” Wanita itu semakin melebarkan senyumnya, “senang bertemu denganmu Sakamoto-kun. Terimakasih sudah menjadi teman baik Tora.” Ucapnya.
“Tidak, aku—” 
“Baru satu bulan di sini, kau sudah mendapatkan teman dekat. Apa sebentar lagi kau juga akan mengenalkan seorang perempuan pada ibu, Tora?” Wanita itu sedikit tertawa kecil. Dia sedang bercanda dengan anaknya. “Kau baik-baik saja Sakamoto-kun? Sepertinya wajahmu memar-memar?” tanyanya.

“Aku baik-baik saja haha...” aku sedikit mengusap tengkukku.
“Jangan terlalu lama mengajaknya ngobrol. Dia harus segera pulang Kaasan.” 

Aku menggulir bola mataku malas. Dia benar-benar bosan melihatku di tempatnya tampaknya. “Kalau begitu saya permisi,” aku sedikit menundukan kepalaku berpamitan dan segera beranjak dari sana setelah mendengar balasan 'silahkan' dan 'hati-hati di perjalanan pulang' dari nyonya Amano itu.

Apa Amano mengusirku karena ibunya akan datang? Mungkin aku memang akan menjadi pengganggu waktu berkunjung ibunya jika tetap berada di sana tapi tetap saja aku tidak suka caranya membuatku pergi dari rumahnya. Padahal dia bisa menyuruhku pulang dengan lebih sopan, toh aku tidak akan memaksa untuk tetap tinggal meski dia memintaku pulang dengan cara baik-baik.


×÷~虎の瞳~÷×

“Saga? Apa yang terjadi denganmu?” Tanya Hana terlihat begitu khawatir saat melihatku memasuki kelas.
“Aku tidak apa-apa,” aku menyingkirkan tangannya yang menyentuh pipiku.
“Saga?” Hana terlihat sedikit kecewa dengan bahasa tubuhku. 

Dia sama sekali tidak tahu kalau semua ini karena dia, kan? 
Aku tidak marah apalagi dendam hanya karena aku mendapatkan memar-memar ini karenanya, tapi ... kupikir untuk apa melanjutkan hubunganku dengannya? 

“Kita putus,” ucapku sambil beranjak meninggalkannya menuju bangkuku. 
“Apa? Tunggu! Saga, kau bercanda kan?” tanyanya dengan suara sedikit bergetar. Dia masih berdiri di tempat tadi dia menghampiriku, melihat ke arahku.
“Aku serius.” 
“Tapi kenapa tiba-tiba? Apa salahku Saga?” 
Aku sedikit menghela nafas, “aku tidak ingin berhubungan dengan cewek pacar orang bermasalah. Itu merepotkan.” 
“Aku tidak mengerti. Apa maksudmu?” Aku melihat sudut-sudut matanya berair. Tidak bagus! Seperti dugaanku, Hana cewek yang sangat rapuh dan dia paling lugu diantara cewek-cewek yang pernah kukencani selama ini. Tolong jangan menangis! Argh! Aku paling tak tahan melihat cewek menangis.

Aku berdiri dari bangkuku dan menghampirinya, menarik tubuhnya untuk ikut bersamaku mencari tempat yang lebih enak untuk tempat pembicaraan laki-laki dan perempuan yang ingin mengakhiri hubungannya. Aku tidak ingin anak-anak di kelas melihatnya menangis.

“Yoshi, itu nama pacarmu?” Aku bertanya setelah yakin tempat yang ku datangi benar-benar nyaman untuk pembicaraan kami. Aku membawa Hana ke atap gedung universitas dimana jarang orang berkunjung ke tempat satu itu.

“Apa yang kau bicarakan? Pacarku itu kau, Saga!” 
“Lalu siapa itu Yoshi?” Aku menaikan satu alisku.
“Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak mengenal orang dengan nama itu. Memangnya ada apa Saga?” Wajahnya benar-benar terlihat tidak aman.
“Hm..,” aku sedikit menganggukan kepalaku, “Berarti dia pengagum rahasiamu?” 
“Aku tidak tahu dan aku tidak perduli !” Sepertinya dia masih berharap aku mengubah keputusanku dengan mengatakan itu.

“Tapi aku perduli. Aku tidak mau berhubungan dengan cewek yang jadi incaran orang bermasalah.” 
“Apa?” 
“Kau lihat ini?” Aku menunjuk wajahku. “Dia ingin aku untuk tidak mendekatimu, dan itu yang akan kulakukan.” 
“Apa? Saga? Kau tidak bisa begitu. Itu tidak adil ! Aku bahkan tidak mengenal siapa orang yang kau maksud!” 
Dan adilkah jika aku harus mengorbankan diriku untuk orang yang tidak benar-benar kucintai? “Aku ingin hidup tenang.”

Hana seperti tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ya, aku baru saja mengakui bahwa aku adalah seorang pengecut.“Kau tidak benar-benar mencintaiku kan?” Aku melihat air di sudut matanya mulai menetes. “Atau kau memang tidak pernah mencintaiku sama sekali?” 
Aku paling tidak tahan melihat perempuan menangis tapi kenapa aku selalu membuat mereka melakukannya.

“Ya.” 

PLAK!!

Tamparan pertama untuk bulan ini.
Wajahku masih penuh memar dan dengan satu tamparan lembut ini, aku merasakan pipiku seakan mengembung sebesar-besarnya. 
Sial, sakit sekali !

“Kau brengsek!” 

Aku tahu.

Aku membiarkan Hana pergi tanpa mengatakan apapun. Aku sedikit heran, kupikir dia sudah tahu orang seperti apa aku ini sebelum dia memintaku untuk mengencaninya.
Aku orang brengsek, ya. Aku penjahat bagi perempuan, ya!
Dan aku tahu karma itu ada. Aku tahu suatu saat aku akan mendapatkannya.


×÷~虎の瞳~÷×

“Jadi dia benar-benar Shinji?” 
“Ya,” aku sedikit menghela nafas.
“Lalu bagaimana? Seperti apa Shinji tumbuh? Apa dia mengatakannya kenapa dia tidak memberi kabar sama sekali?” 

Aku mendengus. Sepertinya aku masih merasa iri dengan perhatian Naomi-san yang kadang berlebihan kalau itu untuk Shinji. Dengar bagaimana suaranya begitu bersemangat setelah tahu Shinjinya sekarang kembali. “Aku sudah mengatakannya Naomi-san! Dia sangat berubah, dan aku yakin kau akan kecewa jika bertemu langsung dengannya.” 

