Search + histats

Sunday, 16 April 2017

悪循環 - Vicious Circle - (Reituki Fanfic) // CHAPTER 02

Author : RuKira Matsunori
Chapter : 2
Rating : R
Genre : AU / School / Drama / Romance / Fantasy?
Fandom : the GazettE and friends xD
Pairing : Reita x Ruki (Main)
Warning : Bullying! MxM! Alur maju mundur xD
Note : Setelah ini mungkin akan agak lama update tapi karena alurnya masih mengalir deras di kepala saia, tidak akan terlalu lama sepertinya xD


Perhatikan tanda ini ya!!

Present : *****
Flashback : 0++0++0






*****

Cklek.

'Oh tidak!'

Takanori mulai panik saat ia mendengar suara 'cklek' an dari luar dan saat ia mencoba membuka pintu stall itu....

BRUASH!

“Hahaha....”

Takanori mendengar beberapa siswa dan siswi diluar stall toilet tertawa-tawa setelah menumpahkan seember air dari atas hingga seluruh tubuh kecil Takanori basah kuyup.

Dan ia terkunci di tempat sempit itu.

“Bersabarlah sampai seorang pangeran menyelamatkanmu dari tempat yang paling cocok untukmu itu!”

“Maksudmu Kuujo ojiisan? Si tukang pembersih toilet?”

Dan Takanori mendengar mereka kembali tertawa sebelum akhirnya suara mereka semakin menjauh dan tak terdengar.

Takanori terduduk di closet yang tertutup dengan tubuh lemah. Ia tidak menggedor-gedor pintu itu sambil berteriak 'buka pintunya!' saat siswa-siswa yang telah mengguyur dan menguncinya itu masih berada di sini karena Takanori tahu itu akan sia-sia. Untuk apa melakukan hal yang sia-sia yang sudah jelas tak ada hasilnya? Lagipula ia sudah lelah.


0++0++0++0


“Kenapa?”

“Aku hanya ingin terlihat keren di depan anak itu,” jawab Yutaka sambil menggaruk tengkuknya, “tidakkah kau berpikir dia manis?” Ucapnya bercanda. 

“Yutaka?”

Yutaka menghela nafas memalingkan wajahnya, “maaf Taka...  Aku ceroboh.”

“Siapa anak itu?”

Yutaka sedikit menunduk menggaruk kepalanya, “kau tahu, ini hal yang selalu tak bisa kukatakan padamu.”

“Apa?”

“Dia Murai Naoyuki, aku selalu memperhatikannya sejak ujian masuk sekolah. Dan kau mengertikan?”

“.......”

“Ya, aku salah satu dari yang mereka sebut sebagai.....gay. ”

Takanori membulatkan matanya.

“Aku tahu. Mungkin mulai saat ini kau akan berpikir bahwa aku menjijikan. Itulah yang selalu membuatku mengulurkan niatku untuk terus terang padamu. Tapi aku tidak mungkin terus menyembunyikan ini darimu. Maaf Taka....”

Itu adalah percakapan terakhir antara Takanori dan Yutaka hari itu. Setelah itu Yutaka tidak masuk sekolah selama dua hari dan Takanori tidak bisa menghubunginya selama itu. Takanori tidak bermaksud membuat Yutaka merasa buruk dengan keadaannya apalagi sampai memutuskan pertemanan hanya karena itu, jujur saja Takanori kaget dengan pengakuan sahabat sejak kecilnya itu karena selama bertahun tahun berteman dengannya Takanori sama sekali tidak pernah menyadarinya. Kenapa Yutaka selalu menolak perempuan yang ingin mencoba dekat dengannya? Takanori pikir Yutaka hanya belum ingin menjalin hubungan dengan perempuan dan meninggalkannya menjadi seorang jomblo seorang sendiri.

Takanori tersenyum kecut pada dirinya sendiri. Ternyata selama ini ia hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri. Tapi itu berarti Yutaka pintar menyembunyikan sesuatu..... sama seperti dirinya.

