Search + histats

Monday, 20 September 2010

Forbidden Fruit 2

Author : Ruk~Ruki~Rukiiraa^^



rated : T *bisa berubah kalau Author pengen*



genre : romance/ school/ BL dkk



fandom(s) : Deluhi...*yang lain numpang lewat doank*



pairing(s) : AggyXLeda *gyaa~*



chapter : 2



warning : bayangin Aggynya yang lagi di Revolver blast!!

"### -> flashback"

"@@@ -> sekarang" ^^)v



Summary :forbidden fruit is sweetest... Perasaanku padamu adalah sebuah dosa, namun terasa begitu manis



note : wawawawawawawawawawawa!!! *BUAKH*



@@@



Aggy membuka matanya perlahan. Hamparan langit jingga yang luas adalah pemandangan pertama yang tampak saat Aggy mengangkat tirai-tirai matanya. Begitu indah, kekuasaan Tuhan.



Aggy bangkit dari tidurnya. Tampaknya sekolah mulai sepi. Ia menyempatkan diri menilik benda kecil berdetik yang melingkar di pergelangan tangannya.



Jam 5 sore?



Waktu terasa begitu cepat berputar. Mungkin karena Aggy terlalu nyenyak tertidur. Ia bangkit berdiri lalu sedikit menggeliat untuk merilekskan anggota-anggota tubuhnya. Berjongkok mengambil tas gendong serba hitamnya yang tergeletak tak berdaya di lantai lalu mulai melangkahkan kakinya menuju tangga.



Tiba-tiba langkah Aggy terhenti. Terasa ada sesuatu yang sedikit mengganjal di pikirannya. Jari-jari tangan kanan Aggy menyentuh bagian bawah bibirnya perlahan.



apa ini? Rasanya tadi...

Aggy terdiam beberapa saat dengan pikiran-pikiran kotor berputar-putar di otaknya. Ia menyeringai menggeleng-gelengkan kepala menyangkal semua yang mengganjal dipikirannya.



sialan, aku mulai bermimpi aneh-aneh...



@@@



BRAK!



Semua mata anak-anak yang ada di kelas 2D tertuju ke bangku di pojokan kelas. Aggy berdiri dari bangkunya setelah membuat teman-temannya terperanjat kaget, dengan tiba-tiba menggebrak meja.



Kelas yang sedikit ribut mendadak hening. Tak ada satupun yang berani berkomentar maupun bertanya apa yang terjadi sekarang ini pada Aggy. Mereka tak mau ikut campur ataupun berurusan dengan teman sekelas mereka yang sedikit(?) bermasalah itu. Bisa-bisa akibatnya fatal. Setidaknya itu menurut anggapan mereka.



"Ag-Aggy... Ada apa?"



Aggy melempar tatapan dingin penuh hawa membunuhnya pada Sujk yang telah mengerahkan segenap jiwa raga untuk memberanikan diri angkat bertanya. Membuat keberanian Sujk yang telah ia pupuk selama ini menciut seketika. Sujk tak berani lagi melemparkan pertanyaan ke dua dan ke tiga. Ia lebih memilih merapatkan mulutnya sekarang.



Aggy menatap lekat-lekat dua makhluk yang juga tengah memandangnya dari depan kelas. Perasaan Aggy panas, gelisah dan kacau. Apalagi saat anak-anak sekelas menyoraki mereka dan bersuit-suit gak penting. Membuat Aggy benar-benar terusik. Rasanya ia ingin melempar dan menghancurkan semua barang-barang yang ada di kelasnya. Ia bisa, tapi Aggy masih memikirkan biaya yang harus ia tanggung nanti untuk mengganti rugi.



Kini mata Aggy hanya terfokus pada satu orang saja. Bukan dua orang lagi. Ia menatap lekat-lekat anak laki-laki berparas manis itu. Anak laki-laki yang selama beberapa hari ini seperti menghindarinya. Tak ada senyuman, sapaan, apalagi menjemput Aggy di atap sekolah seperti yang biasa ia lakukan. Aggy kecewa, ia tak tahan kalau sehari saja tak melihat senyuman anak laki-laki itu. Aggy selalu gelisah, apa ia telah berbuat kesalahan? Anak laki-laki itu hanya balas memandang Aggy dengan penuh rasa heran.



cukup! jangan memandangku seperti itu!

Aggy menarik tasnya kasar dari atas meja. Lalu ia melangkahkan kakinya beranjak menuju pintu keluar. Semua mata anak-anak di kelas setia mengikuti setiap gerak dan langkah Aggy. Mereka sedikit tersentak saat Aggy tiba-tiba menendang bangku yang ada di depan kelas dan menatap mereka dengan tatapan dingin satu persatu. Serentak anak-anak di kelas mengalihkan pandangan mereka ke arah lain.



"Aggy san, Kiyoharu sensei sebentar lagi datang. Kembalilah ke bangkumu!", ucap Leda menghalangi, terkesan memerintah Aggy namun secara halus.



Aggy tak menggubris kata-kata ketua kelas kesayangannya itu lalu melanjutkan langkahnya. Saat sedang dilanda amarah seperti sekarang ini, tak akan ada yang bisa menghentikan kehendak Aggy sekalipun orang itu adalah Leda.



"Aggy san!", Leda mencengkram lengan baju Aggy bermaksud menghentikan langkahnya.



"BERISIK!!"



DUK



"haaaaaaaaa??"



semua mata anak-anak di kelas terbelalak. Anak-anak perempuan menutup mulut mereka yang membulat mengantisipi tak ada lalat yang masuk. Selama ini mereka tak pernah melihat Aggy secara langsung memukul orang mereka hanya sering mendengar saja.



Mata Aggy membulat sempurna menatap sang ketua kelas tertunduk di hadapannya. Leda menutupi hidungnya yang berdarah?



a-apa yang....

"Leda kun!", teriak seorang perempuan cantik bangkit berdiri tepat dari bangku di samping bangku Leda. Ia menghampiri Leda dengan tergesa-gesa. "daijoubu ka?", lalu ia menempelkan sapu tangannya membersihkan darah dari hidung Leda.



"cih"



Aggy kembali menendang pintu kelas sebelum keluar. Membuat teman-teman sekelasnya kembali jantungan.



Kelas mendadak berisik dan ribut setelah Aggy lenyap. Mereka saling bertanya dan membicarakan Aggy. Apalagi soal tontonan mereka barusan di depan kelas antara anak badung dan ketua kelasnya.



Leda kembali ke bangkunya dengan seorang perempuan memapah, "apa-apaan dia itu? Kita harus melaporkannya ke wali kelas", gerutu perempuan yang memapah Leda. "Leda kun, tidak apa-apa? Sebaiknya ke UKS saja, aku antar ya?", tanyanya dengan wajah khawatir yang terkesan berlebihan. Namun itulah perasaannya.



"tidak apa, wakeshima san jangan anggap aku selemah itu hha", jawab Leda sambil mendudukan dirinya di bangku. Ia merubah mimik mukanya lebih ceria untuk meyakinkan perempuan itu kalau dia baik-baik saja.



Kanon wakeshima nama lengkapnya. Perempuan manis berambut panjang coklat terang dengan poni cantik menutupi keningnya. Dia adalah sekertaris di kelas 2D.



Akhir-akhir ini Leda memang dekat dengan sekertarisnya itu. Sampai membuat teman-teman sekelas menyimpulkan seenak udelnya kalau mereka sepasang kekasih. Leda sudah terbiasa dan tak menghiraukan setiap suit'an ataupun sindiran dari teman-teman sekelasnya saat ia harus berada dekat dengan sekertaris cantiknya itu. Lagipula hubungan mereka memang hanya sebatas antara ketua kelas dan sekertaris, (kalau bisa lebih dari itu ya Leda bersyukurT.T). Apalagi akhir-akhir ini mereka selalu disibukan mendiskusikan perlombaan antar kelas yang diadakan sekolah untuk festival.



"ah iya ya, aku terlalu berlebihan. Bagi laki-laki ini hal yang kecil ya"



Leda tersenyum, "hmm.. Tidak apa-apa, aku berterimakasih Wakeshima san sudah mengkhawatirkanku", Leda kembali menyimpulkan senyuman di wajahnya membuat sekertaris yang duduk di sampingnya menundukan kepala menutupi rona merah yang menghiasi kedua pipinya.



"suit... suit..."



@@@



Aggy terduduk lesu bersandar di samping tempat tidurnya. Lagi-lagi malam ini keberuntungan enggan menghinggapi hingga menambah catatan kekalahan di list nge-treknya. Hanya luka-luka di tangan dan kaki yang ia dapatkan dari hasil treknya kali ini.



ini hukuman untukku...



Aggy tak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi siang saat perasaannya benar-benar kacau dan justru melukai seseorang yang harusnya ia lindungi. Bahkan selama ini Aggy tak pernah berani menyentuh kesucian kulit putih itu, walau hasratnya kadang terasa menggerogoti untuk menjamahnya, tapi Aggy tau diri, ia kotor. sekalinya ia menyentuh, Aggy malah melukainya. Saat dia tertunduk ingin Aggy memeluknya dan meminta maaf. Namun hal seperti itu tak mudah untuk dilakukan Aggy.



Aggy tak bisa menahan rasa kesalnya saat ia melihat perempuan itu duduk di sampingnya, begitu dekat. Setiap senyuman yang tersimpul di wajah mereka hanya membuat Aggy sesak. Aggy tak tahan kalau harus setiap hari berada dalam ruang kelas yang mempertontonkan penyiksaan batinnya seperti itu. Karena itu, ia panas dan tak bisa lagi menahan emosinya.



Tapi bukan berarti Aggy pantas melukai orang yang telah membuatnya kacau itu. Aggy mengutuk tangannya sendiri. Dan ia telah mendapatkan hukumannya sekarang. Darah yang keluar dari luka-luka itu adalah balasan atas perbuatan yang telah dilakukan tangannya. Walau Aggy merasa itu belumlah cukup.



Drrt... Drrt...



Aggy merogoh saku celananya setelah dia rasa ada sesuatu yang bergetar di sana. Aggy menyempatkan diri untuk menengok layar hapenya memeriksa nomor yang telah membuat hapenya bergetar.



Tak dikenal.



Aggy tak mengenal nomor telepon yang tertera di layar hapenya (ataukah lupa?). Lalu ia melemparkan telepon selular yang dirasa telah mengganggunya ke atas tempat tidur.



Bunyi yang ditimbulkan getaran handphone itu tak kunjung berhenti. Sekalipun berhenti selalu dan selalu bergetar kembali. Aggy mematikan handphonenya lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Mengosongkan pikiran yang selalu dipenuhi beban dan sebentuk wajah yang tak bisa ia hilangkan dari pikirannya. Rasa sakit di tubuhnya tak Aggy rasakan, hal kecil seperti ini bukanlah merupakan sesuatu yang pantas Aggy ringisi dan keluhkan. Sudah terlalu sering tubuhnya di sapa rasa-rasa sakit yang bermacam perihnya. Membuat saraf-saraf rangsangan nyerinya seakan tak berfungsi. Mungkin sudah terlalu kebal.



@@@



"minta maaf!"



Aggy menatap dingin pada wali kelasnya yang sedari tadi memaksanya meminta maaf pada Leda di depan kelas. Tentang apa lagi kalau bukan tentang kemarin.



"sudahlah sei, aku tidak apa-apa. Lagipula sepertinya Aggy san tidak sengaja menyikutku waktu itu. Dia hanya berusaha menepis tanganku tapi kena ke hidungku", terang Leda menjelaskan kejadian kemarin.



bodoh!



"tetap saja dia harus minta maaf!"



benar...



Kiyoharu menggeplakan bukunya ke bagian belakang kepala Aggy, "jangan bengong saja kau, ayo minta maaf!"



Aggy mendengus. Ia tau harus minta maaf tapi bukan di depan teman-teman sekelasnya seperti sekarang ini. Semua mata menatapnya dengan penuh harap. Walau mereka tau seorang Aggy yang itu mana mungkin mau mengucapkan kata maaf seenteng itu dari mulutnya.



"sungguh aku tidak..."



"MAAF!"



Aggy beranjak keluar kelas dengan sedikit langkahnya tertatih setelah mengucapkan kata-kata yang menyimpang dari kamusnya. Ia tak menghiraukan panggilan-panggilan dari wali kelasnya yang menyuruhnya untuk berhenti dan melarangnya keluar kelas karena jam pelajaran belum selesai.



Semua anak-anak di kelas shock dan kembali ribut membincangkan satu kata maaf dari Aggy. Mereka tak mengira akan mendengar kata-kata terlarang bagi Aggy itu secara cuma-cuma.



@@@



Bel pulang telah berbunyi, semua anak-anak kelas 2D berbondong-bondong keluar kelas kecuali anak-anak yang mendapatkan tugas piket hari ini, karena di halangi Kanon. Walau sebagian ada yang terpaksa dan ngedumel dalam hati tapi apa boleh buat, daripada mendapatkan omelan-omelan perempuan cantik nan cerewet itu.



"hei, kami selalu dipaksa untuk piket. Lalu bagaiamana dengan si Aggy itu? Dia belum pernah piket satu kalipun", protes seorang anak laki-laki berambut pirang. Yang kebetulan tak sempat kabur dari cegatan Kanon.



"iya, Aki benar! Bagaiamana itu?", Mao ikut mendukung protes Temannya. Semua anak-anak yang mendapatkan tugas piket hari ini jadi saling mengeluh dan protes.