“Kenapa? Apa Shinji jelek?” 
“Bukan itu maksudku!” 

Tidak, tidak! Aku kesal, karena dia tampan oh Naomi-san dia sangat tampan tapi aku tidak akan mengatakannya padamu. Kau pasti akan lebih bangga padanya jika kukatakan itu. Tapi tidak, aku tidak sedang bicara tentang bagaimana pertumbuhan fisiknya.

“Sebaiknya tidak usah kukatakan. Kau pasti sedih jika tahu apa yang dia katakan tentangmu.” Benar, lebih baik tak kukatakan. Cukup aku yang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pedasnya itu.
“Shinji mengatakan apa Takashi?” 
“Lupakan!” 
“Takashi? ohok!” 
“Dia sudah berubah Naomi-san, kau hanya perlu tahu itu.” 

Entah bagaimana aku masih bisa mendengar saat ia membisikan 'maaf' malam itu dan aku berharap dia mengatakan itu dengan sadar.

“Ohok! Ohok!” 
“Kau baik-baik saja Naomi-san?” 
“Ya, aku tidak apa-apa. Kapan kau berkunjung lagi kemari Takashi? Anak-anak sering sekali menanyakanmu.” 
“Oh, ahah... ok, aku akan mencari waktu. Aku juga merindukan mereka, sampaikan salamku untuk mereka.” 
“Tentu.” 

Aku tahu malam itu dia tidak mabuk, tapi bagaimana sikapnya berubah ketika pagi aku membuka mata, 360° berubah. Hampir dua minggu sejak malam itu dan pernah sekali waktu tanpa sengaja aku berpapasan dengannya di cafetaria, jangankan menyapa, melirikku pun tidak. Dan itu membuat semua sikap lembutnya terasa seperti mimpi bagiku.
Aku benar-benar tidak mengerti ada apa dengannya!!!
Tapi aku tidak perduli. Aku mencoba untuk tidak perduli. 

Jika dia memang tidak ingin mengenalku lagi, maka aku akan melakukan hal yang sama. Aku hanya akan mengikuti. Kuharap dia konsisten dengan keputusannya karena aku tidak ingin lagi dibuat bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba saja berubah drastis seperti malam itu. 
Aku hanya... tidak boleh termakan kepribadian gandanya, aku tidak akan terkecoh lagi.

“Aku mohon!!” 

Aku melirik Shou yang seperti biasa hanya bisa mengangkat kedua bahunya. Bisakah dia menolongku sekali saja?

“Aku harus kerja.” 
“Kumohon Saga! Sekali ini saja! Aku tahu mungkin kau masih marah padaku tapi aku minta maaf! Aku ingin kau datang, kau akan menjadi tamu spesialku, kumohon!” Risa memejamkan matanya sambil merapatkan kedua telapak tangan di depan wajahnya, memohon.

Aku sedikit menghela nafas berat. Sudah kuduga dia masih mengharapkanku. Lagipula berita hubunganku yang sudah berakhir dengan Hana sepertinya juga telah sampai ke telinganya.

“Dengar Risa, aku—” Aku menggantung kalimat yang hendak kuucapkan karena Risa tanpa aba-aba mengecup bibirku. Oi !
“Aku tunggu! Kau akan datang, aku yakin kau akan datang! Aku tidak akan memulai acaraku sebelum kau datang. Kau tidak ingin menghancurkan ulang tahunku kan?” 
“......” 

Ok, aku menyerah dengan perempuan ini.
Dia selalu tahu bagaimana membuatku tidak punya pilihan. Aku mungkin brengsek, tapi dia tahu aku ini sebenarnya merahasiakan kebaikan hatiku jauh di dasar lubuk hatiku yang paaaaaaling dalam sampai aku sendiri tak bisa menemukannya. 

Tidak! Meski aku tidak berniat mengulang hubunganku dengannya, tapi aku sedikit tertarik dengan tawarannya. Dia bilang aku akan jadi tamu spesialnya? Aku sedikit tersanjung dengan itu aha... Nao mungkin tidak akan keberatan, tapi sepertinya aku harus mendengar ocehan atasanku demi malam minggu ini.

“Ulang tahun mantan?” 
Aku mengangguk sambil meresletingkan jaketku, “Aku ingin kau mengatakannya pada Kai-san!” 
“Kenapa tidak kau katakan saja sendiri, tadi dia kemari kan?” 
“Dia pasti tidak akan mengizinkanku!” 
“Kalau begitu berarti kau tetap akan mendapatkan omelannya malam saat kau masuk lagi kan?” 
“Aku tahu,” aku menghela nafas.
Nao menepuk pundakku lalu memakai helmnya, “akan kucoba bicara dengannya.” Nao tampak sedikit berpikir, “dengan sedikit rayuan,” tambahnya terdengar tak rela. Aku sedikit tertawa kecil sementara Nao memakai helmnya dan mulai menyalakan mesin motor antiknya itu atau... boleh kusebut skuter? Aku ingin punya motor tapi tidak seperti miliknya itu. Aku ingin motor yang lebih keren, seperti...

Tunggu!

Aku sedikit menaikan alisku melihat sesuatu di seberang jalan sana.

“Kalau begitu sampai jumpa malam lusa, Takashi.” 
“Oh, Ok! Thanks kawan!” Aku meninju pelan lengan seniorku itu dan Nao menganggukan kepalanya sebelum akhirnya pergi dengan skuter kesayangannya.

Aku kembali melihat ke arah sesuatu yang terasa sedikit ganjil yang baru saja ditemukan kedua mataku. Aku melihat sebuah motor keren yang beberapa malam sebelumnya pernah kutumpangi di seberang jalan sana. Ya, bagaimana aku bisa lupa telah menaiki motor yang seakan selalu menjadi mimpi bagiku untuk memilikinya. Dan laki-laki dibalik helm yang mengendarainya itu...

Aku lihat dia masuk ke tempat parkir sebuah ... Love Hotel.

Ah~ mungkin dia janjian dengan seorang perempuan di sana? Dia laki-laki dewasa, itu wajar. Memangnya aku? Sudah diusia ini belum pernah mengunjungi yang namanya love hotel. Tapi entah kenapa aku bangga saja dengan itu, karena aku masih perjaka bukan karena aku tidak laku atau tidak ada perempuan yang ingin melakukannya denganku. Aku punya pandanganku sendiri tentang itu.


×÷~虎の瞳~÷×

“KAMPAIII!!” 