Sungguh Takanori tidak marah ataupun merasa jijik atau apapun.  Karena itu saat Yutaka masuk lagi nanti, mereka harus membicarakannya sekali lagi. Takanori ingin menyampaikan perasaan yang sebenarnya tentang semua ini.




- GO TO HELL!! 
DISGUSTING 
FUCKING FAGGOT!!💩-

Takanori masuk kelas pagi itu dengan disambut tulisan dengan marker yang sengaja dibuat sedemikian rupa besar di whiteboard depan kelas. Dan Takanori tahu untuk siapa tulisan itu ditujukan.

“Hei!! ” Seorang siswi terlihat protes saat Takanori dengan segera mengambil penghapus papan tulis dan hendak menghapus tulisan besar itu namun seorang siswa dengan segera menarik tubuh Takanori menjauhkannya dari depan papan tulis.

“Lepaskan aku!” Takanori membentak berusaha melepaskan diri dari seseorang yang menariknya, suaranya sedikit bergetar seakan menahan amarah dan tangis. Mereka tidak berhak menghakimi sahabatnya seperti itu! Takanori tidak terima. Ia yang tahu luar dan dalamnya Yutaka!!

“Berani sedikit saja kau menghapus tulisan itu dan kau berurusan dengan Suzuki Akira!”

Takanori menggigit bibir bawahnya meremas penghapus papan tulis di tangannya kuat. Mendengar nama itu membuat Takanori sungguh menjadi pengecut. Takanori tidak pernah ingin bahkan sekalipun dalam mimpi, untuk berurusan dengan ketiga orang itu, terutama Suzuki Akira. Mereka adalah orang-orang tak terkalahkan.  Jangankan untuk mengalahkannya, bahkan meraihnya saja pun hal yang mustahil bagi Takanori. Dan prinsip makhluk kecil itu tidak pernah berubah, tidak usah mencoba sesuatu yang sudah pasti kegagalannya. Karena itulah yang dinamakan dengan usaha sia-sia yang hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga saja....
Takanori merasa nyaman berada di zona aman.

“Aha, Uke-chan datang... ”

Beberapa siswi di kelas itu terkikik mendengar seorang teman mereka mengumumkan. Dan saat itu Takanori lansung menangkap sosok Yutaka berdiri di ambang pintu kelas sambil menatap whiteboard.

“Yutaka!” Panggil Takanori.

Yutaka berpaling ke arah Takanori dan berjalan ke arah sahabat kecil nya itu. “Ohayou Taka.” Sapanya tersenyum.

“Kemana saja kau? Sampai tidak bisa dihubungi. Kau membuatku khawatir!” Takanori meninju pelan lengan atas sahabatnya berusaha tertawa meski perasaannya masih tak enak karena hal tadi.

“Sorry, aku mempersiapkan mentalku haha... ” Yutaka tertawa menggaruk belakang kepalanya.

“Benar-benar mesra.... ”

“Aku sama sekali tak pernah menduga.... Pikiran inosenku menganggap mereka hanya sepasang sahabat yang begitu dekat.”

“Ckck... pantas saja namanya Uke, ”

“Haha apa keluarganya berharap ia menjadi homo sejak ia bayi?”

“Haha itu absurd Rii-chan!”

Takanori melihat ekspresi wajah Yutaka menegang dan ia pun mengerti karena Takanori sendiri kini tengah mengepal kedua tangannya geram. Ia ingin berteriak menyuruh manusia-manusia itu diam tapi Takanori tahu dia tak seberani itu. Sekali lagi Takanori kecewa pada dirinya sendiri.


*****


“ Mereka bilang di sini?”

Takanori tersadar dari tidurnya mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya memasuki toilet. Sial. Karena saking lelahnya tanpa sadar Takanori tertidur sambil terduduk di atas kloset. Padahal kalau mau tadi dia bisa memanjat ke atas stall dan keluar dari sini.

