Search + histats

Wednesday, 19 April 2017

悪循環 - Vicious Circle - (Reituki Fanfic) // CHAPTER 03

Author : RuKira Matsunori
Chapter : 3
Rating : R
Genre : AU / School / Drama / Romance / Fantasy?
Fandom : the GazettE and friends xD
Pairing : Reita x Ruki (Main)
Warning : Bullying! MxM! Alur maju mundur xD
Note : Sebentar kan?  xD hoho~ mumpung libur.


Perhatikan tanda ini ya!!

Present : *****
Flashback : 0++0++0





*****

Klek.

Takanori merogoh ponsel yang syukurlah masih ada di saku celananya, setelah ia selesai memakai seragamnya dan sedikit guratan senyum terpahat di wajah anak laki-laki mungil itu saat ia hendak menyampaikan ucapan terimakasihnya pada Yutaka atas apa yang telah sahabatnya itu lakukan hari ini untuknya. Takanori membuka pintu stall sambil berkutat dengan ponselnya, mengetik pesan untuk Yutaka masih dengan senyum di wajahnya sampai tiba-tiba ia merasakan keberadaan lain selain dirinya di toilet itu.

Takanori mengalihkan tatapan nya dari layar ponsel dan ia hampir tidak mempercayai sosok yang ditemukan matanya yang tengah berdiri di hadapannya. Berdiri santai memangku kedua tangannya sambil menyandarkan tubuhnya ke wastafel hingga punggungnya yang terpantul di cermin.

“Kau pasti berharap aku adalah temanmu...”

Takanori mematung.

“Maaf membuatmu kecewa... ”


Apa?
Kenapa?!


0++0++0++0


“Jadi... bagaimana hubunganmu dengan Murai Naoyuki?” Tanya Takanori sambil memasukan sesuap nasi ke mulutnya.

Ini masih terlalu dini untuk waktu istirahat siang.  Tapi Takanori dan Yutaka sudah membobol bento mereka masing-masing dan menyantapnya bersama di tempat yang sudah seperti himitsu no kichi bagi mereka. Atap sekolah.
Karena tindakan Takanori beberapa hari yang lalu membuatnya mendapatkan akujunkan juga, semua teman-teman sekelas mengasingkannya bersama Yutaka. Bahkan pagi tadi mereka menemukan bangku mereka sudah tidak ada di tempatnya, dan melapor pada guru pun tidak akan membuat perubahan apa-apa. Jadi untuk sehari ini saja mungkin guru akan memaklumi bolosnya mereka.

Yutaka sedikit menggaruk tengkuknya canggung, “beberapa hari yang lalu dia menemuiku dan dia bilang... Gara-gara aku sekarang teman-teman sekelasnya mengatainya gay.” Yutaka tertawa kecil, “sepertinya dia marah.”

Takanori berhenti mengunyah nasinya dan menelannya paksa, “apa? dia tidak berterimakasih padamu?” ia mengernyitkan dahinya.

Yutaka menggengkan kepalanya, “tidak Taka. sepertinya aku memang terlalu gegabah tanpa memikirkan akibat apa yang akan kutimbulkan karena kecerobohanku itu. Lagipula aku tidak berharap apa-apa. Mungkin jika saat itu aku tidak berlari ke arah mereka, aku akan lebih menyesal lagi dan membenci diriku yang tidak berbuat apa-apa. Aku hanya melakukannya untuk membebaskan diriku dari perasaan seperti itu. Aku hanya melakukannya untuk diriku sendiri. Setidaknya sekarang dia tidak menjadi target utama akujunkan geng Suzuki Akira.”

“Tapi, bukankah setidaknya dia harusnya berteri— ”

“Dengan menyukainya saja itu sudah suatu kesalahan Taka.”

Takanori menatap bento di tangannya.

“Menjadi orang sepertiku... itu saja sudah kesalahan.” Yutaka sedikit tersenyum kecil, “kau tau, saat kita menyukai seorang perempuan, apa yang membuat kita tidak berani mengungkapkannya? takut ditolak karena dia tidak mempunyai perasaan yang sama. Hanya itu. Tapi kau tau, meski perempuan itu tidak menyukai kita, dia pasti tetap merasa senang atau bangga karena disukai oleh seseorang kan?”