Ada sekitar 10 orang yang duduk memutari satu meja dengan botol-botol bir di atasnya, saling bersorak membenturkan gelas berisi minuman beralkohol itu satu sama lain. Aku adalah orang terakhir yang datang ke tempat yang penuh kebisingan ini, Risa merayakan acara ulang tahunnya di sebuah Club yang memang cukup sering ia kunjungi, aku juga pernah beberapa kali mengunjunginya, bisa dikatakan ini bukan tempat yang asing. Dan seperti yang Risa bilang, dia tidak akan memulai acaranya tanpa aku. 

“Minum!” Risa menyikut perutku sementara yang lainnya terlihat meneguk bir mereka. Aku hanya mengangguk, tersenyum padanya. Kemudian meminum bir dalam gelas di tanganku yang memang sudah disiapkan untukku bahkan sebelum aku datang, tampaknya.

Aku melihat ada 4 perempuan selain Risa, dan 4 laki-laki selain aku. Mereka terlihat saling berpasangan dan tahukah apa yang membuatku terkejut saat pertama kali datang? Aku melihat Shinji duduk di antara mereka. Duduk di sebelahnya adalah teman Risa, Ayumi. Yang terlihat seperti logam tertarik magnet, dan sang magnetpun terlihat asik-asik saja dengan itu. Aku hampir lupa kalau Risa dan Shinji satu jurusan, dan jika kupikir meskipun mereka tidak, bukankah Risa selalu terlihat bersamanya sejak dia putus denganku, jadi seharusnya bukan hal yang mengejutkan melihatnya di sini. Risa pasti mengundangnya. Dan aku tidak nyaman!

“Selamat Ulang Tahun Risa!” 
“Selamat Ulang Tahun Watanabe!” 
“Selamat Ulang Tahun!” 
“Thanks guys!” 

Aku hanya melihat teman-teman Risa mengucapkan selamat padanya bahkan teman-teman perempuannya ada yang memberikan hadiah berupa kado kecil yang tentu saja tidak kutahu apa, sampai perempuan yang duduk di sampingku melirikku dan mengembungkan kedua pipinya.

“Kau tidak ingin mengucapkan selamat padaku?” Tanyanya dengan nada manja.
“Selamat Ulang Tahun. ” Ucapku tersenyum.
“Hadiahnya mana hadiaaah?!” seru teman-temannya berisik.
“Ah, itu—” Ok, aku tidak membawanya. Dan aku tidak menyesal.
“Tidak apa-apa, kedatanganmu saja sudah menjadi hadiah spesial untukku.” Risa menarik kerah kemeja yang kupakai. 

Aku tahu itu, karena itu aku tidak perlu membawa hadiah.

“Sebagai hadiahku, bersediakah kau habiskan ini untukku?” Risa mengambil gelas bir yang belum kuhabiskan dan menyodorkannya padaku. Aku mendengar tertawaan kecil dari teman-temannya.
“Tentu.” 

Risa tersenyum lebar saat aku mulai meneguk minuman beralkohol dengan kadar rendah itu. Dan entah bagaimana mataku bisa menangkap tatapan kedua mata tajam itu mengarah padaku saat aku meneguk habis bir di tanganku.

“Ok, cukup!” Risa merebut gelas ditanganku dan menyimpannya di atas meja. Dan aku hampir tidak sadar saat perempuan itu melingkarkan kedua tangannya dan mencium bibirku. Aku sedikit terkejut tapi aku tidak ingin menyakitinya dengan melepaskan ciumannya dengan paksa. Ini hari ulang tahunnya, dan kupikir biarkan dia melakukan apa yang disenanginya. Ya, anggap saja ini hadiah dariku.

“Gyaaa!!!” 

Aku melirik Ayumi yang tiba-tiba berteriak dengan satu tangannya meremat lengan kemeja laki-laki di sampingnya. Apa dia juga berniat melakukannya pada Shinji?
Sementara kudengar yang lainnya hanya tertawa dan bersorak seakan menyemangati Risa.

Aku menutup satu mataku saat Risa mulai liar memainkan lidahnya di dalam mulutku. 
Tapi tunggu! 
Sepertinya ada yang aneh dengan tubuhku.

“Oi, oi cari kamar sana!” 
“Haha....” 

Aku melepaskan ciumanku dengan Risa setelah beberapa lama membiarkan perempuan itu memperkosa mulutku.

“Kalian sudah balikan lagi ya?” 

Tidak.

“Kupikir memang kalian pasangan yang serasi. Aku menyayangkan saat mendengar kalian putus.” 
“Benar, kalian seperti pangeran dan putri di universitas kita.” 
“Thanks, aku ingin kami kembali tapi aku menunggu bagaimana jawaban pangeranku?” Risa menoleh ke arahku tersenyum, menyangga dagunya dengan telapak tangan di atas meja.

Tidak, tidak! aku tidak berniat melakukannya.
Tapi tentu saja, aku masih punya hati untuk tidak mengatakan itu di depan teman-temannya. 
Dan... Bukan hal baru melihat Risa berpakaian ketat hingga memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya dan rok mini yang memperlihatkan paha putih— TUNGGU! 
Apa yang kupikirkan??!

“Eeh! Jadi kalian belum balikan?” 
“Haha... Lalu apa-apaan ciuman panas tadi?” 
“Haha...” 

Aku tidak tahu. 
Yang kutahu, aku punya pertahanan diri yang bagus dan tubuhku tidak akan mudah bereaksi hanya karena sebuah ciuman. Tapi... Ada apa dengan tubuhku?!

“Guys! Bersenang-senanglah sepuas kalian malam ini, pesan apapun yang kalian mau! Kita have fun sampai pagi!!” Risa terlihat bersemangat.
“Tentu! Haha...” 

Aku lihat satu pasangan meninggalkan kursinya dengan si perempuan menarik pasangannya untuk menggerakkan tubuh mereka menikmati musik yang disajikan sang DJ dan diikuti satu pasangan lainnya meninggalkan meja. Aku dengar Ayumi juga merayu Shinji untuk ikut bersama yang lainnya. 
Ya, aku mendengarnya, aku tidak melihatnya! 
Aku tidak perduli dengan keadaan sekitarku, aku tidak perduli dengan apa yang dilakukan orang-orang di sekelilingku, aku tidak perduli dengan alunan musik yang keras, aku tidak perduli. 

“Kau ikut Saga?” Risa menarik lengan kemejaku, “Kau baik-baik saja?” tanyanya sedikit mengernyitkan dahi, “wajahmu berkeringat.” 

Aku tahu. Tapi aku tidak tahu ada apa dengan tubuhku!