"kalian! Dia kan jarang di kelas sampai jam pelajaran terakhir. Kalian tau sendirikan? Sekarang juga dia gak ada kan? Mau menyuruhnya bagaimana?", Kanon menegaskan membela kehormatannya sebagai sekertaris.



"ya sudah, suruh dia piket pagi hari saja! Berani tidak?", anak bernama Aki nyerocos tanpa disadari sekertaris kelasnya tengah memelototinya.



Leda hanya mendengarkan protes teman-temannya sambil duduk di bangku guru. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis melihat mereka cekcok seperti anak kecil saja. Apalagi disaat seperti ini, ia bisa melihat sisi lain dari sekertarisnya yang berwajah manis itu, sangat cerewet dan galak. Leda terkekeh lalu ia melihat daftar piket siapa-siapa saja yang piket hari ini.



Aggy.



Leda menghela nafasnya, ternyata memang Aggy piket hari ini.



"sepertinya aku tau dimana Aggy sekarang", kata-kata Leda membuat anak-anak yang sedang cekcok dengan kanon berhenti. "Wakeshima san tolong pantau dulu kelas ini. Aku akan segera kembali"



"he? Tapi apa tidak apa-apa?", tanya Kanon khawatir.



Leda menganggukan kepalanya lalu keluar dari kelas. Ia yakin Kalau saja Aggy belum pulang sudah pasti ia di tempat itu.



Leda memegangi hidungnya yang masih terasa sakit sambil menaiki satu persatu anak-anak tangga menuju atap sekolah. Langkahnya melambat. Ada rasa ragu dalam dirinya, jujur saja Leda masih merasa canggung bahkan mungkin sedikit takut untuk berhadapan dengan Aggy sejak waktu itu. Makanya dia sedikit menghindar, bukan benci tapi canggung. Walaupun Leda kurang yakin orang yang bersangkutan menyadari perbuatan tidak senonohnya.



Mata Leda menangkap sesosok makhluk yang ia cari tengah terduduk di lantai dengan kedua tangan sedikit ke belakang menyangga berat badannya sambil mengangkat wajah melihat langit.



Leda telah sampai di atap namun enggan untuk mendekati Aggy. Ia melihat wajah Aggy memancarkan sedikit cahaya, mungkin karena panas dan cahaya matahari menerpa wajah dan tubuhnya.



Aggy menoleh lsedikit mengedip-ngedipkan kelopak matanya dengan ritme cepat. Lalu ia menggosok-gosokan punggung tangan ke kedua matanya. Leda mengerti, mungkin ia terlalu lama menatap langit yang cerah dan sinar matahari. hingga matanya terasa gelap saat melihat ke sekitarnya.



Leda mendekat ke samping Aggy yang terduduk di lantai lalu ia berjongkok. "Aggy san, kau piket hari ini"



Aggy mengernyitkan dahinya, "piket? Tak ada kata piket dalam kamusku", ujar Aggy santai lalu mengarahkan pandangnya ke sekitar. Tak sanggup memandang mata makhluk manis itu lebih dari satu detik. Sebenarnya Aggy sedikit kaget sekaligus senang karena ketua kelas yang selama ini agak menghindarinya ternyata masih mau datang ke tempat ini menemuinya.



Leda ikut mendudukan dirinya di samping Aggy sambil bersila menghadap teman sekelasnya yang susah diatur itu. Leda sedikit memiringkan wajahnya mencoba mendapat perhatian Aggy agar ia mau menatapnya.



"ada apa?", tanya Aggy ketus karena merasa dirinya diperhatikan.



"kau berkelahi lagi Aggy san?", Leda balik bertanya karena melihat ada luka-luka dan memar di tangan Aggy.



"bukan urusanmu!"



"urusanku!"



"bukan!"



"iya!"



Aggy mengangkat sebelah alisnya. "apa hubungannya denganmu?"



"karena aku ketua kelasmu"



Aggy mendengus. Inilah yang ia sukai dari seorang Leda. Percakapan yang ringan namun membuat Aggy senangnya bukan main, karena beberapa hari kebelakang ia tak mendapatkan pecakapan manis seperti ini. Seandainya ia tak punya malu dan mengabaikan gengsinya yang segede gunung fuji. Ia akan berjingkrak seperti anak kecil mengangkat sebelah tangannya lalu mengangkat ketua kelasnya itu tinggi-tinggi. Tapi ia sadar hal seperti itu tak sepantasnya ia lakukan.



"mau ke UKS?", tawar Leda



"cis, aku tak selembek dirimu! Kena sikut saja meringis"



Aggy menggerutu dalam hati, dan mengutuk lidahnya yang selalu mengucapkan kata-kata yang tak sesuai dengan isi hatinya.



"hha... Jadi kau benar-benar sengaja menyikutku heh?"



baka! aku akan memenggal kepalaku sendiri kalau melakukan itu



"kenapa kau menyukai kekerasan? Sebenarnya apa alasanmu untuk berkelahi?", tanya Leda santai seperti tak ada beban dalam dirinya saat menanyakan itu.



"tak ada!", jawab Aggy singkat.



"apa menyenangkan membuat semua orang takut padamu?"



Aggy terdiam beberapa saat, "itu keren"



"hahaha..."



Aggy hanya melirik Leda dengan ekor matanya saat tiba-tiba tawa ketua kelasnya itu terpecah.



"kau lucu juga Aggy san,hha"



apanya yang lucu?



"kau bisa mengajariku berkelahi?"



"he?"



"hha.. Aku hanya bercanda"



Aggy kembali mendengus. Namun hatinya benar-benar bahagia sekarang ini. Ia berterima kasih pada Tuhan karena diberi kesempatan untuk melewati hari ini. "aku sudah menduganya, orang sepertimu pasti tak pernah mengecap bagaimana nikmatnya memukul orang"



"apa maksudmu orang sepertiku? aku hanya selalu memikirkan akibat sebelum bertindak", Leda ngeles sedikit nyengir.



gila...Aaargh!

Aggy membuang muka, memalingkan wajahnya dari Leda dengan tangan memegangi dadanya. Jantungnya benar-benar berpacu seperti pacuan kuda. Sedikit cengiran darinya saja sudah membuat Aggy goyah. Aggy benar-benar dalam keadaan bahaya kalau ketua kelasnya itu sering-sering memperlihatkan cengiran yang menggoda keteguhannya itu.



"ah aku keenakan!", Leda bicara pada dirinya sendiri setelah melihat jam ditangannya, kemudian ia bangkit berdiri.



keenakan?... Bersamaku, keenakan?



"Aggy san..."



"Aggy!"



Leda mengernyitkan dahinya, "baiklah, Aggy.. Karena sepertinya kau sedang terluka. Aku mengijinkanmu untuk tidak piket hari ini tapi tidak minggu depan!"



Aggy diam tak menghiraukan peringatan ketua kelasnya itu. Ia sedikit kesal karena kebersamaannya bersama makhluk hidup kesayangannya itu begitu singkat.



"oh ya, aku tau kejelekanmu sekarang!"



"hah?", Aggy sedikit mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Leda yang kini tengah berdiri, "semua orang juga tau kejelekanku"



"tidak! Kebejadan Ini, hanya aku yang tau. Mungkin....", Leda tampak sedikit berpikir.



"kebejadan apa maksudmu?"



"kau benar-benar tidak ingat?", Leda tak menggubris pertanyaan Aggy malah balik bertanya dengan mimik wajah senang.



"apa-apaan kau itu?", Aggy sedikit bingung dengan pernyataan ketua kelasnya. Leda menghela nafas lega karena sepertinya ia tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal yang sedikit mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. aggy hanya memperhatikannya tanpa berkomentar.



"aku kembali ke kelas", ucap Leda sesaat sebelum meninggalkan Aggy.



jangan...



Leda menghentikan langkahnya lalu menoleh, "kau bilang sesuatu?"



"tidak"



Leda tampak bingung, ia sedikit mengaruk-garuk belakang kepalanya. Lalu kembali meneruskan langkahnya untuk menuruni tangga dengan agak ragu.



Aggy menatap punggung ketua kelasnya semakin menjauh dan menghilang menuruni tangga. Aggy selalu dikagetkan karena sepertinya anak laki-laki itu seakan mengetahui dan dapat mendengar isi hatinya.



Leda



Aggy menerawang ke langit luas. Setiap hatinya menyebut nama itu maka dapat dipastikan jantungnya berdetak tak beraturan. Terasa ada perasaan menyesakan dan wajahnya serasa terbakar.



"Leda... Leda.. Leda.. Leda.. Leda.. Leda.. Leda..", Aggy menggumamkan nama kesayangannya sambil memejamkan mata. Membiarkannya meresap ke setiap rongga hatinya. Hati Aggy begitu meninggikan anak laki-laki itu. Ia terlalu menyayanginya. Tapi Aggy tak bisa menghentikan perasaan sekaligus dosa yang terlanjur membawanya mengecap manisnya hidup. "Leda.. leda.. leda.."



"ya?"



Aggy membuka matanya. Ia terperanjat kaget Leda tiba-tiba kembali berdiri di hadapannya.



"ke-.... a-apa yang kau lakukan disini?", Tanya Aggy sedikit gugup sambil bangkit berdiri.



"ada apa dengan namaku?", tanya Leda cengok.



@@@



"ya, dia masuk sekolah hari ini"



"aku menelponnya tadi malam, tapi anak itu malah menon aktifkan handphonenya"



"kau tenang saja, aku akan selalu menjaga dan memantaunya"



"yah, aku berterimakasih padamu kiyoharu. Untung kau guru di sekolahnya. Laporkan saja padaku kalau anak itu berbuat macam-macam"



"ya"



Kiyoharu menutup telepon selularnya lalu memasukannya ke saku celana. Ia membereskan barang-barang yang berantakan di atas meja kerjanya sebelum pulang.



"Kiyo sensei, duluan ya!", ucap seorang wanita cantik berambut hitam lurus yang juga seorang guru.



Kiyoharu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "hati-hati ada yang menggodamu di jalan yukie sensei", ujarnya setengah menggoda guru perempuan yang lebih muda darinya itu.



Guru yang dipanggil Yukie itu hanya menganggukan kepalanya tersenyum. Kelihatannya guru perempuan itu memang sedikit menaruh hati pada Kiyoharu dan Kiyoharu menyadari hal itu, makanya ia suka sekali menggodanya. Tapi tak ada rasa sedikitpun dalam diri Kiyoharu untuk menjadikannya wanita yang spesial. Ia hanya senang saat guru itu tersipu malu karena godaannya.



Di Usianya yang beberapa bulan lagi mencapai kepala empat. Kiyoharu masih memilih untuk sendiri. Tak ada keinginan untuk mempersunting seorang wanita dan membentuk keluarga yang bahagia. Karena wanita yang ingin ia jadikan sebagai teman hidupnya selama ini telah tiada.



###



Kiyoharu beranjak dari kamarnya menuju pintu rumah yang sudah ia tempati selama tiga tahun. Dengan ragu ia mulai membuka kunci pintunya. Siapa orang yang dengan berani mengganggu tidur nyenyaknya malam ini? Apalagi diluar hujan badai. Orang yang normal, saat seperti ini pastilah memilih memeluk guling di tempat tidur dengan selimut membuntel(?) daripada mengganggu tidur orang dan membuatnya ngedumel dalam hati.



"Ayumi?", Kiyoharu tertegun melihat sesosok wanita dengan basah kuyup berdiri di luar pintu. "masuklah!", Kiyoharu mempersilahkan wanita yang pernah jadi bagian dalam hatinya itu masuk. Dengan segera ia mengambil handuk lalu menyerahkannya pada wanita yang dipanggil Ayumi tadi.



Kiyoharu melihat matanya sembab. Wanita itu menangis. "ada apa? Apa yang terjadi?"



"aku melihatnya Kiyo"



"hah?", Kiyoharu mengangkat sebelah alisnya mencoba mencerna maksud sepenggal kata-kata dari wanita itu, sebenarnya Kiyoharu sudah dapat menebaknya karena ini bukan pertama kalinya wanita ini datang ke rumahnya sambil menangis. "melihat apa?"



Tubuh wanita itu bergetar, entah karena dingin setelah tubuhnya diguyur hujan ataukah karena menangis. Kiyoharu ingin memeluknya, ia sangat sangat ingin memeluk dan menenangkannya. Rasanya menyakitkan sekali karena ia tak bisa melakukan semua itu.



"aku sangat mencintainya Kiyo, sangat sangat mencintainya", Tangan wanita itu mencengkram kerah baju Kiyoharu erat. Wajahnya menyiratkan kalau dia begitu tersiksa saat ini. "aku mencintainya, begitu men... hiks.."



Kiyoharu hanya menatapnya, perkiraannya tentang masalah wanita di hadapannya itu benar. Walau tangannya terasa begitu gatal ingin sekali menyentuhnya, menghapus air mata yang mengalir dengan derasnya. Tapi ia tak bisa.



"tentang Gakuto lagi?"



Wanita itu menundukan kepalanya menenggelamkannya di dada Kiyoharu. Bahunya turun naik karena menangis tersedu-sedu. "a...hiks... Ap-apa yang harus aku lakukan hiks..."



Kiyoharu memberanikan diri mengusap rambut wanita yang basah kuyup di hadapannya. Ia tak bisa mengatakan apapun untuk menghiburnya, tak bisa mengatakan kalau dirinya akan selalu ada untuknya, tak bisa mengatakan untuk berpisahlah dengannya. Ia tau betul wanita ini begitu mencintai sahabatnya walaupun ia harus tersiksa. Mengatakan hal itu hanya akan membuat dia membenci dirinya.