“ Mari kita lihat! "Yang berani membuka pintu ini akan mendapatkan akujunkan! " Haha... Aku tidak merasa pernah memberi perintah seperti ini pada mereka.”

Takanori mendengar kunci pintu stallnya dibuka dari luar, dan jantungnya berdegup dengan kencang.

“Tapi kuakui mereka melakukan pekerjaannya dengan baik haha... ya kan Akira?”

Dan Takanori sedikit jantungan saat pintu stall di depannya terbanting karena didorong dengan kuat menggunakan kaki dari luar.

“Ohoho~ Look! Who we have here?” Takashi menyeringai memangku kedua tangannya menatap Takanori yang sedikit gemetar karena basah kuyup. Takanori bisa melihat dari sela-sela pintu dan Takashi yang berdiri di depan stall, di belakang sana Kouyou yang sedang bercermin di wastafel tengah menata rambutnya dan Akira yang membasuh tangannya tampak acuh dengan keberadaannya,“Kau kedinginan?” Takashi mengernyitkan dahinya. “Pasti karena baju basahmu itu kan?”

Takanori menggelengkan kepalanya.

“Ah! Aku paling tidak suka orang yang malu-malu!” Takashi menjambak rambut Takanori yang masih basah dan menyeretnya keluar stall mengabaikan makhluk kecil itu yang mengaduh dan mendorongnya tersungkur di lantai. “Hmm... Kau diapakan hari ini ya?” Takashi berakting berpikir memukul-mukul bibir bawahnya dengan telunjuknya.

Takanori hanya terduduk memeluk lututnya, ia tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan Takashi, matanya hanya terus melirik dengan takut-takut pada orang itu yang baru selesai mencuci tangannya dan kini tengah bercermin di depan wastafel. Dan jantungnya seperti berhenti berdetak selama satu detik saat tanpa sengaja kedua mata itu bertemu pandang dengannya melalui cermin. Dan saat itu juga Takanori menarik pandangannya.

Takut.

Takanori selalu merasa takut.
Kedua mata tajam itu seakan selalu melihatnya dengan tatapan jijik dan merendahkan.
Takanori selalu merasa ia makhluk paling hina jika menemukan kedua mata orang itu menatapnya.

Tapi itu jaranglah terjadi...
Karena dengan melihat Takanori saja mungkin sudah terasa memuakkan baginya.

Takanori hanya sibuk dengan pikiran-pikirannya sampai tanpa sadar 3 orang siswa sudah memasuki toilet. Meski ia sedikit melamun tapi ia ingat sepertinya tadi Takashi menelpon seseorang.

Apa yang direncanakannya?

Takanori menatap kedua siswa itu dengan penuh kehati-hatian dan kewaspadaan.

“Kau kedinginankan?” Takashi tersenyum, “biar kubantu membuka baju basah kuyupmu itu ya!”

Dan Takanori seperti tersentak saat sadar apa maksud dari kata-kata Takashi.

“Telanjangi dia!” Perintah Takashi pada ketiga siswa yang dipanggilnya sambil membuka kamera ponselnya bersiap mengabadikan penistaan yang dilakukannya pada Takanori.
 Ketiga orang itu mengangguk dan segera menghampiri Takanori yang memucat.

“Tidak!! Lepaskan aku!!” Takanori  berusaha memberontak melepaskan diri saat kedua orang dari tiga orang itu memegangi tangannya dan satu orang lagi mulai membuka kemeja seragamnya yang basah. “LEPAS!!!!!”

Tidak.
Jangan di sini...
Jangan sekarang!!!


0++0++0++0


“Taka.... Aku punya satu permintaan!”

Takanori menoleh ke sampingnya dimana Yutaka duduk. “Ya?”

“Tolong jangan dekat-dekat denganku saat di sekolah.”

“Apa?!”