“Aku ke toilet sebentar,” aku cepat-cepat berdiri dari kursiku dan beranjak dari sana dengan mengabaikan panggilan-panggilan Risa.

Aku terbiasa dengan musik yang bising tapi saat ini itu membuatku merasa lebih buruk. Aku sedikit menyeka keringat di keningku dengan punggung tangan. Tubuhku seperti terbakar, rasanya menceburkan diri ke kolam tidak akan cukup. 
Aku cepat-cepat membasuh wajahku dengan air di wastafel, melihat pantulan diriku di cermin besar di hadapanku. Wajahku... merah.

Aku kembali membasuh wajahku lagi dan lagi. Bayangan yang melintas di kepalaku adalah ... tubuh? bagaimana baju tipis ketat Risa membalut tubuhnya, dan ...tunggu! Tidak-tidak! Hentikan! Apa-apaan ini?!

Aku sedang menepuk-nepuk pipiku saat tiba-tiba aku melihat dari cermin, seseorang masuk dan berdiri di sampingku untuk membasuh kedua tangannya di wastafel. 
Oh... Kenapa harus dia?!!
Ok, Abaikan! Abaikan!

Aku kembali membasuh wajahku dan melihatnya di cermin. Tanpa sengaja aku melirik pantulannya di cermin di hadapanku. Dan yang aku lihat adalah... Tubuhnya?
Tidak, tunggu! Tubuhku...
Ini buruk, aku harus melakukan sesuatu.

“Wajahmu...” Shinji menatapku di cermin, “kau baik-baik saja?” tanyanya dengan kedua mata menatap tajam seakan ia mencari jawaban sendiri atas pertanyaannya dengan melihat ke dalamku. 

Dan kenapa dia perduli?
Jangan bilang dia kembali dengan kepribadian gandanya yang membingungkanku itu. 

“Aku ... Aku baik-baik saja, aku hanya perlu... ah, toilet.” Aku sedikit tertawa hambar dan bermaksud beranjak dari sana untuk menyelesaikan ke-error-an dalam tubuhku namun tangan yang menarik lenganku sampai tubuhku membentur tubuhnya membuat niatku hanya menjadi tinggal niat semata.

Aku seperti merasakan aliran listrik menjalari seluruh tubuhku saat aroma tubuhnya terhirup dan seakan menyesak ke otakku. Aku seakan dibuat mabuk dan tak sadar dengan apa yang kulakukan.

“Takashi?” 

“Ma—Maaf!” Aku segera menjauhkan diriku dari tubuhnya.

Buruk! Apa-apaan itu? Aku baru saja menggerayangi dadanya dan ... tidak, tidak!!

“Ada yang aneh dengan tubuhku,” aku menumpu'kan kedua tanganku di atas wastafel sedikit menunduk, mengatur nafasku yang mulai terasa berat. Memalukan sekali, apa yang akan dia pikirkan dengan apa yang baru saja kulakukan padanya? Lagipula... memang benar, saat ini yang ada di kepalaku hanya ... untuk memuaskan diriku, tapi kenapa Shinji bisa membuatku melakukan itu? Maksudku... seharusnya tubuhku hanya bereaksi pada perempuan!!

“Aku tahu.” 
“He?!” 

Aku menoleh ke arahnya sedikit tidak percaya. Dia tahu keadaan tubuhku?!

“Aku melihat perempuan itu memasukan sesuatu ke dalam minumanmu.” 
“Apa?” 

Tunggu! Jangan bilang, Risa...

“Mungkin, Obat perangsang?” Shinji menaikan satu alisnya.

Oh Tidak.

×÷~To.Be.Continued~÷×

Sunday, 31 August 2014

Tiger Eyes ※2 (Part B)

Author: RuKira Matsunori
Chapter: 2B/?
Genre: AU // Romance // Drama
Rating: R 
Fandom: Alicenine
Pairing: Tora / Saga.
Warning: Bahasa! Male x Male
A/N: Hanya 7 page ! xD maaf karena ada sedikit masalah jadi agak telat postnya. 



Saturday, 30 August 2014

Tiger Eyes ※2 (Part A)

Author: RuKira Matsunori
Chapter: 2A/?
Genre: AU // Romance // Drama
Rating: R 
Fandom: Alicenine
Pairing: Tora / Saga.
Warning: Bahasa! Male x Male
A/N: Saia bagi jadi dua part chap 2 nya, karena terlalu panjang xD tapi terlalu pendek untuk jadi 2 chapter. Part-2 nya saia post nanti malam atau besok (masih dalam tahap penyelesaian) xD




Monday, 25 August 2014

Tiger Eyes ※1

Author: RuKira Matsunori
Chapter: 1/?
Genre: AU // Romance // Drama
Rating: R
Fandom: Alicenine
Pairing: Tora / Saga.
Warning: Bahasa! Male x Male
A/N: Ide cerita saia ambil dari komik-komikan jaman SMA dulu yang pernah saia buat (sampe sekarang belum kelar, tapi endingnya sudah di kepala) saia pakai nama karakter Kira dan Ruki di situ wakwak *muntah* ok! cukup! Saia mandet lagi untuk Natural Sense tapi pasti saia lanjutin! Dan sudah sejak lama saia pengen tulis ini, tapi gak bisa memulai! dan sempet bingung mau pair Reituki atau Tosa xD percayalah tidak akan panjang!
Baiklah, dan akhir kata, saia harap minna suka ini m(_ _)m



÷~虎の瞳~÷×

Aku punya alasan untuk mengatakan bahwa dunia ini kejam. Satu, aku tidak pernah tau siapa kedua orang tuaku. Usiaku menginjak 20 tahun ini, dan aku tidak pernah sekalipun melihat mereka. Bagaimana bisa seorang anak tidak pernah tau kedua orang tuanya? Dan itu adalah alasan keduaku, mereka membuangku. Tiga, aku hidup di panti asuhan, sementara teman-temanku yang lain mendapatkan orang tua angkat mereka, tak satupun pasangan suami istri yang mengadopsiku, padahal hei! aku anak yang manis diusiaku waktu itu. Ok, aku mungkin sedikit nakal tapi itu wajar untuk seorang anak laki-laki. Alasan keempat, aku lepas dari panti asuhan diusia 15 tahun. Sementara anak yang lainnya masih asik menghambur-hamburkan uang orang tuanya, aku harus bekerja untuk bertahan hidup dan mengecap pendidikan.