Kiyoharu memegang kedua bahunya yang bergetar lalu sedikit menjauhkan wanita itu darinya. "tenangkan dirimu!, malam ini kau bisa menginap di sini kalau mau"



Wanita bernama Ayumi itu menggeleng pelan, "dia pasti akan marah kalau aku tak pulang"



Kiyoharu mengerti lalu ia menyuruh wanita itu untuk duduk di sofa. Memberinya secangkir teh hangat dan baju ganti karena khawatir kalau berlama-lama memakai bajunya yang basah kuyup dia akan sakit.



"Kiyo.. sampai kapan aku akan mampu bertahan?", gumam wanita itu.


Kiyoharu berjongkok berhadapan dengan wanita yang terduduk di sofanya. "sampai kau memutuskan ingin menyerah. alasanmu bertahan selama ini?"



"aku mencintainya"



Kiyoharu tersenyum kecut. "sekalipun dia menghianati dan menyakitimu?"



Wanita itu kembali mengucurkan air mata di pipinya lebih deras, "demi Aggy. Aku bertahan demi Aggy kecilku"



@@@



"sei"



Kiyoharu sedikit tersentak. "i-iya, eh a-ada apa Hyde sensei?", tanyanya sedikit tergagap.



"kau melamun Kiyo sensei?"



"hha, tidak. Aku hanya melamun saja"



"ooh kirain melamun"



"......"



Seketika itu juga tawa mereka terpecah. Lalu kembali bersikap tenang seperti biasa. "hei, bukankah itu muridmu yang bandel itu?", Ujar Hyde sensei sambil menunjuk keluar jendela ruang guru. Kiyoharu melihat dua murid kesayangannya di luar sana. "penampilannya saja seperti itu. Dasar anak jaman sekarang. Bisa-bisanya anak seperti itu masih dipertahankan sekolah di sini. Pasti pengaruh kekuasaan orang tuanya. Zaman sekarang memang begitu kan?"



Kiyoharu hanya menanggapi kata-kata teman sepekerjaannya dengan senyuman. Mereka semua tak tahu Aggy, makanya bicara seenaknya. Tapi Kiyoharu... Dia begitu mengenal anak itu. Anak yang terlahir dari rahim wanita pujaannya.



@@@



"sudahlah! Ini bukan apa-apa untukku!"



"tapi ini harus mendapatkan perawatan lho. Kalau tidak, bisa infeksi. Berterimakasihlah pada ketua kelasmu itu, karena membawamu kesini", Ujar Saga sang dokter sekolah yang cuantik sambil mengobati luka-luka di tangan Aggy. Leda duduk di kursi di belakang Saga sambil melihat Aggy diobati. Aggy jadi canggung dibuatnya. "kau sering bergadang ya?", tanyanya Saga tiba-tiba.



"kenapa memangnya?"



"matamu merah, tapi tubuhmu tak bau minuman atau obat-obatan. Itu tandanya kau kurang tidur. Dan lukamu ini... Seperti luka jatuh dari kendaraan. Kau nge-trek malam-malam ya?"



Aggy menepis tangan Saga yang tengah mengobati luka-lukanya. "BUKAN URUSANMU!!



"ckckck... Ok, bukan urusanku! Aku juga tak memaksamu untuk menajawabnya. Santai saja~ rileks.. Rileks.."



Aggy mendengus. Sensei di hadapannya ini benar-benar sok tahu. Walau apa yang dikatakannya memang benar tapi tetap saja menyebalkan.



"gawat!", Ujar Saga tiba-tiba berdiri.



"ada apa sei?", tanya Leda heran. Aggy hanya menatap sensei cantik itu dengan sinis.



"kebelet hhe... Ditinggal dulu ya. Darurat! Kalian tunggu saja disini!" Lalu Saga ngibrit keluar ruangan dengan tergesa-gesa. Leda dan Aggy sweatdrop.



Kini tinggal mereka berdua yang berada di ruangan UKS itu. Aggy sedikit canggung tak tau harus membicarakan apa dengan Leda. Padahal selama ini ia sudah sering berduaan dengan ketua kelasnya itu di atap sekolah. Mungkin karena kali ini keadaannya sedikit berbeda ya? Atap sekolah adalah tempat terbuka sedangkan UKS ini? Ruangan yang sempit dan tertutup. Membuat Aggy gugup.



"aku kembali ke kelas", Leda berdiri dari duduknya.



ah, sial...



"tadi aku meninggalkan anak-anak yang lain dan Wakeshima di kelas untuk piket, sepertinya aku kelamaan pergi", Ujarnya kembali nyengir seakan sengaja menggoyahkan keteguhan Aggy.



Wakeshima...



"ada hubungan apa kau dengan gadis itu?", tak terasa lidah Aggy mengucapkan pertanyaan apa yang ada dalam hatinya.



"apa?"



"eu.. Maksudku...", Aggy gelagapan



"haha tidak ada apa-apa kok! Kami tak lebih dari ketua kelas dan sekertarisnya", jawab Leda enteng sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya. "kenapa? Sepertinya kau cemburu setiap melihat kami dekat. Bahkan kemarin pun..."



a-apa? Dia...



keringat dingin mengucur di pelipis Aggy. "tapi kami sungguh tidak ada apa-apa kok!", Leda berusaha meyakinkan Aggy.



Aggy serasa melambung tinggi. Harus bahagiakah ia karena Leda bersikeras meyakinkannya kalau dia tidak ada apa-apa dengan gadis itu. Dan itu sudah cukup bagi Aggy untuk tidak mengkhawatirkannya lagi.



"kau menyukai Wakeshima?"



Dan saat itu juga Aggy merasa serasa terjatuh dari puncak Tokyo Tower. GUBRAK!



Aggy sadar ia terlalu berharap banyak. Saat seorang laki-laki merasa cemburu melihat dua makhluk hidup laki-laki dan perempuan begitu dekat. Orang normal pastilah menebak dengan yakin bahwa laki-laki itu menyukai anak perempuannya. Dan itu juga yang dilakukan Leda, bahkan mungkin semua orang juga akan beranggapan seperti itu. Jadi Aggy tak bisa menyebut ketua kelasnya itu lemot atau tak peka karena memang seperti itulah seharusnya. Namun dunia Aggy berbeda, ia telah memasuki dunianya yang tak normal dan Aggy selalu sadar akan hal itu.



"sejak kapan kau menyukainya?", tanya Leda polos



Aggy menatapnya dingin, "diam!"



Leda tersenyum. Ia menyadari pertanyaan yang ia ajukan adalah pertanyaan pribadi. Tak semua orang mau membagi masalah mereka dengan orang lain. Apalagi kalau orang itu adalah orang jauh seperti dirinya dan Aggy.



to@be@continued...

Forbidden Fruit 1

Author : Ruk~Ruki~Rukiiraa



rated : M...~> Mature *shocked* T sih XD



genre : romance/ school/ BL X3



fandom(s) : Deluhi.. *sisanya numpang lewat doank*



pairing(s) : AggyXLeda *gyaa~*



warning : bayangin Aggynya yang lagi di Revolver blast!!!



Summary : forbidden fruit is sweetest.... perasaanku padamu adalah sebuah dosa. Namun terasa begitu manis



note : O.M.G sussssssaaaaaahhhh!!!





@@@



"kiyoharu sensei menyuruhmu untuk menghadapnya ke ruang guru! Aggy san"



"berisik ah!", tanggap laki-laki yang dipanggil Aggy itu dengan malas. Ia masih tiduran di lantai tanpa mengubah posisinya menatap birunya langit dan membiarkan tubuhnya diterpa terik matahari sekalian berjemur. "kenapa kau selalu menggangguku?"



"karena aku ketua kelas. Aku bertanggung jawab kalau ada teman sekelasku yang tak mengikuti pelajaran tanpa alasan", jawab laki-laki berambut kecoklatan menjelaskan.



Aggy mendengus. "sombongnya~"



Aggy tak bisa menahan senyuman tipis yang tersimpul di bibirnya. Ia senang, orang yang sejak tadi ia tunggu-tunggu akhirnya datang menjemputnya seperti biasa. Dia lah Alasan yang membuat Aggy harus membolos setiap hari.



"hebat juga, kau selalu bisa menemukanku"



"tentu saja. Setiap membolos kau pasti di tempat ini"



Karena dengan begitu dia akan mencari dan menemukan Aggy di tempat ini. Di atap sekolah.



@@@



"mau jadi apa kau? Selalu bolos pelajaranku", bacot Kiyoharu sensei sambil menggeplak kepala Aggy dengan bukunya. aggy sudah sering mendapatkan perlakuan seperti ini, membuatnya jadi kebal. aggy mengacuhkan setiap ceramah dan bacotan wali kelas sekaligus guru Matematikanya itu dan menganggapnya hanya angin ribut yang membuat telinganya rombeng kalau harus didengarkan. "aku bicara padamu! Tatap kesini"



guru itu kembali memukulkan bukunya ke mulut Aggy yang tengah mencibir. Setiap perlakuannya pada Aggy seakan tak punya perasaan, dia memang dikenal sebagai kira no sensei karena kesadisannya memperlakukan murid yang memang tak mau menurutinya. Tapi Aggy tau dia, Aggy tau Kiyoharu sensei lebih daripada murid-murid yang lainnya.



"dan rambutmu ini? Sudah kubilang berapa kali rapikan rambutmu! Kau mau jadi berandal heh?"



"argh, jangan kotori rambutku!", Aggy menyingkirkan tangan kiyoharu sensei yang dengan sengaja menjengut-jengut rambutnya. "dasar kau ini! Leda sebagai ketua kelas coba kau ajak dia ke jalan yang benar!!"



Aggy melirik anak yang lebih kecil darinya itu dengan ekor matanya. "tidak apa-apa sei, menurutku gaya rambutnya khas. Jadi mudah untuk membedakannya dengan yang lain hha", ujar Leda sambil tertawa garing. Akhirnya dia harus turut mendapatkan geplakan dari buku kiyoharu.



manis



Aggy memutar bola matanya ke arah lain. Menatapnya lama-lama hanya akan membuat tubuh Aggy tak berdaya. Apalagi saat mata kecoklatan itu bertemu dengan matanya, maka dapat dipastikan kesadaran Aggy akan menghilang.



Aggy berjalan disepanjang koridor sekolah mengikuti langkah makhluk berambut kecoklatan itu, setelah sebelumnya Kiyoharu mengizinkan mereka untuk kembali ke kelas. Tanpa sadar Aggy tak bisa mengalihkan pandangan matanya memperhatikan punggung mungil dihadapannya. Setiap gerak dan langkahnya, rambutnya yang sedikit tergoyang karena gerakan yang dia lakukan. tubuhnya yang ramping (atau kerempeng?), kulit tengkuknya yang putih. Aggy terbuai dengan pemandangan indah dihadapannya.



sial, aku ingin memeluknyaaaa

"he?", Leda menoleh seakan menyadari pikiran-pikiran bejad Aggy. "kau mengatakan sesuatu Aggy san?"



"tidak", jawab Aggy datar. Ia berhasil menutupi kekagetannya karena merasa Leda menyadari apa yang dilakukan matanya sedari tadi. "kau itu terlalu kolot. Sudah kubilang berapa kali panggil aku Aggy!"



Leda menatap mata Aggy beberapa saat. Kemudian dia tersenyum menyetujui perkataan Aggy sebelum melanjutkan langkahnya.



brengsek! Kau membuat tubuhku melemah!

Aggy menyukai ketua kelasnya. Aggy mengagumi sosoknya. Aggy menyayangi orang yang selalu membuatnya gelisah sekaligus nyaman itu, Aggy mencintainya. Tapi ia selalu disadarkan, kalau itu adalah suatu kesalahan.



@@@



..klek...



Aggy menutup pintu Apato yang sudah ditempatinya selama kurang lebih 1 tahun itu. Ia melempar tas sekolahnya ke sembarang tempat di kamarnya lalu ia menjatuhkan diri di atas tempat tidur berukuran queen size untuk sedikit menghilangkan rasa lelah. Matanya menerawang kosong ke langit-langit lalu memejamkan matanya perlahan. Seperti biasanya, Leda memenuhi pikiran Aggy. Saat matanya terbuka maupun terpejam, hanya wajah itu yang terbentuk di otaknya. Aggy hampir gila, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak ingin senyuman itu menghilang saat ia harus memaksakan egonya.



ini salah, aku tau

###



"Aggy san"



Aggy mengangkat wajahnya untuk melihat wajah orang yang tengah berdiri di hadapannya. "ada apa?", tanya Aggy jutek



Orang itu berjongkok supaya wajah mereka bisa saling berhadapan, "kenapa duduk di sini? Kau tidak mau ikut pelajaran?", tanyanya dengan wajah ramah.



"siapa kau? Terserah aku mau ikut mau nggak kan! Bukan urusanmu!", jawab Aggy ketus. Tiba-tiba jari tangan orang itu menyentuh sudut bibir Aggy yang memar dan sedikit berdarah. Membuat mata Aggy membulat dan spontan menepisnya. "brengsek! Apa-apaan kau?", bentak Aggy geram



"kau berkelahi?"



"BUKAN URUSANMU!", Aggy bangkit dari duduknya dan menatap orang itu kesal. "siapa kau? Berani sekali menggangguku!, apa kau tidak tau siapa aku?"



"aku tau"



"ka- kau tidak takut denganku heh?"



Orang itu tersenyum lalu menunjuk dengan telunjuknya tepat di hidung Aggy, "kau yang tidak tau siapa aku! Aku tak akan jadi ketua kelas kalau harus takut denganmu!"