Takanori menganggukan kepalanya.

“Tapi aku... Kalau kau menjadi aku, tidak seperti itu.” Yutaka memainkan sumpit di bentonya, “pertanyaan seperti..."apakah dia sama dengan kita? bagaimana kalau dia straight? dia akan jijik melihatmu setelah tau perasaanmu, dia akan membencimu. Dan bagaimana pandangan orang-orang... " akan terus berputar-putar di kepalamu.”

Takanori mengeratkan pegangan tangannya di bento yang hanya ia tatap isinya.

“Dan aku benar-benar terkejut kau masih mau berteman dengan orang sepertiku... ”

“Yutaka aku—”

“Yang lebih mengejutkanku lagi, kau berani-beraninya membelaku dari Suzuki Akira di depan banyak orang begitu! ”

“.......”

“Aku benar-benar masih kesal padamu!” Yutaka menggeplak kepala Takanori pelan membuat sahabat kecilnya itu terkekeh. Ya, hari itupun Yutaka memarahinya.

“Maaf!”

“Bodoh!”

“Aku tahu.” Takanori pura-pura cemberut.

“Kau benar-benar membuat Suzuki Akira terlihat sangat kesal. Selama ini tidak pernah ada orang yang berani menentang atau menghentikan apa yang ia lakukan semaunya pada korbannya, dan tiba-tiba saja kau dengan bodohnya berteriak begitu. Dia pasti merasa dipermalukan.” Celoteh Yutaka yang entah kenapa ia justru terlihat puas di mata Takanori.

Ya. Hari itu ....
Mata itu menatap Takanori dengan penuh kemarahan. Suzuki Akira terlihat sangat marah Takanori mengganggu kegiatannya. Sampai-sampai dia pergi begitu saja? Itu yang tidak Takanori duga. Padahal makhluk kecil itu sudah mempersiapkan fisik dan mental untuk menerima apapun itu kekerasan yang akan Suzuki Akira lakukan padanya. Tapi tidak ada. Dia hanya pergi begitu saja setelah menatap Takanori untuk waktu yang cukup lama. Bahkan Takashi mengernyitkan dahinya saat leader gengnya itu pergi. Tapi Takanori masih ingat ancaman Takashi saat sebelum akhirnya dia dan juga Takashima Kouyou pergi, “Kau boleh rileks sekarang, makhluk kecil. Akira hanya terlampau kesal dengan kenyataan sudah ada dua orang berturut-turut yang berani menentangnya di sekolah ini. Tapi kau bersiap-siap saja. Dan manfaatkan waktumu selagi Akira masih memberimu kesempatan... ” Ucapnya dengan seringaian.

Takanori tahu itu.
Tapi dia bersama Yutaka, sahabatnya. Seperti yang Yutaka katakan tadi, jika saja ia juga tidak menghentikan Suzuki Akira  menghajar Yutaka waktu itu, maka saat ini dipastikan Takanori sedang membenci dirinya sendiri yang tak melakukan apa-apa. Dan dia tidak akan sedang melahap bento mereka berdua di atap seperti sekarang ini karena Takanori pasti tidak akan punya muka lagi untuk menemui sahabatnya.

 “Kau benar-benar bodoh!!”

“Aku tahu! Sudah berapa kali kau mengucapkan kata itu selama beberapa hari ini?!”

“Aku hanya belum puas! Kenapa kau bodoh sekali sampai berani melakukan itu?!”

“Kau sendiri?! Memangnya hanya kau saja yang boleh sok kuat dan ingin terlihat keren?”

“Kau ingin terlihat keren juga?  Di depan siapa?” Yutaka mengernyitkan dahinya.

Takanori mengembungkan kedua pipinya sambil memalingkan wajah.

“Apa itu?! Oi?!” Yutaka protes sambil tertawa-tawa, karena tingkah sahabat kecilnya itu yang jujur saja....terlihat menggemaskan.