Yutaka memainkan balpoin di tangannya, “kau lihat? Semua orang menganggapku menjijikan. Aku tidak ingin mereka memperlakukanmu sama hanya karena kau dekat denganku.” Yutaka menoleh ke arah Takanori tersenyum tipis, “kau normal Taka. Kau tidak sepertiku. Tidak adil jika kau juga diperlakukan sama denganku.”

“.......”

Tidak.

Takanori ingin berteriak TIDAK.
Ia tidak perduli dengan mereka.
Ia ingin selalu makan bento bersama Yutaka di atap seperti yang biasa mereka lakukan.

“Yang aku tahu kau itu cengeng dan mudah putus asa. jadi jangan sampai kau terlibat dengan geng Takashi. Karena akan sulit jadi nya kau lulus dari sekolah ini. Kalau aku... Aku kan kuat! Lagipula sejak hari itu aku memutuskan untuk berlari ke arah mereka, aku sudah tau bahaya apa yang menunggu di depanku.”

Ini justru tidak adil bagi Yutaka diperlakukan seperti itu hanya karena ia ingin melindungi seseorang yang disayanginya. Ini tidak adil bagi Yutaka.... dijauhi semua orang dan ditatap dengan tatapan jijik oleh setiap mata yang memandangnya dan mendapat memo yang mengatainya dengan kata-kata kejam. Bahkan selama seminggu ini mereka sudah tidak pernah lagi makan siang bersama, entah itu karena bentonya yang dibuang ke tempat sampah atau Yutaka selalu pergi menghilang entah kemana yang kemudian Takanori temukan ia terkunci di toilet atau di gudang sekolah.

Hati Takanori terasa sakit.
Kenapa ia terlahir sebagai seorang pengecut? Kenapa ia tidak bisa mengatakan apa-apa? Kenapa terasa begitu sulit untuk berterus terang?

“Oi, MaHo!”

Yutaka menoleh ke arah tiga orang yang sudah berdiri di ambang pintu kelas yang Takanori kenali, mereka adalah tiga orang dari beberapa orang yang mengeroyok Yutaka beberapa hari yang lalu. Takanori segera menarik bagian samping seragam Yutaka saat Yutaka berdiri dari bangkunya.

“Hari ini kau libur kan? Kita main sepuasnya sepulang sekolah. Ok?” Yutaka tersenyum mengacungkan jempolnya dan kemudian melepaskan tangan Takanori dari seragamnya.

Takanori duduk mematung seperti yang selalu ia lakukan.
Tak ada yang bisa ia lakukan selain diam dan melarikan diri. Karena hanya itulah yang bisa dilakukan seorang pengecut.

Sosok Yutaka yang menghilang ke balik pintu bersama ketiga orang itu membuat Takanori benar-benar merasa kehilangan. Tapi ia tidak ingin mengikutinya, ia tidak ingin membuat dirinya lebih terasa pengecut lagi.

Tapi perasaannya benar-benar sakit.





BRAK!


*****


Takanori memeluk lututnya kuat, membola di atas kloset yang sama dengan dimana sebelumnya ia sempat tertidur. Hanya bedanya kali ini ia telanjang dan itu yang membuatnya terasa lebih kedinginan. Hanya celana dalam yang tersisa melekati tubuhnya. Takashi membuang kemeja dan celananya entah kemana.

“Hei, tersenyumlah! say "hi" ke kamera! Sebentar lagi kau akan terkenal!” Takashi tertawa-tawa terlihat menikmati pengambilan videonya namun karena Takanori hanya memeluk lututnya gemetaran sambil menyembunyikan wajahnya diatas lututnya, membuat laki-laki berambut hazel itu sedikit jengkel. “Woi!! Tunjukan gigi-gigimu!! Atau kau ingin aku merontokannya!!?” Takashi menjambak rambut Takanori kesal, membuat anak laki-laki kecil itu menengadah dan sekali lagi tanpa sengaja Takanori bertemu pandang dengan tatapan mata itu yang ia takuti. 