Aggy membelalakan matanya. Selama ini ia dikenal sebagai anak yang bermasalah dan badung sejak masuk ke sekolah. Berkelahi sudah jadi makanannya sehari-hari, dan ruang BP adalah tempat yang lebih sering ia kunjungi daripada kelas. semua orang takut padanya termasuk kakak kelas. Tak pernah ada yang berani mendekatinya apalagi cari masalah dengannya. Tapi orang yang baru ditemui Aggy sekarang... Berani sekali dia.



Sejak saat itu, orang yang dianggap misterius oleh Aggy itu selalu datang mencarinya ke atap dengan alasan disuruh oleh wali kelas. Awalnya Aggy selalu merasa dia sangat mengganggu kegiatan membolosnya. Namun diluar dugaan lama kelamaan ia jadi selalu menunggu orang itu datang mencarinya. Ia selalu menunggu nunggu saat orang itu memanggil namanya.



Sudah hampir satu bulan Aggy menjadi murid SMU. Namun dapat terhitung dengan jari berapa kali ia memasuki kelas. Ia pernah ingat sekali waktu saat hari pertama memasuki kelas, ada seorang guru yang memanggil ketua kelasnya untuk maju ke depan. Namun Aggy tak memperhatikan maupun memperdulikannya, karena baginya itu tak penting. Ia tak pernah tau kalau orang yang dia abaikan itu akan menjadi bagian terpenting dalam hatinya.



@@@



"Aggy"



"ngh.."



"dasar! Kau masih saja sulit untuk dibangunkan", ucap seorang wanita tersenyum sambil duduk di atas tempat tidur di samping Aggy. Tangannya mengusap usap rambut Aggy yang tengah tertidur dengan pulasnya. "bagaimana kabarmu Aggy? Lama tak bertemu kau semakin tumbuh besar", gumam wanita itu dengan tangannya masih mengelus rambut Aggy, ia tersenyum simpul, "mirip dengan ayahmu ya"



wanita itu menurunkan kepalanya mendekatkannya ke wajah Aggy. Memandang wajah tidur Aggy dan mengecup keningnya lembut.



Aggy tersadar dan perlahan membuka kedua kelopak matanya. matanya membulat sempurna melihat wajah wanita yang sudah tak asing dalam kehidupannya, wanita yang telah menggoreskan noda hitam di kertas putih kehidupan Aggy . "KAU! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?", Tanya Aggy dengan nada tinggi sambil bangkit dari tidurnya.



Wanita itu tersenyum lembut tak menggubris pertanyaan Aggy, "kau sudah bangun?", tanyanya ramah. "maaf tadi pintunya tidak dikunci, aku sudah menekan bel tapi tak ada jawaban", terangnya masih dengan wajah ramah.



Aggy memandang tajam wanita yang lebih tua 10 tahun darinya itu. Cantik memang. Bertambahnya usia tak membuat kecantikan wanita itu pudar. "mau apa kau?"



"Aggy pulanglah, ayahmu ingin-"



BUK.



Aggy membanting keras bantal ke dinding. "jangan menggangguku! ....lagi", ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangan yang dilipat diatas kedua dengkul kakinya. "aku muak!"



wanita itu memandang Aggy lekat-lekat. Iya tau betul beban yang di rasakan anak laki-laki di hadapan matanya. Ia mengerti Aggy. Anak laki-laki kecil yang selalu ingin ia lindungi. Ia peluk dan ia cium. "Ag-Aggy", wanita itu kembali membelai rambut Aggy lembut, "rambutmu sudah panjang ya? Kalau ayahmu lihat, dia pasti akan sangat marah"



Aggy menepis tangan putih itu tanpa mengangkat wajahnya. Tangan yang sudah tidak asing Aggy kecap kelembutannya, Aggy rasakan kehangatannya. Tangan yang selalu mengusap dengan lembut setiap memar di tubuhnya. Meraih tubuhnya setiap ia mendapatkan cambukan dari sang ayah. Aggy merindukannya tapi ia benci.



"Aggy"



"berisik!"



Wanita itu tersenyum lembut. Ia merindukan Aggy yang dingin itu. Tangannya meraih tubuh Aggy yang menelungkup dan memeluknya erat. Ia sangat menginginkan kehangatan itu. Kehangatan tubuh Aggy.



"apa yang kau lakukan?", Aggy mengangkat wajahnya spontan mendorong tubuh wanita itu untuk menjauh darinya. "pulanglah, percuma kau kesini untuk membujukku. Aku tak sudi harus pulang ke rumah itu"



"tapi Aggy, ayahmu tidak seperti dulu lagi, dia sudah-"



"sadar?", potong Aggy. "lalu bagaimana dengan perasaanku? Bagaimana dengan semua yang telah berubah ini karena keegoisannya? Apa dia bisa merubahnya kembali seperti semula?"



"maafkanlah dia"



"KAU TIDAK TAU APA-APA!!!"



Wanita itu menundukkan kepalanya. Ia tau, tentu saja ia tau. Ia adalah salah satu penyebab dari perubahan yang disebut Aggy. Ia yang membuat keluarga itu tercerai dan berantakan. Ada rasa penyesalan dalam dirinya namun semua sudah terlambat. Ia tak bisa mengembalikan semuanya.



Aggy bangkit dari tempat tidur lalu menuju dapur dimana ia selalu menyiapkan segala kebutuhan perutnya sendirian. Ia membuatkan segelas kopi susu lalu menyerahkannya pada wanita yang masih terduduk di tempat tidurnya. "setelah meminum itu. Pulanglah!"



Wanita itu kembali tersenyum namun kecut. Ia menyeruput kopi yang telah dibuatkan anaknya itu. Aggy melihat tangan wanita itu sedikit bergetar.



Lalu ia bangkit dari duduknya. Menyerahkan gelas kopi yang sudah dia seruput setengahnya pada Aggy lalu merapikan bajunya. "baiklah, aku pulang...", wanita itu menggantung kata-katanya, lalu tersenyum getir. "jaga dirimu baik-baik. Kami menunggu kepulanganmu Aggy"



Aggy hanya menatap wanita berambut panjang lurus itu datar tak menunjukkan ekspresi apapun. "ada apa?"



wanita itu mendongak, "ya?"



"ada hal lain yang ingin kau katakan?"



Lagi-lagi wanita itu tersenyum lalu menggeleng kepalanya pelan. Ia mengambil tasnya yang tergeletak di tempat tidur Aggy lalu berpamitan pulang setelah sebelumnya menyerahkan sejumlah uang untuk Aggy. Sebenarnya Aggy enggan menerima uang yang sudah pasti titipan ayahnya itu. Namun karena memang sekarang ia sedang kesulitan keuangan karena keberuntungan akhir-akhir ini tidak berpihak padanya. Sudah dua kali berturut-turut ia kalah balapan, padahal sebelumnya ia tak pernah kalah dan menghidupi dirinya dari hasil kemenangannya itu. Kalau soal biaya sekolah, iya tak pernah memikirkannya karena ayahnya yang mengurus. Kalau tidak begitu, ngapain juga dia harus sekolah. Toh sekolah bagi Aggy hanya membuang-buang waktu dan uang saja.



Namun akhir-akhir ini memang pandangannya sedikit berubah tentang bersekolah. Karena ada satu orang yang selalu membuat Aggy rindu sekolah. Bukan rindu belajar atau duduk dibangku mendengarkan celoteh guru. Tapi saat-saat orang itu tersenyum padanya, dan memanggil namanya 'Aggy san', itulah yang Aggy rindukan. Membuat degup jantung Aggy lebih kencang, wajahnya memanas dan kadang membuat Aggy tak berdaya. Dan itu adalah sebuah tantangan untuk Aggy.



..Blam..



pintu apato Aggy tertutup. Kini wanita itu telah lenyap dari ruangan. Aggy terduduk di atas tempat tidurnya dengan menundukan kepala. Sebelah telapak tangannya menutupi sebagian wajahnya. Aggy tau masih ada yang ingin dikatakan wanita itu, tapi apa?



Aggy menepis rasa penasarannya. Ia tak mau lagi perduli dengan urusan keluarga yang sudah berantakan itu. Ia ingin menikmati hidupnya sekarang. Tak mau terlibat lagi dalam keluarga yang sudah membuatnya seperti sekarang ini. Aggy hanya ingin menikmati perasaan manis yang selalu ia jaga selama ini. Perasaannya pada anak 'laki-laki' yang telah membuatnya merasa benar-benar hidup.



Leda



@@@



Grek



Aggy memicingkan matanya melihat seseorang tengah dengan berani duduk di bangku di sampingnya. Ini sungguh kejadian langka bagi Aggy. Yang ia yakini selama ini, teman-teman sekelasnya takut akan dirinya. Mungkin juga membenci dirinya. Aggy tak punya teman untuk membagi kesenangan maupun kesedihannya. Karena memang Aggy tak membutuhkan yang seperti itu.



"hai Aggy", sapa anak laki-laki itu ramah sambil mengangkat sebelah tangannya.



Aggy masih melihat ada rasa ragu dan takut pada diri orang itu saat menyapanya. Entah karena kalah taruhan atau apa hingga membuat anak itu memaksakan diri untuk mendekati Aggy. Aggy tau jelas dia adalah teman sekelasnya namun Aggy tak tau siapa namanya, selain Leda, Aggy tak tau nama-nama teman sekelasnya sendiri dan ia tak mau tau.



Aggy kembali memain-mainkan balpoin ditangannya tanpa menggubris sapaan orang di sebelahnya itu. Terlihat dengan jelas di wajahnya, orang itu kecewa dengan sikap Aggy yang terlalu dingin dan.. menakutkan. Sebenarnya ia sudah tau akan seperti ini, hanya saja ia berpikir tak ada salahnya kan mencoba. Ia menghela nafas berat lalu bermaksud untuk kembali ke bangkunya yang terletak di depan kelas. "ada perlu apa denganku?", tanya Aggy tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan matanya ke balpoin yang sedang ia mainkan ditangannya. Anak laki-laki yang lumayan(?) manis itu cukup terperanjat. Ia tak menduga Aggy mau bicara padanya.



"a-aku.. tidak, aku hanya-"



"bicara yang jelas!", tukas Aggy tanpa ekspresi.



Anak laki-laki itu menelan ludahnya paksa, "a-aku, sejak naik ke kelas 2 jarang sekali melihatmu masuk kelas"



Aggy melirik orang di sampingnya itu dengan ekor matanya. Keringat dingin mengucur di pelipis anak laki-laki itu saat melihat Aggy meliriknya. Menurutnya tatapan Aggy sangat menakutkan.



Aggy menyadari kegugupan yang dirasakan orang itu. Ingin rasanya Aggy tertawa terbahak-bahak namun hal itu tak pantas dilakukan seorang Aggy, "kau tidak perlu memaksakan diri! Kembalilah berbincang-bincang dengan teman-temanmu", saran Aggy



"apa? Ti-tidak! Aku tidak memaksakan diri.. sungguh!", orang itu memberi jeda sesaat untuk menghirup oksigen sebelum melanjutkan kata-katanya, "Leda saja bisa bicara denganmu. Karena itu aku juga..."



mendengar nama 'Leda' Aggy memalingkan wajahnya. Kali ini seluruh wajah Aggy dapat dilihat mata orang itu secara bebas. "maksudku, kau pasti orang baik. Tidak seperti yang dibicarakan orang-orang tak bertanggung jawab itu tentang dirimu. Seburuk apapun imagemu tak mungkin sampai memukul orang tanpa alasankan?, buktinya aku lihat Leda bisa akrab denganmu"



akrab? Benarkah?



"karena itu..."



"siapa namamu?"



"he? Eh, aku.. namaku sujk"



Aggy menyeringai tipis, "aku suka kau"



Mata Sujk membulat sempurna, kemudian ia terperanjat membuat kursi yang didudukinya sedikit tergeser dan menimbulkan bunyi 'grek'. "a-apa maksudmu berkata begitu?"



Aggy bangkit dari duduknya setelah menilik jam yang melingkar di tangannya. menarik tas gendong hitamnya yang tergeletak di atas meja lalu pergi tanpa menggubris pertanyaan orang bernama Sujk tadi. Ini saatnya bagi dia untuk mengunjungi tempat favoritnya sekalian menengok Leda yang keluar sejak bel istirahat tadi ke ruang guru.



Sujk masih terdiam di tempatnya berdiri. Pikirannya kesana kemari berusaha mencari kesimpulan maksud dari kata-kata Aggy tadi.



@@@


ah, si Kiyoharu itu selalu menahannya



Aggy memperhatikan ketua kelasnya dari luar jendela ruang guru. Leda tampak serius dengan pekerjaannya membantu Kiyoharu sensei memeriksa pekerjaan rumah murid-muridnya. Aggy menggerutu dalam hati, karena si kiyoharu itu, tampaknya hari ini Leda tak bisa menemaninya di atap sekolah. Aggy melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah, menaiki anak tangga yang sekian banyaknya. Namun karena telah terbiasa, ia tak merasa pegal ataupun merasakan lelah pada kakinya.



Aggy menghirup udara yang bergerak bebas, membiarkannya memasuki rongga hidung, tenggorokan dan paru-parunya. Membuatnya merasakan kesegaran di sekujur tubuhnya yang di sapa angin semilir. Aggy sedikit meregangkan badannya, akhir-akhir ini kulit gelap sedang tren, jadi sekalian berjemur seperti biasa ia merebahkan tubuhnya di lantai dengan menjadikan kedua lengan sebagai bantalan. Hari ini langit terlihat lebih bersih tanpa awan-awan putih menggantung di sana. Matahari juga sangat terik membuat Aggy harus menutupi matanya dengan sebelah tangannya karena silau. Tanpa sadar Aggy mulai terbuai ke alam bawah sadarnya.