Tapi ada juga alasan yang membuatku rasanya tidak enak mengatai dunia ini kejam. Satu, Tuhan menganugrahiku otak yang membuatku sampai bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahku di Universitas di Tokyo. Baiklah, memang bukan Toudai tapi universitasku juga cukup punya nama di Tokyo. Aku mengambil jurusan Sastra Inggris seperti keinginan hatiku, aku suka bahasa inggris dan berharap bisa berkeliling dunia dengan menguasainya. Baiklah, itu mimpi yang jelas tentang ketidak terwujudannya dan satu lagi, aku cukup bersyukur bisa memilih jurusan sesuai ketertarikanku karena banyak juga orang yang mengambil jurusan bukan berdasarkan hati mereka dan aku mengasihani orang-orang seperti itu. Aku tidak bisa bayangkan setiap hari harus bergelut dengan sesuatu yang tidak kita sukai atau terpaksa kita pilih sementara ada sesuatu yang kita sukai yang sebenarnya bisa kita pilih.

Dan alasan keduaku untuk mengurungkan menilai dunia ini kejam adalah... aku punya wajah dan penampilan yang sangat menarik hingga membuat banyak perempuan mengejarku. Aku serius!

PLAK!

“KAU BRENGSEK!!”

Dan aku tidak bisa mengatakan dunia ini kejam karena ini adalah tamparan ketiga dari tangan yang berbeda yang mendarat di pipiku dalam satu bulan ini. Itu adalah efek dari anugrah yang diberikan Tuhan untukku, memang sakit tapi aku tak akan menyalahkan dunia ataupun wajahku. Aku masih muda, aku masih mencari banyak pengalaman, selama aku masih menarik kenapa tidak memanfaatkannya? Dan lagi aku cepat bosan dengan sesuatu, terutama perempuan.

“Terlihat masih fresh.”

Shou, si kaca mata. Teman satu jurusanku. Aku tidak akan menyebutnya teman baik, teman dekat, sahabat atau semacamnya, karena dia lebih sering membuatku jengkel daripada senang. Kami tidak pernah berhubungan di luar kampus, bahkan aku tidak punya nomor ponselnya. Tapi dia satu-satunya orang yang paling sering berkomunikasi denganku daripada teman satu jurusanku yang lain.

“Pipimu pasti sudah kapalan, jadi kebal,” Shou berkomentar sambil duduk di bangkunya.
“Tamparan perempuan tidak ada bedanya dengan kecupan mereka,” aku menggulir bola mataku malas.
“Hm...” terdengar mengejek.

Dan seperti hari-hari sebelumnya, mata kuliah berjalan dengan membosankan. Ok, aku memang menyukai jurusanku tapi sekali lagi, aku ini cepat bosan dan kadang berada dalam keadaan jenuh akan sesuatu tapi bukan berarti aku jadi tidak menyukainya.

“Apa kau merasa sebagai cowok paling populer di Universitas ini?”

Aku melirik Shou kurang semangat sambil mengunyah permen karet, “tidak, tapi aku juga tidak memungkiri bahwa kenyataannya memang begitu,” aku tersenyum lebar setelah sedikit membanggakan diri sendiri hanya untuk mendapatkan wajah tanpa ekspresi dari Shou.

“Kau sudah dengar tentang mahasiswa pindahan baru dari luar negeri?”
“Hn? Bule?” tanggapku kurang tertarik.
“Bukan, tapi dia baru pulang dari Inggris setelah 3 tahun tinggal di sana.”
“Wow!”
“Anak cewek pada meributkannya! Kupikir cepat atau lambat posisimu akan digesernya,” Shou mengangkat kedua bahunya.
“Oh ya? Hanya karena dia pernah tinggal di luar negeri?”
“Bukan hanya karena itu,” Shou menghela nafas ringan, “sebaiknya kau lihat orangnya langsung.”

Aku menoleh ke arah Shou sambil menggelembungkan permen karet di mulutku kemudian meletuskannya, “Ok, siapa namanya?”
“Amano... Tora.”
“Tora?” Aku sedikit tertawa kecil mendengar namanya.

Keren, oke lah. Keputusan yang berani untuk memilih nama tapi jika orangnya tidak sesuai dengan namanya atau malah berlawanan dari imej keren, akan jadi sangat lucu jadinya.

×÷~虎の瞳~÷×

Hari dimana akhirnya aku bertatap muka dengan sang Tora yang selalu jadi topik pembicaraan para mahasiswi yang menggilainya dan para mahasiswa yang mengeluhkan kepopulerannya dikalangan cewek semakin lama semakin membuatku terusik. Aku ingin tahu se'wah' apakah gerangan beliau?

Dan untuk pertama kalinya aku menerima ada laki-laki yang lebih menarik dariku, maksudku... aku ini keren, dan aku selalu menganggap tidak ada laki-laki se-kerenku di universitas ini tapi melihatnya, kuakui dia sangat cocok dengan namanya.
Dia terlihat lebih tinggi beberapa sentimeter dariku, tubuhnya.. tidak terlalu berotot tapi juga tidak se-skinny-ku, terlihat ramping namun di saat yang sama juga terlihat tegap dan tegas. Pengakuan keduaku, tubuhnya adalah tipe ideal kebanyakan perempuan dan aku pernah berharap untuk punya tubuh seperti itu juga.

Wajahnya... Jika para perempuan itu menyebutku tipe bishounen maka bisa kukatakan dia tipe ikemen. Dia dan aku punya tipe wajah yang berbeda dilihat dari jenis ketertarikan cewek akan tipe cowok. Akan aneh jika aku yang mengatakannya, tapi kalau aku cewek akan kukatakan dia macho, maskulin, atau semacamnya. Aku mengerti sekarang, kenapa cewek-cewek itu selalu histeris saat menggosipkannya. Dia dianugrahi wajah dan perawakan yang memungkinkan cewek-cewek membuka pahanya lebar-lebar untuknya.
Baiklah, akhirnya ada laki-laki yang sedikitnya membuatku merasa banyak kekurangan setelah melihatnya.

Bentuk rahang dan hidung yang tegas dan matanya... Kupikir yang paling menarik untuk dilihat darinya. Tunggu! Mata itu... 

“Sepertinya kau cukup menikmati apa yang kau lihat dariku.”
“He?” Aku menaikan satu alisku sementara dia menyunggingkan senyum sinis sambil menggulir bola matanya malas.
“Kau mau apa Saga? Kita sudah putus! Jangan harap kau bisa memintaku kembali padamu! Jadi menghilanglah dari pandanganku!”