Takanori mengeratkan pelukan lengannya di kedua lututnya. Bibirnya terkembang tipis namun getir.

Menyedihkan.

Itu yang Takanori tangkap dari tatapan kedua mata tajam itu saat melihatnya. Ia memang orang yang menyedihkan....
Pengecut dan menyedihkan.

Yutaka....

Ingin sekali ia berteriak meminta tolong dan menyebut nama sahabatnya itu saat ketiga orang itu tadi membuka bajunya dengan paksa.

Dan sekarang pun Takanori ingin melakukan hal yang sama.

“Yuta....Ka....Tolong....” Takanori menenggelamkan wajahnya di atas lututnya. Bagaimana ia bisa pulang dalam keadaan telanjang seperti ini? “Yutaka..... kumohon datanglah!” bisik Takanori pelan sambil berusaha menahan air mata nya yang memaksa keluar. Tidak! Ia tidak boleh menangis!


0++0++0++0


“Berani juga kau!” Takashi menatap Yutaka dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. “Jadi.... Katakan!  Anak itu teman... Sahabat... Atau kekasihmu?” Takashi sedikit berekspresi jijik di kata-kata terakhirnya. Dan terdengar beberapa orang di cafetaria itu terkekeh mengejek.

“.......”

“Apa kau tidak punya mulut?” Takashi mengucurkan minuman kalengnya dengan santai di atas kepala Yutaka. “Atau kau menyesali tindakan gegabahmu yang membuat semua orang sekarang tahu bahwa kau seorang HOOOMOOO?!” Takashi membulatkan mulutnya sambil menyeringai. Dan lagi-lagi tawa ejekan menjadi background di belakang Yutaka.

“.......”

“FUCKING ANSWER MY QUESTION! YOU FAGGOT!!” Takashi menampar pipi Yutaka yang tetap merapatkan mulutnya. “Kau .... benar-benar sok hebat rupanya, hah?” Takashi mengangkat dagu Yutaka dengan telunjuknya. “Akira~ katakan sesuatu!” Takashi menoleh ke belakangnya dimana kedua temannya tengah bersantai meminum minumannya. “Anak itu yang menumpahkan minumannya di seragammu ... Kau yang memberinya akujunkan kan?”

“ ........”






BRAK.

Semua orang yang ada di cafetaria  saling berbisik dan mulai ribut saat melihat Suzuki Akira berdiri dari duduknya setelah menendang kursi yang ada di sampingnya. Sementara itu Takanori yang bersembunyi di balik dinding pembatas yang ada di cafetaria itu menahan nafasnya saat laki-laki yang paling ditakuti siswa-siswa Senbazuru itu berjalan menghampiri Takashi dan sahabatnya. Kalau Suzuki Akira sudah turun tangan itu berarti masalah Yutaka  membuatnya terusik.


Dan ini gawat.


“Siapa namamu?”

Ini pertama kalinya Yutaka maupun Takanori mendengar suara seorang Suzuki Akira...

“U-Uke... Uke Yutaka.”

Takanori menggamit samping celana seragamnya. Topeng Yutaka telah runtuh.

Takanori tahu itu, sejak dulu sahabatnya itu selalu berusaha berpura-pura kuat meski sebenarnya dia juga sama penakutnya dengan Takanori. Tapi ia selalu mengatakan Takanori lebih kecil darinya karena itu sosoknya seperti seorang adik yang harus dilindungi, dan dia seorang kakak yang harus melindungi. Sejak dulu, Yutaka memang selalu sok kuat kalo demi seseorang yang ingin dilindunginya. Tapi Takanori tahu.... . Bahkan saat tadi ia menghadapi Takashi, meski sedikit Takanori melihat tangannya gemetar. Namun di depan Takashi Yutaka masih bisa menggunakan topeng tanpa ekspresinya.

Tapi topeng itu tidak cukup kuat untuk menghadapi Suzuki Akira...