Pokoknya, selama Takanori menjalaninya bersama Yutaka. Seluruh orang sekolah membully-nya pun tak apa. Asalkan ia bersama Yutaka, Takanori pikir ia bisa menjalani sisa hari-harinya di sekolah ini, sekalipun hari-hari itu dipenuhi dengan berlari-larian menghindari kejaran pengikut geng Suzuki Akira yang ingin membullynya, sekalipun ia harus pulang dengan seragam dan tubuh yang kotor,  karena Takanori menjalaninya bersama Yutaka, dia bisa kuat menghadapi hari-hari seperti itu. Ya, asalkan ada Yutaka yang selalu menemaninya tertawa saat mereka kembali menceritakan kejadian-kejadian itu, Takanori tidak apa-apa.

Takanori berhenti mengembungkan pipinya dan sedikit menunduk menaruh bentonya di lantai, “Yutaka sebenarnya...”

“Hn?” Yutaka mengernyitkan dahinya, namun kemudian lesung pipitnya muncul kepermukaan seiring dengan senyumnya yang melebar, “kau menyukai seseorang?”

Yutaka melihat tubuh Takanori sedikit menegang mendengar kata-katanya, namun akhirnya ia mengangguk kecil membuat senyum Yutaka semakin melebar.

“Katakan, apa perempuan itu dari kelas kita? Sejak kapan kau menyukainya?” Yutaka mendadak antusias.

Takanori segera menggelengkan kepalanya kuat, membuat Yutaka kembali mengernyitkan dahinya.

“Atau dari kelas lain?”

“Tidak.”

“Dari sekolah lain?”

“Tidak! Aku bukan menyukai perempuan...”

“.......”

Takanori menunduk sambil memejamkan matanya tak ingin melihat ekspresi yang ditunjukan Yutaka saat ini.

“HEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!??” Yutaka terperanjat dari tempatnya duduk. “Kau.... kau.... ” Yutaka menunjuk Takanori.

Takanori mengangguk sedikit menggigit bibir bawahnya. “Maaf, aku tidak lebih awal jujur padamu... ”

Yutaka masih terlihat shock, “Kau tidak terlihat —”

“Itu juga yang kupikirkan tentangmu saat kau pertama kali mengatakannya!”

Yutaka kembali membenarkan duduknya bersila dan sedikit menggaruk tengkuknya tersenyum canggung, “ternyata kita tidak benar-benar saling mengenal dengan baik haha...” Takanori sedikit tidak setuju dengan Yutaka, mereka dekat, mereka mengenal satu sama lain dengan baik hanya untuk satu hal itu saja mungkin mereka lalai tidak saling memperhatikan,  “lalu.... siapa orang beruntung itu yang disukai oleh sahabat manisku ini?”

“Yutaka!” Takanori protes paling tidak suka digoda atau disebut manis oleh sahabatnya itu. Oleh siapapun! Dan Yutaka hanya tertawa dengan protesannya.

“Jadi siapa dia?”


*****

Takanori sedikit mundur saat Takashima Kouyou beranjak dari tempatnya berdiri melangkah menghampirinya. “Tidak usah tegang begitu, aku tidak akan menindasmu seperti Takashi ...” Ia tersenyum.

Apa Takanori sedang bermimpi?
Seorang Takashima Kouyou tersenyum kepadanya?!
Dan yang lebih mengejutkan dari itu....

“Takashima-san...Kau... Yang membawa seragamku?” Tanya Takanori takut-takut, yang bahkan ragu dengan pertanyaannya sendiri. Tidak mungkin kan?  Apa alasannya seorang Takashima Kouyou repot-repot melakukan itu?

Namun dia mengangguk, “Ya...”

“Kenapa?!” Pertanyaan Takanori hampir seperti pertanyaan refleks karena kaget dengan jawaban yang ia dapatkan.

“Mungkin karena aku baik?” Canda laki-laki tinggi elegan itu, kembali tersenyum sambil memiringkan wajahnya membuat Takanori juga ikut memiringkan wajahnya.

Tapi melihatnya dari jarak sedekat ini.... Takashima Kouyou memang benar-benar sosok manusia yang sempurna bagi Takanori. Wajahnya yang tampan tapi juga cantik, tubuhnya yang tinggi ramping,  kulitnya yang putih bersih bahkan melebihi perempuan...

“Mungkin... Aku hanya tidak suka cara Takashi dan Akira memperlakukanmu. Aku tidak ingin kau menganggapku sama seperti mereka. Sejak dulu, sebenarnya aku tidak pernah setuju dengan apa yang mereka lakukan. Apa lagi melihatmu....” Takashima Kouyou menatap Takanori dengan prihatin. “Rasanya tidak adil anak laki-laki manis sepertimu diperlakukan seperti itu.”