Ow, Risa. Si pelaku yang membuat pipiku bahkan masih terasa panas setelah beberapa hari kejadian. Tunggu, sejak kapan dia di situ?
Kuterima, tamparan cewek satu ini paling keras diantara yang lain. Dan lihat, dia bergelayutan di lengan sang populer itu padahal sebelumnya dia selalu nempel-nempel padaku dan tidak ada satu bagianpun dari tubuhnya yang belum kulihat, itu karena dia sendiri yang dengan nakal memperlihatkannya padaku.
Aku hanya memberinya ciuman panas dan dia tiba-tiba menanggalkan semua pakaiannya. Untuk sebagian terdengar menggiurkan dan aneh. Aku hanya menatapnya, kuakui aku cukup menikmati pemandangan yang kulihat waktu itu, tapi hanya itu. Aku kemudian segera memungut pakaiannya dan menyuruhnya untuk memakainya kembali, dan saat itulah tamparannya mendarat di pipiku.

Perlu ku garis bawahi di sini, aku tidak pernah berhubungan sex dengan setiap perempuan yang kukencani, bukannya aku impoten atau tidak punya gairah sebagai seorang laki-laki sejati, aku hanya punya kelebihan pengendalian diri yang bagus. Aku tidak ingin suatu hari ada seorang perempuan dengan perut membulat datang padaku dan mengatakan 'ini anakmu' oh tidak! aku tidak ingin mengambil resiko menjadi seorang ayah diusia muda, aku masih ingin menikmati masa-masa lajangku. Dan mungkin aku adalah penjahat bagi perempuan, tapi aku bukan orang jahat yang berani menyuruh seorang ibu untuk membunuh anak dalam janinnya. Aku bukan orang sejahat itu.

“Benarkah, jadi kau ingin mengambil gadismu kembali?” tanyanya tidak tertarik.
“Tidak,” aku ragu apakah Risa cocok dipanggil 'gadis', maksudku apa yang sudah dia lakukan padaku membuatku ragu dia masih seorang 'gadis'. Aku mendengar Risa mendesis pelan. “Kita memang tidak satu jurusan tapi aku sudah cukup mendengar banyak tentangmu. Kau cukup populer kawan! haha... Selamat datang di Univ—”

“Kasihan~ dia sudah pergi,” Risa tersenyum mengejek kemudian sedikit berlari untuk menyusul mangsa barunya itu yang entah sejak kapan dia menghilang dari hadapanku.

Bagus!
Aku pikir sesama orang keren, aku dan dia bisa menjalin hubungan baik. Dengan berat hati aku terima, aku merasa sedikit terancam punah dengan kehadirannya. Kupikir dengan berteman dengannya bisa membuatku di posisi aman. Aku tidak berpikir kalau orang dengan kesempurnaan itu mungkin akan punya sifat arogan dan ya! Dia memberikan kesan pertama yang cukup menunjukan dia ingin memusuhiku. Hei, siapa yang tahu mungkin dia juga mengakui betapa menariknya aku dan merasa terancam dengan itu. Siapa yang tahu kan?

Tapi rasanya ada sedikit hal yang mengganjal, apa cuma perasaanku saja? Tapi mata itu mengingatkanku pada mata seorang anak kecil yang selalu kubuat menangis karena kuejek. Tapi melihat bagaimana dia bersikap.... rasanya tidak mungkin.

×÷~虎の瞳~÷×


“Aku duluan, Takashi!”

“Ok!”

Nao, rekan sepekerjaanku di Bar, dia seorang bartender sekaligus seniorku di tempat kerja, usianya juga lebih tua dariku. Dan posisiku? Aku seorang barback, dengan kata lain aku adalah asistennya yang menyediakan semua yang dibutuhkan Nao untuk keperluan menyajikan minuman dan melayani pengunjung. Kadang Nao juga mengajariku cara menjadi seorang bartender dan sekali-kali aku menggantikan tugasnya. Dan meski Nao terlihat keren saat menjalankan pekerjaannya, sebenarnya ia punya kepribadian yang unik, dengan wajahnya yang bulat dan suaranya yang cempreng kalau dia berteriak saat ada kecoak, cicak atau hewan kecil apapun itu di tubuhnya (abaikan siapa yang membuat hewan-hewan kecil itu sampai mendarat di tubuhnya). Aku suka menjahilinya, mungkin memang pada dasarnya jahil itu adalah sifat alamiku.

Aku ingat, aku cukup ditakuti anak-anak yang lain saat di panti asuhan dulu. Karena aku selalu punya cara untuk membuat mereka ketakutan bahkan menangis. Tapi karena itulah tidak ada yang mau mengadopsiku, selama bisa memilih, orang tua mana yang ingin menjaga seorang anak nakal di rumahnya? terlebih, anak angkat? Tapi inilah sifatku, dan jika memang ada orang yang tidak bisa menerimanya aku baik-baik saja dengan itu.

“Takashi, bagaimana kabarmu?” 

Aku memasukan seragamku ke dalam tas dengan ponsel di sebelah telingaku yang ku tahan dengan satu bahu, “Aku baik-baik saja Naomi-san, kau sendiri?” tanyaku dengan kedua tangan masih sibuk memakai sepatu.

“Aku juga baik-baik saja. Rasanya kau mulai melupakan wanita tua ini, sudah lama sekali kau tidak memberiku kabar.” 
Aku tertawa kecil, “Karena di Tokyo banyak wanita-wanita cantik, maaf saja kalau aku jadi melupakanmu,” candaku iseng.
“Anak nakal!” 
“Haha... tidak, tidak! Kau selalu jadi wanita nomor satu bagiku Naomi-san!”
“Jangan menggoda wanita tua!”
“Ah, aku seriusss!”

Walau mungkin aku tak punya orang tua angkat, walau mungkin mereka tidak bisa menerima kepribadianku, aku tidak apa-apa. Karena aku punya wanita yang selalu memperhatikanku, menjagaku, menegurku saat aku melakukan kesalahan. Dia yang mengurus kami anak-anak di panti asuhan 'Sumire' dengan penuh kasih sayang, dia seperti seorang ibu bagiku. Aku tidak habis pikir kenapa ada beberapa dari temanku yang tidak pernah memberinya kabar lagi setelah mereka mendapatkan keluarga baru. Seakan melupakan kasih sayang yang diberikan Naomi-san untuk mereka, dasar tidak tahu terimakasih.