 “Uke Yutaka-san.... Tahu kah kau, bahwa sikap ke-sok pahlawanmu itu telah mengusikku?”

Yutaka menatap lantai di bawah kakinya tak berani menatap wajah seseorang di hadapannya.

“Kau tau kesalahan apa yang dilakukan kekasihmu itu?” Ekspresi wajah Suzuki Akira tak berubah seperti sebelumnya. Tak terlihat ada kemarahan, kejengkelan, atau emosi yang nampak di wajahnya. Tapi itulah yang dikenal sebagai Suzuki Akira. Kita tidak tahu apakah dia sedang senang, jengkel, marah,  bingung atau yang lainnya. Bahkan saat menghajar seseorang sampai hampir matipun ekspresi itulah yang dipakainya. “ Dia menumpahkan minumannya di baju seragamku dan karena itu hampir seharian aku harus berkeliaran dengan baju—”

“Aku yakin dia sudah minta maaf.” Yutaka menunduk mengucapkannya hampir berbisik namun sayangnya Suzuki Akira punya pendengaran yang sangat baik.

“Jadi kau mengatakan bahwa aku yang salah?”

Yutaka mengangkat wajahnya segera, “tidak, aku—”

BUAGH!!

Beberapa siswi di cafetaria itu memekik refleks dan ada juga yang menutup mulutnya saat tubuh Yutaka tersungkur menabrak meja makan di belakangnya.

“Sepertinya kau tidak tahu cara menjaga mulutmu Uke Yutaka-san.”

BUAGH!

Yutaka merasakan kepalanya pening seketika dan rasa sakit diperut juga pipinya dan rasa darah di mulutnya, membuatnya mual dan tersungkur di lantai.

“Kau tahu aku paling tidak suka seseorang memotong pembicaraan—”

“HENTIKAN!”

“........”

Semua mata kini mengarah pada seseorang yang baru saja berteriak seakan menahan kepalan tangan Suzuki Akira agar tetap berada di udara dan tidak mengenai tubuh Yutaka lagi yang terlihat sudah kepayahan hanya dengan setelah menerima dua kali tinjuan tangan kakak kelasnya itu.




Oh.

Tidak....

Takanori segera menutupi mulutnya sendiri saat Suzuki Akira menoleh ke arahnya dan ia sadar apa yang baru saja telah ia lakukan.


*****


BRUK.

Takanori mengangkat wajahnya merasakan sesuatu terjatuh di atas kepalanya. Laki-laki kecil itu menggerakan tangannya untuk meraih sesuatu itu yang ternyata adalah celana dan kemeja seragam nya yang masih sedikit basah.

“Yutaka?!” Panggil Takanori refleks. “Yutaka?! Kau di situ?”

Namun tak ada suara yang menyahut maupun suara langkah kaki manusia dari luar sana.

Takanori sedikit tersenyum segera memakai bajunya. Pasti Yutaka. Tidak salah lagi! Tidak akan ada orang yang mau bersusah-susah mencarikan bajunya dan membawanya kemari kalau bukan Yutaka. Tidak ada orang di sekolah ini yang perduli padanya selain Yutaka. Meski mungkin Yutaka menjauhinya, Takanori yakin, ia tetaplah Yutaka sahabatnya.


#TBC#


Saia udah sering tulis akujunkan akujunkan kan ya?
Jadi apa sih akunjunkan itu? (bagi yang gak tau)

*悪循環 (Akujunkan) - Lingkaran Kejam (Vicious Circle)

LoL... Itu judul fanfic ini xD

Ruki beberapa kali tulis kosa kata ini diliriknya kan? BID sama Break Me gitu? Jadi kayak kesialan yang terus berulang.

Iya, jadi akujunkan itu nama untuk semacam hukuman yang akan didapat siswa jika mereka mengusik atau tanpa sengaja jadi berurusan dengan Geng Akira dkk.

No comments:

Post a Comment