@@@



Leda menutup pintu ruang guru dengan perlahan. Lalu ia mulai melangkahkan kakinya menuju kelas dengan perasaan ragu?



Waktu istirahat 5 menit lagi selesai. Leda memutar arah langkahnya berlawanan arah dengan jalan menuju kelas. Ia menyusuri jalan dan menaiki anak-anak tangga yang sudah sering ia pijaki sebelumnya. Jangan tanyakan kenapa karena Leda sendiri juga bingung. Ia yakin Aggy pasti ke tempat itu. Dan walau tanpa disuruh Kiyoharu sensei Leda tiba-tiba ingin mencarinya seperti biasa yang ia lakukan. Apakah ini faktor kebiasaan? Hingga rasanya tak puas kalau Leda tak memijakan kakinya di lantai atap di mana ia selalu menemukan Aggy yang membolos.



Leda tersenyum. Ternyata apa yang ia yakini tepat. Buktinya di hadapan leda ada sesosok makhluk tengah dengan tenangnya terlentang di lantai dengan sebelah tangan dijadikan bantalan sedangkan tangan yang lainnya menutupi matanya yang memang sudah terpejam.



"ya ampun, bisa-bisanya tertidur pulas di tempat yang terkena terik matahari begini", gumam Leda, bicara pada dirinya sendiri. "Bangunkan tidak ya?", tanyanya lebih pada dirinya sendiri.



Leda berjongkok di samping Aggy yang tertidur dengan begitu pulasnya. Ia memperhatikan wajah tidur Aggy beberapa saat kemudian memajukan bibir bawahnya. "tidak jelek" gumamnya lagi, "tapi gak cakep juga", tambahnya lalu terkikik sendiri seperti orang kesambet tuyul. Lalu leda menepuk keningnya, "apa-apaan aku ini? Huh"



Leda kembali terdiam. Rasanya gak tega juga kalau harus membangunkan makhluk kebluk di hadapannya itu. Ia menghela nafas dan memutuskan untuk tak membangunkan Aggy yang sepertinya tengah menikmati mimpinya di bawah terik matahari.



Leda mengangkat tubuhnya hendak berdiri namun tiba-tiba ia merasakan tangannya berat seakan ditarik tiba-tiba. Otomatis Leda kembali berjongkok. Kepala Leda membungkuk karena ada tangan yang menekan belakang kepalanya, menghadap wajah yang masih bertahan dalam alam mimpi. Leda sedikit tersentak ia berusaha membetulkan posisi yang tak menguntungkannya itu namun tangan yang menekan kepalanya dari belakang begitu kuat.



apa-apaan iniiiiiii??





To@Be@Continued..

Remember The Rain [songfic]

Author : Rukira sukiredasanibuki Matsunori XD



Rated : M (mungkin T?)



genre : *huwaaa paling gak bisa nentuin genre* romance aja



note : karena hujan muluw jadi pengen buat fic ini wkwkwk tptptptp enaknya baca ini sambil dengerin lagunya, biar ngerasain aku yang hampir mewek :'( *plak*





Remember the Rain~

song by : DELUHI





Ket : BOLD : lirik lagu

ITALIC : translate lagu





Ini my 1st songfic... harap dimaklum kalau gaje :) and and and ini lyricnya gak ngikut juri waktu nyanyi eh eh maksudnya kalau ada lirik yang udah di atas, gak saia tulis lagi XDDDD



POV : orang ketiga dan orang pertama (berubah ubah)



;";";'';





"Duh.. Ngedadak nih", seorang laki-laki tinggi tampak menepuk nepuk jaketnya yang kena jatuhan jatuhan air, dia mendengus melihat ke arah langit sambil berteduh di halte bis, "sial, kok tiba-tiba hujan sih?", gerutunya.



"haha.. Ini anugerah dari tuhan, harus disyukuri", ujar laki laki berparas putih temannya sambil tertawa tawa.



"yah, tapi kan-"



"apa?"



"iya.. iya..", laki laki itu agak cemberut menerima kekalahannya, sedangkan temannya yang lain hanya terkikik geli melihat ekspresi temannya itu. Ia tersenyum melihat temannya yang merapatkan jaket hitamnya tampak kedinginan, angin sore berhembus ditengah hujan sedikit menggerakkan rambutnya... samar samar seperti terdengar suara..



"hujan ya..."



Gogo no tsumetai kaze ga nobita kami wo suri nukeru...haiiro ni somatta sora wa naiteru... the cold afternoon's wind, slipped through your straight hair..The grey colored sky is crying..



ingat pertama kali aku memperhatikanmu di seberang jalan sana, berdiri dianatara peteduh peteduh bergordenkan rintikan air hujan.



Aku tau siapa kamu, aku tau namamu, wajar saja karena kita teman sekelas. tapi aku tak tau apa yang kau sukai dan kau benci, aku tak tau masalah apa yang sekarang kau hadapi, aku tak tau apakah kau sadar aku di sini. Kita seperti berada di dunia yang berbeda...



Kau tersenyum saat kau ingin tersenyum, kau tertawa lepas saat di hadapanmu ada sesuatu yang lucu, bahkan kau bisa menangis di hadapan semua orang saat kau menghadapi kesedihan, tapi aku? Tidak.



Di saat hujan.. aku selalu berpikir, langit mendung berwarna abu-abu itu mewakili perasaanku



Tatazumu hito ha shinkiro, keshiki tokeru BUS teiDaremo ga mukanjou na boukyaku matteiru

the people standing like a mirage, the bus stop that melts with the sceneryeveryone awaits the senseless oblivion

Orang orang berdiri seperti sebuah fatamorgana, kabur bagai objek yang blur.. Aku hanya bisa melihatmu dengan jelas di sana.. Kau yang sama sekali tak melihat kearahku.. Tampaknya Hp mu lebih menarik minatmu daripada aku..



Kau berada diantara jajaran orang orang yang menunggu hujan itu reda, tapi aku berdiri di sini seperti orang tolol yang menunggu kau menyadari keberadaanku.



I was walking alone, the way we walked together can you hear me now? I always think of you.

ingat saat pertama kali kita bertegur sapa, kau menyapaku yang berjalan sendirian. Di jalan itu.. kita membicarakan banyak hal.. Dan aku kembali menapakinya, berharap kau akan kembali menyapaku.. Berharap kau mendengar keinginanku, aku selalu dan selalu memikirkanmu



Remember the rain toki ga tomatta mama, zutto samenai yume wo miteiru

remember the rain, the time has stopped forever in a dream from which you won't wake up

saat hujan, waktuku seakan berhenti... memecahkan ingatan ingatan tentangmu.. Diantara satu persatu rintikan hujan itu membawa memori setiap senyuman dan tawamu.



Aku seperti terseret dalam mimpi di siang hari.Saat hujan.. Aku bisa merasakan kau berada di sini



me wo tojireba kawaranu kimi ga kokoro wo nurasu Zawameku machi kyou mo ame ga utau

if i close my eyes, you, who are always the same soak into my heart.To day in the noisy street, the rain sings



Setiap aku menutup mata bersama dinginnya hawa hujan, kau memelukku.. Membisikkan kata kata yang menghangatkanku. Kau tidak pernah berubah, selalu sama seperti waktu itu.. seperti saat kau berdiri disampingku menengadah menatap langit mendung, dan berkata bahwa kau sengaja meninggalkan payungmu di rumah agar bisa berteduh denganku. Apa kau tau? Saat itu telingaku seakan tuli, tak mendengar riaknya air hujan dan kendaraan kendaraan yang melintas. Aku hanya bisa mendengar suaramu, suara yang merdu.. yang mengatakan bahwa kau ingin aku berada disampingmu.



Dan di jalan yang bising itu, tetesan tetesan air hujan seakan bernyanyi untukku



Utsusuriyuku hibi ha ashibaya ni arata kisetsu sagasu nobita kage kokoro ni kasa wo sashiteiruthe days come and go fast, searching for a new seasonyour straight hair is raising an umberella over my heart



melewati hari hari bersamamu terasa begitu cepat berlalu.



Setiap senyuman, bisikan, dan canda tawamu masih melekat erat di batinku. Sentuhan tanganmu di keningku, kecupan lembut bibirmu masih terasa manis membekas di sini. Dan aku menginginkannya... Hei? Apa kau mendengarku? Masih terngiang jelas di pikiranku saat angin sore itu tanpa seizinmu menyentuh rambut hitammu, tergerak lembut menggetarkan perasaanku.



Teduh.Melihatmu membuat perasaan ini teduh. Aku ingin merasakan perasaan itu lagi... Hei, buat aku merasa teduh walau dalam guyuran hujan



any day, any time, anywhere just like the rainany day, any time, any where you're talking to me



Setiap hari, setiap waktu, dimanapun.. Di kala hujan Aku selalu teringat akan dirimu dan semua kenangan tentangmu..Setiap hari, setiap waktu, dimanapun.. dikala hujan.. setiap tetesannya adalah suara merdumu. Suara yang senantiasa menyapaku, berbisik lembut ditelingaku



Remember the Rain ashita ga nagaretemo, kitto kawaranai omoi ga aru chibaratta kioku ga nandemo tsumikasanariatte kanawanu negai yureru kokoro ni utsusu

even if tomorrow it's washed awaysurely, there will be sentiments which won't changethe scattered memories will be merged many times overthe ungranted wishes will cast a shadow over my swaying heart



ingat dikala hujan, tak sengaja mataku menangkap sosokmuingat dikala hujan, aku mulai memperhatikanmu di seberang jalan itu.Ingat di kala hujan aku telah berani berharap kau memandangkuingat dikala hujan, kau tersenyum menyapaku dengan suara lembutmuingat dikala hujan, kau katakan aku lebih penting daripada payung yang sengaja kau tinggalkan di rumahmuingat dikala hujan, kau katakan agar aku selalu berada di sampingmudi kala hujan, kau menyakitiku untuk yang pertama dan terakhir.



di kala hujan pula aku selalu berdiri menengadah menatap langit sepertimu... Menyatukan semua kenangan yang berserakan semuanya tentang dirimu.



Dan aku berdiri di sini dengan perasaan yang sama, sekalipun esok hari semua ingatanku hilang, tapi hatiku tidak akan berubah... Di kala hujan semua ingatan itu akan kembali.. dan kenangan tentangmu adalah yang paling berharga.



Hujan itu adalah dirimu, setiap tetesannya adalah kehangatan. Dan semuanya itu adalah apa yang ada dipikiranku di kala hujan... Mengenangmu..







"Hei?!", Laki laki tinggi itu mengguncang guncang tubuh mungil temannya, "Leda!!"



"eh! Aa-hah?", orang yang dipanggil Leda itu baru tersadar dari lamunannya celingukan, "ah, i-iya?"



"dasar! Setiap hujan turun, kau pasti seperti ditarik ke dunia lain", Ujar laki laki tinggi itu tersenyum lembut sambil menyentil jidat temannya pelan.



"Aggy.. Sorry hha", Leda mengusap usap jidatnya memaksa tertawa. Perlahan tangan laki laki yang dipanggil Aggy itu memeluk pinggang Leda dan menarik tubuh ramping itu mendekat ke tubuhnya.



"Aggy?!", Leda berusaha protes, namun bibir Aggy dengan lembut mengecup bibirnya hingga Leda tak bisa berkata apa apa lagi selain ekspresi kaget yang terpancar jelas di wajahnya.



"Sudah sering ku katakan, aku akan selalu menjagamu.. seperti dia menjagamu"



". . . ."



Aggy tersenyum renyah atas perkataannya sendiri sambil mengacak acak rambut Leda manja. Leda hanya mendengus, ia malu karena di halte bus yang sedang berteduh itu bukan hanya mereka berdua.



"jangan lakukan itu lagi"



"gak janji"



Leda mendorong pipi Aggy, Aggy hanya terkikik geli.



'Terimakasih sudah mengirimkan seorang teman untukku... '



Leda kembali menengadah menatap langit yang tampak mulai cerah karena hujan hampir reda.



' aku harap Aggy tak menyakitiku sepertimu... Iya, luka pertama dan terakhir darimu..'

"busnya datang, ayo!", Aggy mengulurkan tangannya.



'adalah saat hujan itu..,'



"Leda?"



"ah, iya", Leda menyambut uluran tangan kekasihnya itu sambil tersenyum membalas senyuman lembut Aggy yang hanya dipersembahkan untuknya seorang.



'saat kau menutup mata pada dunia, dan pergi meninggalkanku.... Juri'





;"; the End ;";





wkwkwkwk gomen gomen, ini ekspress buatnya.. >.< ancur? Iya.. X0 gomeeen.. mungkin ini akan jadi songfic teraneh yang pernah ada *bletak* :D

i'm straight : taisetsuna hito 2

title : Taisetsu na hito



Author : Rukira Matsunori



rated : M @0@ *berubah*



genre : romance / .... / .... /



fandom(s) : the GazettE, Alice9, dll



pairing(s) : Meev x Aoi x Uruha



chapter : 2 [setelah hampir 4 bulan terbengkalai]



warning : rated M!!!!! wkwkwk... *aneh*



note : masih inget sama i'm straight bonus? ini saia lanjutin soalnya ada yang req huohoho... buat Vini yang minta Aoi x Uru, Fanichuw yang minta rated M, rei yg minta lanjutan fic ini jadi saya simpulkan... Untuk melanjutkan fic ini saja dengan rated yang berubah XDDDDD *banyak bachoottt!!!!*



~..~



Oh ya satu lagi... POVx berubah ubah harap mengerti XDD





baiklah, douzo...