“Oh ya, Naomi-san... Ada mahasiswa baru di kampusku, dan kupikir matanya mirip Shinji.” Bicara tentang orang yang tidak tahu terimakasih, aku jadi teringat anak cengeng itu.
“Shinji? Oh ya? Mungkin saja itu memang dia, keluarganya kan di Tokyo.” 
“Tidak mungkin itu dia haha...Lagipula namanya juga bukan Shinji .” Aku berdiri setelah selesai memakai sepatu dan menarik tasku untuk beranjak pulang.
“Begitu?”
“Lagipula aku pasti langsung mengenalinya kalau itu dia.”

Ya, anak itu lebih pendek dariku, terlihat lemah, penakut dan cengeng hingga aku selalu menjadikannya sasaran kejailanku, dan matanya yang seperti non-nihonjin, selalu jadi bahan ejekanku untuknya. Dan sejak tidak pernah lagi bertemu dengannya, aku tidak pernah menemukan jenis mata yang sama dan tiba-tiba saja orang arogan itu muncul. Ya... Mungkin mereka hanya punya mata yang sama. Melihat dari perawakannya saja sudah tidak mungkin. Apalagi ditambah dengan sikapnya...

Aku mendengar suara lembaran-lembaran buku yang dibuka di line telepon, “Naomi-san?” Aku mengernyitkan dahi sambil mengambil minuman kaleng favoritku di vending machine.
“Ah, ini dia...” 
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Aku menemukan data pengadopsian Shinji.” 
“Hn?” Tanggapku sambil meneguk minumanku.
“Pasangan suami istri yang mengadopsi Shinji bermarga... Amano.” 

PRUUFFTT!!!

Spontan aku menyemburkan kembali minuman dalam mulutku.

“Takashi?” 
Aku melap mulutku, mengabaikan pandangan orang-orang yang berpapasan di jalanku ,“Naomi-san, kau bercanda?!”
“Tidak, kenapa?”
“Orang itu juga bermarga Amano!”
“Berarti itu memang Shinji.” 
“Tapi namanya Amano Tora,” aku mengernyitkan dahi.
“Tora? Mungkin dia atau orang tua angkatnya mengganti namanya? Takashi, coba kau pikir, mungkin tidak sedikit di Tokyo keluarga yang bermarga Amano, tapi jika orang itu bahkan mirip berarti dia memang orang sama.” 

Baiklah, itu masuk akal.

“Tapi... dia lebih tinggi dariku! Dan sifatnya... Aku tidak ingin percaya kalau itu Shinji si cengeng itu!” Aku mendengus.
“Kau pikir waktu umur berapa terakhir kalian bertemu? Pasti banyak yang berubah darinya.” 

Tetap saja aku tidak terima kalau yang dimaksud perubahan untuknya itu... seperti itu! Maksudku, hei ! Dulu dia sangat culun dan lugu dan cengeng.

Ah, ya. Aku ingat, dulu aku sempat iri karena dia diadopsi keluarga kaya raya. Dan jika itu memang benar dia, aku mengerti kenapa dia bersikap seperti itu padaku. Dulu aku selalu menjailinya dan mengejeknya, mungkin dia membenciku dan ingin menunjukan dia punya segalanya sekarang sedangkan aku? Tidak.

Tapi... Apa dia akan langsung mengenaliku begitu saja? Terakhir dia melihatku ketika usia kami 6 tahun. Seperti aku yang bahkan sama sekali tidak mengenalnya kalau bukan karena matanya itu. Mungkin banyak hal juga yang berubah dariku?

“Takashi?” 
“Ah ya, err...” aku menggaruk-garuk tengkukku.
“Coba kau tanya langsung padanya. Mungkin dia punya alasan kenapa dia tidak pernah sekalipun memberi kabar.” 
“Tidak usah ditanya, aku sudah melihat bagaimana berubahnya dia sekarang Naomi-san. Dia pasti sangat menikmati kehidupannya sebagai anak dari keluarga konglomerat, dia hanya kacang yang lupa kulitnya,” aku sedikit mendengus.
“Aku tidak yakin Shinji orang seperti itu.” 
“Kita tidak tahu hati manusia,” aku menggesek kartu tiket shinkansen-ku di mesin, “ah, keretaku sudah datang.”
“Baiklah, kalau begitu sudah dulu. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa memberi kabar!” 
“Siap! Kaasan~” aku tersenyum sendiri dan aku mendengar tawa kecil di seberang sana.

Aku segera naik kereta sesuai tujuanku. Dan bayangan Shinji, temanku ketika di panti dulu dengan orang bernama Amano Tora itu terus muncul dalam kepalaku. Jika benar mereka orang yang sama maka aku harus memberinya sedikit pelajaran. Aku terima jika dia membenciku karena kelakuanku dahulu padanya, tapi bukan berarti dia boleh melupakan panti 'Sumire' dan juga Naomi-san begitu saja.

Dan hal pertama yang harus kulakukan adalah... bertanya langsung padanya. Dan untuk bertanya aku harus bertatap muka lagi dengannya. Apa ada cara selain harus bertatap muka dengannya? Meminta nomor ponselnya? pada orang lain? Itu akan sangat aneh, dan terdengar tidak keren. Baiklah... mau tidak mau , aku memang harus menghadap orang itu lagi tampaknya.

×÷~虎の瞳~÷×

“Ohayou.”
“Ohayou.”

Aku merasakan tatapan intens Shou tertuju padaku.

“Apa?” Aku mengernyitkan dahiku bingung.
“Terjadi sesuatu? Kau terlihat nervous,” ucapnya sambil mengeluarkan beberapa buku dari tasnya.
“Apa? Tidak ada,” responku santai.

Bicara apa si megane itu? Kenapa aku harus nervous untuk berhadapan lagi dengan orang sok arogan itu.

“Kau sudah melihat langsung orang bernama Amano Tora itu kan?” Aku hanya mengangguk merespon pertanyaan Shou sambil membuka permen karetku yang kemudian kumasukan ke dalam mulut, kukunyah dan kugelembungkan. “Bagaimana menurutmu?”

“Lumayan! Tapi levelnya tetap di bawahku haha...”
“Kau tidak berpikir begitu kan?”
“Ok! Dia se-level denganku.” Aku menggulir bola mataku malas.
“Dan aku yakin kau juga tidak berpikir begitu.”

Tuh kan, orang satu ini menjengkelkan!

“Dia punya perawakan yang kuinginkan dan wajahnya, okelah.”
“Dan kau merasa terancam.”
“Terimakasih sudah membaca pikiranku! Tapi hentikan itu kawan! Itu menyebalkan!”

Shou sedikit tersenyum membuang mukanya. Tunggu! Kenapa dia? Gerak tubuhnya bukan dia sekali.