===*===



[Normal's POV]





"Ao.."



"heeh?!"



"ayo lakukan seperti di film itu!"



"HAAAAAAAAAHH????!! GILA!!!!!"



Gubrak!



***



"hei..!! Oeyy~"



"sini-sini biar gue aja!"



"ngh~ aooochiiin~" (bisikan maut)



Gurubuk!



". . . ."



". . . ."



"Wahahahahahah.. Kena lu Ao!! wahahah emang suara gue mirip si paha ya? wkwkwkwk", Reita tertawa puas memegangi perutnya karena telah berhasil membuat Aoi mencium lantai.



Bletak.



"waduh~ kok gue ditabok siih?", protes Reita sambil usap usap idung dibalik nosebandnya.



"jangan mempermainkan orang begitu!!"



"he? Lu cemburu ya Ruk?", tanya Reita innocent setengah cengok, "eeeeh!!! lu juga mau ya? sini gue bisikin juga", goda Reita sambil maksa deketin telinga Ruki.



"Oeeeeeekk!! NajizZZ!!!", Ruki nampar bolak balik pipi Reita ampe bengep(?), untung Kai datang dan memisahkan 2 sejoli yang tengah saling mengekspresikan rasa cinta mereka itu.



Uruha hanya tersenyum melihat tingkah teman temannya, namun sekarang ia lagi gak mood buat ikutan bergumul dengan mereka. Uruha berjalan mendekati bangku dimana Aoi duduk mengusap usap bibir dower kebanggaannya karena baru berselingkuh dengan lantai.



Uruha duduk di bangku samping Aoi menatap Aoi datar, "tumben tidur di kelas, biasanya kan gue"



"hmm~"



"lu semalam gak tidur ya?"



"hmm~", Aoi ngusap usap tengkuknya. Kayaknya sang gurame masih ngantuk pengen tepar lagi.



"AWOOOO!!!", Uruha nyekik Aoi kesal gak ditanggepin.



"ohok iya.. Iya.. gue gak tidur semalam!"



Uruha lepasin tangannya dari leher Aoi, "kenapa? Mikirin apa? Mikirin gue?"



"ha?..................", Aoi menjatuhkan kepalanya di atas meja, "kepedean", gumamnya pelan, namun telinga Uru dapat menangkapnya dengan jelas



"lalu?", tanya Uruha kesal.



"insomnia"



"hah? Lu punya penyakit gituan?"



"hm..."



Uruha terdiam dengan jawaban malas Aoi, tampaknya Aoi lagi gak mood buat ngobrol dan itu cukup membuat Uruha memajukan bibir bawahnya. Entah apa cuma perasaan Uru saja, tapi sepertinya Aoi lebih menutup diri akhir akhir ini, dan itulah yang membuat Uruha berpikir macam macam tentangnya.



"Wo.."



"hm?"



"lo belum jawab pertanyaan gue di telepon waktu itu"



"ha? ditelepon? gak tau", tanggap Aoi malas malasan sambil tiduran di meja. Matanya udah tinggal 2 watt dan dia berada diambang pintu antara dunia nyata dan mimpi sekarang.



"wo.."



". . ."



"YUU!!!!", Bentak Uruha sambil geplak kepala Aoi kesal. Suara Uruha yang meninggi cukup membuat Ruki dan teman teminnya kaget, mereka hanya saling memandang satu sama lain tanpa tau apa yang tengah terjadi.



Aoi mengusap usap kepalanya malas, "Apaan sih ah?"



"mau jawab pertanyaan gue gak?", tanya Uruha menggebu gebu dengan nada mendesak.



"pertanyaan apaan?", ujar Aoi sambil kembali menjatuhkan kepalanya di atas meja, tampaknya rasa kantuk yang menyerangnya tidak perduli situasi dan kondisi.



BRAK!



Uruha menggebrak meja berdiri dari bangku dengan wajah kesal karena merasa diacuhkan. Membuat Aoi yang hampir terbawa ke alam mimpi ditarik paksa untuk kembali ke dunia nyata dan rasa kantuk pun menghilang sekejap. Aoi masih meletakkan kepalanya di atas meja namun matanya membelalak kaget, tanpa diketahui siapapun (bahkan author pun kagak tau) ternyata Aoi punya penyakit jantungan.



Semua mata Anak-anak yang saat istirahat itu tengah berada di kelas memandang ke arah 2 sejoli itu heran, padahal biasanya suami-istri itu selalu rukun.



Mendadak penyakit bengek(?) Kai kambuh, disaat suasana tengah tegang(-.-) Kai selalu saja merepotkan orang dengan penyakit kebanggaan turun temurunnya itu. Akhirnya Kai digendong Reita di larikan ke uks terdekat.



Tanpa mengangkat kepalanya dari atas meja, Aoi melirikan matanya takut-takut ke arah Uruha yang udah berdiri menggebu-gebu. "Pa.....ha?"



tonjolan-tonjolan urat emosi Uruha pada mucul di jidatnya, "BRENGSEK! JANGAN PANGGIL GUE BEGITU DISAAT KAYA GINIIII", amuk Uru sambil narik kerah baju seragam Aoi lalu mengguncang guncang tubuh kekasihnya itu.



"WOoOii... Wowi.. Lagi bermesraan ni ye kekekekekek", Miyavi tiba tiba muncul dengan wajah sumringah tanpa dosa.



Uruha mendelik Miyavi dengan delikan mautnya. "lu?"



"Wooh, hai cantik..", Meev mencolek dagu Uruha tanpa tau suasana lagi genting(?), otomatis Uruha menepisnya kasar. "duh, judes amat sih bini lu wo", gerutu Meev sambil ngusap usap tangannya, "eh... malam ini lu nginep di apato gue lagi Aoi!"



"aaaa~", Aoi menggaruk garuk bawah pipinya melirik Uruha yang udah masang tampang dedemit. Lalu Aoi mengarahkan lirikannya ke arah Meev yang lagi senyum charming. Aoi menunduk, ia benar benar lagi dilema. 'ni anak bener bener kagak bisa baca sikon', batin Aoi gregetan (-.-sama aja kaya lu)



Uruha kesal dengan Aoi yang sama sekali gak nolak ajakan Meev, ia segera beranjak dari tempatnya berdiri menuju pintu keluar.



"hei, mau kemana lu paha sekushi e?"



"mati"



"woooh~ kalo gitu suami lu buat gue ding wkwkwk", Meev ber-wekwek-ria



"Bodo amat!!", Ujar Uruha ketus. Lalu sosoknya menghilang di balik pintu(-.-)



Meev menyikut lengan Aoi, "hoh? Kenapa tuh bini lu? Lebih judes dari biasanya"



Aoi mendelik Meev, "dia ngambek ama gue! puas lu?", Aoi berujar tanpa membuka mulutnya gemas pada meev yang bebal.



"oh! Kalian lagi berantem.. Hahaha... Lucu Lucu Lucu"



"LUCU PALA LU PITAK!!!!", Aoi menggeplak kepala Meev yang asik tertawa diatas penderitaannya.



"wkwkwk... ya udahlah, kalau lu butuh kehangatan, yuk ama gue aja", Ujar Meev sambil nempelin pipinya ke pipi Aoi.



BLETAK!



"oh dahsyat! Haduu~h", Meev jongkok di lantai sambil meringis memegangi kepalanya yang benjol di tabok penghapus papan tulis.



"jaga kelakuan lu kalau di depan si paha!!"



Meev mengangkat wajahnya menatap Aoi, "lu bertengkar gara gara gue ya?"



". . . ."



"hah?"



"bukan sih, masalah kecil doang"





Sementara itu...Ruki dan Reita lagi panik di Uks ngurus Kai yang bengeknya kagak kunjung sembuh, sedangkan Kaoru sensei lagi gak ada di ruangan.



"gimana nih beruuk?", Reita mondar mandir gak tentu arah dan tujuan.



GDEBLUK.



Reita lagi khusyuk-khusyuknya mondar mandir tiba tiba nyuksruk kesandung kaki Ruki.



"kok gue jatuh?", Reita bangkit dari nyuksruknya cengok.



"lo ribut sendiri tapi gak ngelakuin apa-apa!!! Lama lama si kai bisa mati noh!", Ruki nunjuk Kai yang terkapar di ranjang dengan wajah pucat pasi.



"kok gue sih? Lu juga dong lakuin sesuatu! Kasih nafas buatan kek"



"Oke, gue kasih nafas buatan nih", Ruki merendahkan kepalanya ke arah wajah Kai. Namun tangan Reita reflek menjengut rambutnya.



"APAAN LAGI SIH HAAAH?!"



"sstt~", Reita menempelkan telunjuknya ke bibir Ruki, "bibir ini cuma milik gue, gue kagak mau berbagi ama si kempyot itu"



GRAUK!



"wadaw! Setan!", Reita kayak cacing kesemutan(?) muter muter, loncat loncat, sambil niup niupin jarinya yang jadi korban empuk gigitan ganas Ruki.



"banyak bachot! Biar gue aja kenapa sih", Ruki kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Kai.



"Aaaa~ biar ama gueee!", Reita buru-buru dorong tubuh (mungil) itu lalu menggantikan posisi Ruki dengan dirinya.



JDUK!



(-.-)a



(-.-)a



(-.-)a





"HMbPuAAHWHA....!!!!"



"eh, Kai...", Reita sumringah Kai akhirnya sadarkan diri(?)



"hoek hoeeek!! bauuuu... bau naga! Hoeekk", Kai muntah muntah.



". . . ."



"hoeeeekk! Cuih Cuih"



"Udah gue tolong bilang makasih kek! Lu pikir mulut lu wangi? Bau Belerang tau gak lu?", Reita esmoshi nyekik nyekik Kai.



Ruki bangkit dari lantai hasil Reita mendorongnya tadi, ia langsung jambak Jambul Reita yang lagi asik nyiksa Kai, "lu mau bunuh si Kai?"



"EH! Kagak lah, ngapain juga bunuh si Kai, kagak ada untungnya buat gue... mendingan ngawinin lu", Reita menatap Ruki mesum sambil colek colek dagu Ruki.



GRAUK! (Lagi?)



"WUAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"



***





Uruha berjalan menaiki tangga menuju atap sekolah untuk mencari angin segar dan merilekskan pikirannya yang udah semrawut.



Namun sungguh tidak beruntung, harapan merilekskan pikiran musnah sudah... Saat Uruha melihat dua makhluk jangkung tumpang tindih (-.-kekekek) di depannya.



"Ssh.. Saga, tubuhmu tambah berat ya, padahal kerempeng begini", Tora nusuk nusuk perut Saga yang duduk di atas perutnya dengan telunjuknya.



"wew~ lu juga kerempeng!", Saga ikut colok colok perut Tora.



"aiih~ geli sai"



"gue juga geli tau!"



(-.-kagak mutu)



"kenapa gak dibuka celananya cin?"



"lu juga kagak buka celana"



"owh~ hhe mau buka barengan? Ayo!"



"KAMPRET!!!"



"hee? Kok ngatain gue kampret sai?", Tora cengok



"bukan gue", Saga geleng-geleng kepala polos.



"he? Lalu?", Tora dan Saga bertatapan dalam, dalam dan dalaaaaam..., "setan kali wkwk.. Lanjutin lagi nyok!"



BLETAK!



Uruha melempari dua pasangan itu dengan sepatunya. Benar benar udah kagak tahan pengen ngamuk, karena mereka hanya mengganggu pemandangan aja.



"URU?!", Tora Shock.



"udah gue bilang kunci pintunya~", Saga jewer telinga Tora kesal karena gak bisa dibilangin. Sedangkan yang dijewer hanya bisa senyam senyum ngehe, "biasanya pan kagak ada orang yang datang ke sini sai"



"itu ada!", Saga nunjuk Uruha sambil pelototin Tora.



"Pissu!", Tora ngacungin telunjuk ma jari tengahnya.



"idiot! Ngapain ngelakuin hal kagak senonoh begitu di sekolah? Untung gue yang datang, coba kalau guru", Uruha menggerutu gerutu.



"haha kita kan saling mencintai", Tora berujar bangga sambil ngancingin kemeja seragamnya satu persatu.



". . . ."



"tumben lu ke sini Uru? Wajah lu kenapa? Kayak benang kusut begitu", tanya Saga



"wkwkwk emang wajahnya begitu"



". . . ."



Saga nampar Mulut Tora yang kagak bisa baca suasana itu. Sedangkan Saga sepertinya mengerti bahwa Uruha sedang ada masalah, maklum sesama uke pan jadi mengerti XD



"lu berdua kagak ngenal tempat, ngelakuin itu dimana aja...", pandangan Uruha seperti menerawang



"heh?", Tora garuk garukin idung Saga, kok kayaknya pembicaraan Uruha balik lagi ke yang tadi. "haha Begitulah Uru, kapan pun kita (-.-LU!!) ingin melakukannya, maka kita lakukan wkwk.. benar kan sai?"



"APAAN NIH?!", Saga geplak tangan Tora yang asik garuk garuk idungnya.



"orang yang saling mencintai, apa selalu punya keinginan untuk 'itu'?!"



"hahah bicara apa sih? Tentu saja baka!", Tora slap kepala Uruha malu malu.



"kalau tidak, berarti tidak benar benar suka?"



Tora mengernyitkan dahinya, "hmm.. bisa jadi"



"BERARTI AOI GAK BENAR BENAR SUKA AMA GUE?!", Uruha naik pitam jambak jambak rambut Tora. Saga segera melerainya, menenangkan Uruha yang udah kayak pemanas air aja... Tenang tenang tiba ngamuk(-.-wkwk)



"lu kenapa sih?", Tora rapihin rambutnya yang kusut, "ketauan deh, kalian belum pernah melakukannya.. haha benar benar pasangan polos", Saga dengan sigap mengacak acak lagi rambut Tora yang udah dengan susah payah dirapiin.



"gue rasa gak gitu, mungkin Aoi tipe yang diajak, bukan mengajak, apalagi pemaksa kaya si macan itu", Saga mendelik kekasihnya.



"kita sih emang sama sama nepsongan", cibir Tora.



Uruha garuk garuk kepalanya agak gatal, "jadi gue yang harus ngajak?"



"ya! Lu tau sendirikan! Si Aoi gengsinya gede amit"



"hmm~" Uruha mengangguk anggukan kepala mengerti. Saga tersenyum. "gue akan coba!!", ujar Uru semangat



"Yosh! GanbattE!"





~to be Continued~





^_____^a



XDDDDDDDDDDD *BLETAK!*

Friday, 3 September 2010

anak gajet SANLAT [ficgaje : spe'sial' Ramadhan] chapter 2

Author : rukira 'sukireda' matsunori DX



rated : K+ / T- :)



genre : gak tau 0.0



fandom : the GazettE dkk



pairing(s) : gak tau 0.0



warning : @.@ @.@ full of ceramah!!!!



Note : lebaran sebentar lagi ==a kok rasanya gak kerasa ya, padahal masih betah bulan ramadhan DDDDX *berat badanku belum turun2*





<>





Hizaki memijat mijat jidat dan perutnya, "nah anak anak sekarang ibu tanya siapa yang tau orang orang yang bagaimana saja yang tidak diperbolehkan puasa?"



"orang yang sakiiit" (@0@) Kai menjawab paling lantang



"orang gila" (@0@) Reita nunjuk Ruki..



"orang yang datang bulaaan", Aoi melirik Uruha



"iya iya..", Hizaki menghela nafas panjang, "jadi orang yang tidak diperbolehkan puasa ada 4, satu orang yang sakit"



"yes!" o(^0^)/ Kai sumringah karena jawabannya (kebetulan) benar.



"yang kedua yaitu orang yang sedang dalam perjalanan, yang ketiga orang yang hamil, menyusui atau datang bulan"



"hmm.. ternyata benar", Aoi mengangkat wajahnya bangga



"yang terakhir yaitu kakek kakek atau nenek nenek yang sudah tua dan pikun, tapi semuanya wajib mengkodo artinya mengganti puasa di lain hari, sedangkan khusus untuk orang tua yang pikun, cucu atau anaknya wajib membayar pidyah atau zakat untuk pakir miskin. Mengertikan?", Hizaki mulai males menerangkan, pengen cepet cepet keluar kelas



"bu" (@0@)/



"ya kai?" (-.-)



"kalau sedang dalam perjalanan boleh berbuka kan?" (@0@)/



"tapi yang perjalanannya lebih dari 80 km dengan jalan kaki, kalau kau jalan kaki dari sukabumi ke bandung kau boleh buka puasa Kai", (-.-)



"ooh" (@0@)



"lebih baik gak usah deh", Ujar Uruha ketus



"dengar ya anak anak, maksud ibu(?!) yang sedang dalam perjalanan itu, seperti musafir" (-.-)



"oooh" (@0@) <- Kai (@.@) <- Ruki (-0-)a <- Reita (=_=) <- Awowi (_ | _) <- pantat Uru *disembelih Uru* "baiklah, materi hari ini selesai.. sebelum bel 3 menit lagi, apa ada yang mau kalian tanyakan?" "BU!" (@0@)/ Reita angkat paha Uru *buakh* "iya Rei?" \(-.-") Hizaki nunjuk Reita, 'nyesel gue nanya lagi, padahal tadi langsung keluar aja', Hizaki ngedumel dalam hati "bu, katanya kan kalau makan karena lupa gak batal ya puasanya" (@.@)a "he'em, lalu?" (-.-") "katanya si Ruki pernah makan sebakul, tapi dia lupa bu" (@o@) "jah, pake nama gua lagi", Ruki spontan nabok idung Reita "sebakul?" (-.-")a Hizaki merenung, "ya kalau memang lupa ya gak batal" "haha.. Iya bu, waktu sepiring pertama sumpeh bener bener lupa.. waktu mau ngambil piring ke dua ingat" (^0^)a "lho, kok bisa sampai abis sebakul?" (0_0) "kan sayang kalau gak dilanjutin hhe, yang penting kan awalnya lupa ya bu ya?" (^0^) "ya gak begitu dong Reitaaaa.. Itu tetap saja bataaal", kepala Hizaki mulai mengepulkan asap, "walau lupa, tapi saat kau ingat maka saat itu juga kau harus berhenti" "Bu!" \(@o@)/ Kai lagi lagi angkat tangan "sudah cukup hari ini" "ibu?" (@o@)/ Kai semakin tinggi mengangkat tangannya. "nah anak anak, jadi kalian harus bersungguh sungguh melaksanakan puasa, apalagi nanti sebentar lagi lebaran.. kita harus benar benar kembali suci pada hari itu, jadi jangan ada puasa yang bolong bolong lagi ya, sebisa mungkin kita harus menjauhkan diri dari hal hal yang kira kira bisa membatalkan puasa kita", Hizaki nyerocos "sulit bu", gumam Aoi yang tampaknya tersiksa, sambil melirik paha Uru "ibu!" \(@o@\) "ibu!" (/@o@)/ "ibuuuu!!" \(>o<\) Kai sibuk nari para para, greget pengen ngomong namun sama sekali gak ditanggepin ama Hizaki. "sebentar lagi kan lebaran ya, jadi ibu ingin minta maaf pada kalian apabila ibu punya salah, mari kita saling memaafkan.. kalian dengan teman kalian juga ya" ^^ "ibu!", (>oo<) Kai kaya cacing kepanasan, tapi Hizaki tetap gak perduli. Gak mau dapet pertanyaan aneh aneh lagi dari muridnya itu. "ibuuuu!!" /(>o<)\ tak. *uru jitak Kai* "lu diem dong, berisik! kenapa sih?", Ujar Uruha pada Kai jengkel "ee. . . . Etoo Aku cuma mau bilang ada cabe di gigi ibu", (-Q-)a ". . . ." ". . . ." ". . . ." mendengar itu Hizaki buru buru nutup mulutnya pake tangan, "ahahah.. ya udah, sampai bertemu lagi nanti ya" ^^ Hizaki membereskan buku bukunya lalu buru buru ngeloyor keluar kelas. "???" "wkwkwkwkwk... padahal bohooong!!", o(^0^)-o teriak Kai setelah Hizaki pergi. Semua anak anak dikelas langsung ngeroyok gundulin Kai ... ....... ........... ................ [diperjalanan pulang] Reita ngelirik ke Ruki yang berjalan di sampingnya serius ngitung uang hasil kumpul kumpul di celengan buat beli baju lebaran, takutnya ilang lagi sebagian, diambil tuyul kaya seminggu yang lalu. "cel..", panggil Reita ke Ruki, Ruki sama sekali kagak nanggepin, wajahnya malah makin serius ngitung uang. "Bonchel..", Reita mukul pantat Ruki pake tas gendongnya "ugh, apaan sih lu akh, ganggu aja", bentak Ruki "gue manggil lu, nyaut kek! gue mau ngomong neh, dengerin!" "gua lagi sibuk ah, ngomong ya ngomong aja!", gerutu Ruki sambil kembali ngitung uangnya "cih" ". . . ." ". . . ." "cel?" "boncel?" ". . . ." "BONCEL! maafin gue!" Bletak! "minta maaf sih minta maaf, tapi kagak usah pake boncal boncel dong pesek!" Reita usap usap belakang kepalanya yang baru ditabok celengan Ruki, "lu sendiri ngatain gue pesek, anjing!" "lu Monyet!" "lu celeng!" "kebo!" "Sapi..!" "setan lu!" "tuyul" "gendruwo!" "Pocong!" "Oke gue pocong", Reita kehabisan kata kata, "dan gue minta maaf sama lo tuyul, maafin kalau selama ini gue banyak salah" "oh, lu nyadar ternyata..", Ruki berkacak pinggang "yaiyalah.. setiap orang pasti punya salah, termasuk lo, lo juga banyak salah ma gue, ayo minta maaf!" "gue? Nggaklah, punya salah apa gue? Kagak ada" "eits! Lu udah ngatain gue pesek, sering nabok gue pula.. terus-" "itu kan lu duluan yang mulai" "kagak bisa gitu dong, gue udah terlanjur sakit hati nih.. Dan lu juga udah nyuri daleman gue", Reita membuang muka "HAAAAAAAAHH?! kapan gue nyolong kolor lu? Kampret! Mau fitnah yang elitan dikit dong", Ruki naik darah, wajahnya udah merah kaya nahan kentut seharian. "siapa yang bilang colour? daleman itu maksud gue, lu udah nyuri hati gue.. itu dosa terbesar lu ma gue!", jelas Reita sekencang kencangnya, ampe pita boxernya mau copot (-.-? *pita suara) ". . . .", Ruki speechless <>





"Uru~ Uuuru~", Aoi nyanyiin lagu 'Ani' nya Bang Haji Rhoma irama, cuman lirik aninya diganti Uru XD



"Kagak ada kerjaan lu ya? Suara kaya kentut si Kai juga", Uruha menggerutu



"kentutku emang gitu ya Uru?", tanya Kai polos



Aoi jalan mendekat disamping Uruha, "bentar lagi lebaran, maafin gue ya, gue banyak salah ma lu"



". . . .", Uru hanya melirik Aoi dengan matanya, sekushi XD



"Cieee... ekhm.. ekhmm ohok ohok aduh keselek cinta ugyaaaaaaaa~", Kai ribut sendiri, dia memang autis



tanpa memperdulikan Kai, Aoi asik godain Uruha, "maaf gue udah terlalu banyak liat paha lo, gue juga pernah nyolek dikit, terus gue juga pernah ngintip lu mandi waktu kita kemping pramuka di SD hhe"



"sial" (-.-")



Aoi senyam senyum ngehe, "entar solat id bareng yuk", ajak Aoi pada Uruha



"kagak mau ah!", Uru jalan duluan sambil cemberut (-3-)



Aoi buru buru ngejar Uru yang pundung, "ngambek ya? Maaf deh, itukan kejadian dulu. Eh eh udah beli baju lebaran belum?", Aoi toel toel pundak Uru



"ngapain tanya tanya? Emang lu mau beliin?", ujar Uru sok ketus



"boleh, kalau lu mau gue beliin deh", Aoi tersenyum mesum..



"serius?!"



"serius" o(^_^..) Aoi cubit cubit pipi Uru *mukyaaaa*, "kemaren gue liat bikini yang bagus, pasti cocok deh buat lu", Aoi ngebayangin Uru pake bikini



BUAKH!



"najooong lu gurame!", Uruha nendang bokong Awowi ampe Aoi nyungsep ke selokan. Dan Kai hanya terkikik geli =D



<>





Reita dan Ruki saling colek mencolek di sepanjang jalan kenangan, oh betapa indahnya hari itu bagi mereka wkwk



"gak boleh nyolek gue! nanti lu batal puasanya!"



"jiakh! alasan klasik"



"gue serius pesek! Minggir lu!", Ruki mendorong Reita ngejauhin dia darinya terus ngebuang muka malu malu *wew!*



"kok gitu sieh?", Reita mukul mukul pundak Ruki manja.



"Argh!", Ruki mendorong Reita lagi, sampai Reita pundung gigit jempolnya.



"Ruk, buka bareng yuk ay~"



"boleh, lu traktir gue"



"aaaaaaa~" (-Q-a), Reita langsung meriksa dompetnya yang kempes bin lepet bin bulukan coz gak pernah ada isinya. "gak jadi deh, laen kali (taun depan) aja buka barengnya", Reita manyun (=3=)



"ahahahahah.. bokek ngajakin gue bubar, ya udah gue aja deh yang traktir", Ruki gandeng tangan Reita, sekarang dia lagi hepi jadi baek



"ohoho.. serius? Okeee" o(^0^)/



"buka puasa kan sunat makan yang manis manis, nanti lu liatin gue aja Ruk, gue pan manis ye wkwkwk"



". . . ." (T_T)



"kagak jadi ah, gue buka puasa di rumah sendiri aja" ("vov) Ruki melengos



"HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE??!", Reita shock, "gak bisa gitu doooong!" o(>o<)o, Reita narik narik tas Ruki dari belakang, "Rukiiiii....Sayaaaang" "wuaaaaaaaaaaa!!!! Jangan panggil begituuu" /(>////<)\ "Ruchan sayaaang?" (@_@) "WUAAAAAAAAAAAAAAAA!!!! Hentikan bodoh!!!" \(>w<)o "ehehehe Ruchaaaan sayaaaaang" (/^0^)/ Reita malah semakin menggoda Ruki, alhasil tabokan super Ruki mendarat mulus dihidungnya. "Pesek baka!!!" ("~.~) <> the End <>





tauuu... Akhirnya ngacapruk(?) melenceng! Habis gak tau mau nyeleseinnya gimana (=.=")a gomen ne... *sungkem*



oooh yaaa walau terlalu dini tapi ..... (takutnya usiaku gak nyampe lebaran DX)



<>mohon maaf lahir dan batin<> XD

anak gajet SANLAT [ficgaje : spesial Ramadhan] chapter 1

Author : rukira DX



rated : K+ / T- :)



genre : gak tau 0.0



fandom : the GazettE dkk



pairing(s) : gak tau 0.0



warning : @.@ @.@ full of ceramah!!!!