“Aku hanya asal bicara, ternyata benar.”
“Ow!”

Menjengkelkan sekali orang satu ini.

“Matanya mengingatkanku pada teman masa kecilku,” aku bergumam sambil memainkan ponselku.
“Mata temanmu sepertinya? Kupikir Amano punya mata yang unik dan orang Jepang tidak bermata seperti itu. Jadi berarti temanmu itu keren.”
“Ahh tidak juga. Dia culun dan lemah. Aku sering sekali mengejek matanya yang aneh, aku suka memanggilnya Gaijin.”
“Kau bilang dia temanmu? Tapi mendengar ceritamu, sepertinya dia tidak akan menganggapmu sama.”
“Aku tahu. Dulu aku memang anak yang sedikit kurang ajar.”
“Aku tidak terkejut mendengarnya.”

Aku menghela nafas, “dulu aku tinggal di panti asuhan dan dia adalah salah satu anak di sana juga. Tapi sepasang suami istri mengadopsinya dan aku tidak pernah bertemu lagi dengannya sejak saat itu. Dan ... sepasang suami istri itu bermarga Amano.”
“Jadi dia temanmu yang hilang?” tanyanya.

Walau dia menjengkelkan, tapi dia selalu menjadi pendengar yang baik saat kubutuhkan.

“Aku belum terlalu yakin. Nama anak itu Shinji, bukan Tora.”
“Orang bisa mengganti namanya. Kenapa tidak kau tanyakan langsung tentang itu pada Amano?”
“Aku bermaksud melakukan itu,” jawabku malas.
“Oh,” Shou membulatkan mulutnya, “Jadi itu alasan kenapa kau terlihat nervous?”
“Aku tidak nervous!” Aku mendesis pelan.
“Tapi itu yang kulihat.”
“Berarti matamu bermasalah.”
“Tidak usah kau ingatkan. Kau pikir kenapa aku memakai kaca mata?”
“Cis!” Aku menggulir bola mataku malas.

×÷~虎の瞳~÷×

Kedua halis tebalnya saling mendekat satu sama lain saat kedua mata itu melihatku menghampirinya yang terlihat tengah menyantap pesanan makan siangnya di cafetaria bersama laki-laki kecil pirang yang kutahu bernama Ogata Hiroto. Dia cukup dikenal di universitas ini karena hobinya yang suka pamer mobil mewah, hampir setiap bulan sekali bahkan dua kali dia mengganti mobilnya. Entah itu hanya mobil sewaan atau apa. Dan aku bersyukur tidak melihat Risa dimanapun di sekitar Amano. Perempuan itu sedikit berisik dan tampak selalu sinis padaku.

“Boleh aku bergabung?” Tanyaku, mengabaikan wajah terkejut laki-laki kecil pirang yang duduk di samping bangku yang kududuki.
“Kau! Si playboy cap kambing!” Dan mendadak aku merasa ingin nonjok makhluk kecil pirang itu mendengar celetukannya.
“Thanks.” Jawabku datar dan kembali beralih pada laki-laki di hadapanku, “pertama, kenalkan... Namaku Sakamoto Takashi, tapi aku lebih suka orang memanggilku dengan sebutan Saga,” aku memperkenalkan diri dan ekspresi wajahnya tetap tidak berubah setelah mendengar namaku.

“Dan apa yang membuatmu duduk di hadapanku..... Saga?” Dia menaikan satu alisnya.
“Kau tidak ingat sesuatu? Maksudku... Setelah kusebut nama lengkapku?”

Aku memakai nama marga Naomi-san sebagai margaku, dia sendiri yang menyuruhku untuk menggunakannya semenjak aku tidak tahu apa marga orang tuaku. Bahkan ia masukanku dalam daftar keluarganya.

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” tanggapnya tidak tertarik.
“Benarkah? Kau tidak pernah berhubungan dengan yang namanya Panti Asuhan Sumire? Atau Naomi-san?”
“Oi, bicara apa kau? Kenapa Tora harus berhubungan dengan panti asuhan?” Hiroto terlihat mengernyitkan dahinya.
“Mungkin saja dia anak angkat keluarganya?”
“Apa yang dia bicarakan, Tora?” Hiroto beralih pada temannya, “kau anak angkat keluargamu?”

Aku melihat Amano menghela nafasnya pelan, “katakan saja kalau ingin ber-buddy-buddy ria denganku. Tidak perlu membawa topik omong kosong untuk mengawali pembicaraan,” dia mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya dan memasukan satu batangan itu ke mulutnya.

“Aku hanya ingin memastikan kalau—”
“dan perlu kutegaskan,” dia memotong kalimatku sambil menyalakan pematik dan menyulut rokoknya, “aku tidak tertarik untuk berhubungan dengan kalangan rendah. Jadi, jauh-jauh dariku sebisamu, ok?”

Apa?!

“Aku mengerti, maaf sudah mengganggu waktu berhargamu tuan kalangan atas,” aku berdiri dari kursiku, tersenyum sambil menumpahkan segelas jus orange dari atas mejanya tepat di atas kepalanya, hingga cairan orange itu membasahi rambut hitamnya yang tertata begitu stylish dan mengaliri wajahnya yang sok itu.

“Oi, apa-apaan kau?!” Aku mendengar Hiroto.
“Aku tidak perduli apakah kau benar Shinji atau bukan, kau membuatku muak.”

Aku lihat dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, terlihat menahan kesal saat aku beranjak dari sana, mengabaikan makhluk pirang yang misuh-misuh mengataiku dengan macam-macam sebutan.

Benar, apa perduliku apakah dia Shinji atau bukan?
Aku marah karena anak cengeng itu menghilang seperti ditelan bumi setelah mendapatkan keluarga barunya. Aku marah karena dia melupakan Sumire dan juga Naomi-san yang sudah membesarkannya, menyayanginya sampai akhirnya dia mendapatkan keluarga. Tapi sebenarnya itu bukan urusanku kan? Aku hanya kasihan pada Naomi-san.

“Takashi... aku tidak akan melupakanmu. Aku pasti akan selalu mengirimimu surat.”

“Huh? Aku tidak butuh.” 

Aku sedikit tersenyum kecut.

Pembohong...

Tidak, tidak! Aku tidak ingin percaya kalau orang itu Shinji. Dia bukan anak cengeng itu. Dia bukan anak yang masih selalu saja tersenyum dan menguntil padaku meski aku selalu mengejek dan menjailinya, membuatnya menangis.


×÷~To.Be.Continued~÷×