Note : lebaran sebentar lagi ==a kok rasanya gak kerasa ya, padahal masih betah bulan ramadhan DDDDX *berat badanku belum turun2*





<>





Bulan ramadhan telah tiba (telat bwu!), semua orang berpuasa di bulan ini bagi yang wajib melaksanakan(-.-) dan ceritanya disini anak anak gajet juga pada puasa nih... , dan sekolah mereka ngadain sanlat ( -> pesantren kilat), mari kita simak kegiatan mereka mengikuti sanlat tersebut hmm... :)



[PAGI]





"OHAYOU!!!", sapa Hizaki sensei pada murid murid kesayangannya(?)



"ohayou gozaimasu", jawab sang murid murid serempak (@0@)



"hmm.. senang melihat kalian begitu ceria khu.. khu.."



". . . ." *speechless*



"baiklah", Hizaki menyimpan buku-buku yang dibawanya di atas meja, "materi hari ini adalah tentang puasa, jadi ibu(?!) akan membahas sedikit tentang apa itu puasa, rukun dan sunat dalam berpuasa bla.. bla.. bla.. Khu khu"



sekarang kita sorot sudut pandangnya ke arah murid murid yang udah pada bosen idup, di bangku belakang sebelah pojok, tanpa diketahui Hizaki murid muridnya pada asik ngerumpi sana sini, "eeh eh! Tu sensei banyak bacot deeeh.. gue pengen cepet pulang nih, aduuh mami gue masak apa ya? nyem.. nyem.."



duak



"ah buset! Boncel lu lagi dapet ya, ngapa lu geplak gua?"



"jangan dibayangin! Tar puasa lu batal"



"ah masa dibayangin aja batal? ngarang lu"



"jah pesek lu, dibilangin kagak percaya"



"ngehina orang juga batal tau, bikin sakit hati orang"



"siapa yang ngehina orang?"



"Lu ngatain gue pesek tadi, boncel..!!", Reita nyomot idung Ruki, "Sakit hati, gue sakiiit tau gak lu?"



"lu sendiri ngatain gua boncel.. Pesek sialan!!"



"woi berisik!", bentak Uruha yang duduk di depan Reituki kesal. "sesama makhluk aneh dilarang saling menghujat!", ujar Uru santai. Reita dan Ruki ngedumel saling mendelik sinis satu sama lain, memang seharusnya kucing dan cecurut gak duduk barengan ya DX



"sebelum ibu(?!) menjelaskan, ibu ingin tanya dulu.. kalian semua puasa hari ini?", tanya Hizaki sumringah



"Puasaaaaa", jawab murid murid kompakan (@0@)



"fufufu bagus bagus baguuss... Apa ada yang sudah bocor puasanya?"



"ada bu(?!)", Reita semangat 69, "si Uruha!", Reita nunjuk Uru yang duduk di depannya, "dia kan 'dapet' bu weeekwekwek", Reita ketawa bebek yang langsung digeplak Uruha.



"wkwkwk.. sudah sudah jangan bercanda, sekarang ibu tanya.. Apa ada yang tau pengertian puasa itu apa?"



"menahaaan" (@0@)



"hai hai, betul sekali.. menurut bahasa puasa itu artinya menahan, sedangkan menurut istilah? Hayo siapa yang tau?"



"menahan dari haus dan lapar" (@0@)



"menahan untuk gak makaaan" (@0@)



"menahan dari hawa nafsu" (@0@)



"menahan kentuut!" (@0@)



"penyiksaan perut" (-0-) Reita asbun *asal bunyi*



"eits! Siapa bilang Rei? kalau kau ikhlas melaksanakannya, puasa itu nikmat sekali. selain itu juga menyehatkan tubuh kita kan? dengan makan teratur dan terkontrol khu.. khu..eeh siapa tadi yang bilang menahan kentut?"



Kai mengacungkan tangannya bangga.



"kata siapa itu Kai?"



"kata enyak, kita gak boleh kentut kalau lagi puasa"



(T_T) "itu penyiksaan dong, salah kai.. yang benar itu kita tidak boleh kentut dalama air", jelas Hizaki



"hah? Ngapain juga kentut dalam air, kurang kerjaan", Uruha komentar dengan gaya soknya



"itu sih kerjaan si Ruki", (-0-) celetuk Reita



"oke.. Oke.. jadi kalian semua benar, kecuali Kai dan Reita" (-_-a)



(@0@)/ <- Kai (@.@)a <- Reita ". . . ." (hening) "jadi, puasa menurut istilah itu adalah menahan diri dari yang membatalkan. dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari disertai niat, naah.. kira kira yang dapat membatalkan itu apa aja?" "makan" (@0@) "minum" (@0@) "ngambek" (@0@) "mimpi aneh aneh?" (@0@) "pacaran" (@0@) ". . . ." (@0@)a "liat BF" "liat PU" "STOP!!! Jangan asbun aja donk, Reita.. liat 'PU'? Apa itu 'PU'?", Tanya Hizaki "Pahu Uruha wkwkwk" "kok ke gue mulu sih? Haaaah?", Uruha jambak-jambak poni Reita "heeeh! Hentikan! Kita sedang berpuasa, jadi tahan emosinya ya!", Hizaki senyum manis ke Uruha. Uru ngelepasin poni Reita dan kembali menghadap ke depan kelas agak cemberut. "anak anak, ibu bahas ya.. kalau makan dan minum tentu itu sudah jelas dapat membatalkan, dan mimpi aneh aneh(?) juga, tapi kita tidak boleh berbuka, nah tapi kalau pacaran, ngambek, itu sebenarnya tidak batal hanya pahala kita berkurang, jadi daripada kita puasa dari pagi sampe sore gak dapet pahala lebih baik kita menjauhi yang namanya pacaran dan ngambek tadi, mengerti?" "iyaa sensei" (@0@) "ibu, aku mau tanya?", (@0@)/ Kai ngangkat tangan "baiklah, Kai silahkan" ^^.. "bu, kalau nyicip makanan batal kagak?" (@o@)a "batal lah kunyuk!", Reita sewot "kagak!", Ruki ikut nimbrung "khu.. khu.. begini ya Kai, jadi.. Contohnya ibu(?!) sebagai seorang istri(??><) dari pada suami ibu (=> kamijo) marah marah dan akhirnya kita bertengkar gara gara masakan ibu(?!) kurang garam/ gula jadi tidak apa apa mencicipi sedikiiit, itu tidak batal"



"wooh..." (@0@) Kai mangap kagak ngerti, "kalau misalnya udah nyicip belum kerasa, terus nyicip lagi belum kerasa juga, terus nyicip lagi-"



"itu batal dong Kai, cuma satu kali aja nyicipnya, itupun cuma seujung jari dan harus berkumur lagi"



"woooooh.." (@0@) Kai mangap lagi, Reita nyumpel mulut Kai pake tempat pensil



"ibu! saya mau tanya", Aoi mengangkat tangan dengan anggunnya, "kalau kumur kumur batal gak?"



"hm.. Itu tergantung ya Aoi, kumur kumur hukumnya makruh sebenarnya.. sama seperti nyicip makanan dan menyikat gigi siang hari, jadi kalau kamu percaya itu dapat membatalkan berarti batal, tapi kalau kamu yakin itu tidak membatalkan berarti tidak"



"kalau saat kumur kumur diminum?"



"ya batal lah gurame!", Uruha geplak kepala Awowi



". . . ." (=o=)>



"khu.. khu.. sudah sudah! nah sekarang rukun puasa. siapa yang tau ada berapa rukun puasa itu?"



"ada 2" (@0@)/ Kai semangat



"betul Kai", Hizaki tepuk tangan sendiri, lalu ia berjalan menghampiri bangku kai "apa saja itu kai?", tanyanya lembut



(@.@)a "ee sahur dan buka puasa", (@0@)/



"salah!", (-.-) Hizaki melengos pergi meninggalkan bangku Kai, "yang benar itu adalah niat dan menghindari dari yang membatalkan. Kalau sunat puasa siapa yang tau?"



"bu aku! Aku!" \(@0@)/ Kai lagi?



"iya kai?" (#_#) Hizaki udah males nanggepin, begitupun dengan murid murid yang ada di kelas, udah kagak ada yang mau dengerin.



"aku mau ke toilet bu" (@0@)





GRUBUK! (Ruki nyuksruk(?))



"silahkan kai", Hizaki berusaha sabar. Kai pun ngacir ke luar setelah menengok ruki sebentar, "Ah itu Ruki kenapa Rei?", tanya Hizaki agak panik



"biasa bu, tidur" (-0-)



"tidur?" (0.0)



"ah, nggak kok bu nggak", Ruki dadah dadahin tangannya membela diri, "lu punya mulut jangan asal nyeplak(?) aja lu", Ruki bisik bisik kesal sambil nyekik Reita dengan segenap perasaannya. Padahal dia emang tidur



"baiklah, jadi sunat puasa itu ada 5 ya! Satu sahur, dua mengakhirkan sahur, tiga berdoa ketika berbuka, empat menyegerakan berbuka dan lima berbuka dengan yang manis manis"



(@0@) semua siswa mangap ngerti gak ngerti



"aku bu! Aku suka menyegerakan berbuka" (^0^)/



"Iya bagus Rei", ^^



"hehe..." (^w^)>



"alaaaah~ lu sih menyegerakan berbuka sebelum waktunya buka", ujar Ruki sinis



"emangnya kenapa? yang pentingkan menyegerakan berbuka, lebih cepat buka lebih baik!", Reita nyolot ke Ruki



"hei, hei! Kata siapa itu Rei? Menyegerakan berbuka disini artinya kita tidak boleh menunda nunda kalau waktunya buka puasa sudah tiba, kalau menyegerakan berbuka sebelum waktunya itu namanya godin* bukan dapet pahala malah dosa yang ada!"



"lu sih boncel", Reita nyikut nyikut lengan Ruki



"emang benerkan?", delikan sadis Ruki menjurus ke Reita dan sukses membuat si noseband balas memelototinya.



Beberapa menit telah berlalu, Kai udah kembali dari toilet dan kembali duduk di bangkunya. Sedangkan Hizaki masih asik menerangkan dengan senang hati



"sekarang, orang orang yang tidak berdosa apabila tidak puasa ada 3, yaitu yang orang yang ketiduran, orang gila, dan anak anak yang belum baligh"



"oh jadi kalau ketiduran gak apa apa bu?", tanya Aoi



"iya Aoi", Hizaki tersenyum ^^..



"bu", (@0@)/ Reita angkat kaki(?)



"iya Rei?"



"Ruki bilang dia mau minum obat tidur 200 butir biar tidur sebulan dan kagak puasa tapi kagak dosa katanya" /(@0@)\



duak!



"siapa yang bilang begitu pesek!? itu sih bunuh diri, lu aja yang kaya gitu kampret", Ruki ngamuk



"sut sut!", Hizaki menenangkan Ruki, "Tidak bisa dong Rei, kan ibu bilang 'ketiduran', jadi bukan sengaja ditidurkan..", Hizaki tersenyum namun dipaksakan, terbukti dengan tonjolan tonjolan urat di dahinya udah muncul



"iya bu" (@o@)\, Reita sok ngerti, Ruki menggeplaknya masih emosi dengan yang tadi, dan gak enak hati liat tampang Reita yang sok itu Ruki jadi pengen geplak dia.



"si Ruki mah gak tidur juga gak dosa kok kalau gak puasa, iya kan bu?", tanya Aoi polos



"kata siapa ah?", Hizaki mengernyitkan jidatnya



"tadi ibu bilang anak anak yang belum baligh gak dosa kalau gak puasa", Ujar Aoi santai, Ruki langsung jengut rambut Aoi dari belakang.



Uruha mendengus dengan kelakuan teman temannya yang kekanak kanakan, "Lu semua kagak dosa kalau gak puasa! Lu semua gila", ujar Uruha nyantei, semua refleks menjitaknya termasuk Kai yang ikut-ikutan nyekik, "lu ngapain ikut ikutan kempot?", protes Uruha, soalnya dia bilang gila cuma sama Reita, Ruki dan Aoi aja. "lu ngerasa gila ya hah?"



"ee . . .", (@.@)a Kai loading~



"kaliaaaan", (=.=") Hizaki mulai frustasi dengan murid muridnya, terutama yang 5 itu a.k.a Ruki, Reita, Uruha, Kai dan Aoi, "baiklah, waktunya bentar lagi habis ini.. ibu lanjutkan ya.. satu bahasan lagi"



"iya buuu" (@0@) murid murid kompakan lagi





<> to be continued <>



hhe tbc-nya kagak enak banget,, hagis ternyata kebanyakan jadi saia bagi 2 ^^



chapter selanjutnya langsung saia taggin..



oh oh oh yaa... di sekolahku juga ngadain sanlat, dan itu akan jadi sanlat terakhirku di sekolah SMA DX, taun depan (kalau panjang umur) aku akan merindukan teman teman di kelasku yang asbun dan juga pak Uchup yang juga asbun tingkat akut... huwa huwaa..



T_T cukup curhatnya!!!!!!