Manis?
Takanori menunduk merasakan wajahnya memanas dikatai begitu. Padahal biasanya ia paling tidak suka dikatai "manis" oleh siapapun.

“Tapi kau mau janji padaku?”

Takanori kembali mengangkat wajahnya.

“Tolong jangan katakan ini pada Akira maupun Takashi. Ini adalah rahasia kita berdua, janji?”

Takanori tanpa berpikir panjang lagi langsung menganggukan wajahnya.

“Bagus.” Takashima Kouyou kembali tersenyum membuat Takanori tidak tahu harus bertingkah bagaimana. “Sebaiknya kau berjemur terlebih dahulu sebelum masuk kelas, seragammu masih basah... ”

“Iya, terimakasih.”

“Jangan terlalu formal begitu denganku... ” Takashima Kouyou sedikit terkekeh.

Takanori hampir tidak mempercayai ini...
Fakta baru yang ia temukan, bahwa Takashima Kouyou ternyata berbeda dengan Akira dan Takashi. Memang selama ini Takashima Kouyou terlihat tidak pernah menindas siapapun bahkan menindasnya, tapi mengetahui dia bahkan sampai repot-repot membawakan seragamnya yang mungkin sudah Takashi buang entah kemana, dan mau berbicara dengannya seperti ini.... Sungguh suatu hal yang sulit untuk dipercaya.


0+++0++0++0


“Mati kau! Homo!” Dan kedua orang itu tertawa melewati Yutaka yang tengah memasukan baju seragamnya di loker ruang ganti olahraga. Takanori melihat Yutaka mengepal satu tangannya di samping celana baju olahraganya, dan lagi-lagi Takanori merasa sakit dan tidak berguna. Ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuat orang-orang itu berhenti mengatai Yutaka.

DUAK!

“Yutaka!”

“Serves You Right~ Faggot ~ Hahaha...” Dan laki-laki teman sekelas Takanori itu berhigh-five dengan teman-temannya yang lain setelah dengan sengaja melemparkan bola basket yang mengenai kepala Yutaka untuk yang kesekian kalinya.

Takanori segera membantu Yutaka untuk berdiri yang terlihat kepayahan karena sakit dan pusing di kepalanya. Takanori tidak tahan lagi melihat mereka dengan seenaknya melempari sahabatnya dengan bola lebih sering daripada mereka melempar ke ring.

“KALIAN BENAR-BENAR TIDAK PUNYA HATI!!” Teriak Takanori geram, namun mereka hanya tertawa-tawa dan memberi Takanori thumb-down.

“Sudah Taka! Tidak akan ada gunanya.” Yutaka menarik kaos olahraga Takanori.

“Tapi aku tidak tahan lagi...”

“Sebaiknya kau antar aku ke UKS. Aku benar-benar pusing.” Ajak Yutaka dengan lesung pipitnya. Takanori menunduk lalu menganggukan kepalanya. “Ayolah ~ jangan murung begitu! Aku tidak apa-apa!” Yutaka memukul lengan atas Takanori lalu segera merangkul sahabat kecilnya itu. Dan mereka berdua berjalan ke UKS meninggalkan lapangan olahraga setelah sebelumnya meminta izin pada guru.

Yutaka terus bercanda di sepanjang perjalanan mereka menuju UKS untuk menghibur Takanori dan meyakinkan bahwa ia tidak apa-apa,  ia tidak akan kalah dengan kelakuan teman-teman sekelas mereka yang kekanak-kanakan itu.

“Aku tidak mau ke UKS” gumam Yutaka tiba-tiba.

“He?”

“Ayo ke atap,  Taka!” Ajak Yutaka riang sambil menarik lengan sahabat kecilnya itu.

“Tapi, kepalamu!?”

“Sudah kubilang aku tidak apa-apa!”

Takanori akhirnya berjalan mengikuti kemana Yutaka menariknya setelah sebelumnya menggerutu "dasar!" namun ia tersenyum. Karena membolos bukan hal yang buruk juga dalam keadaan mereka saat ini.

Mereka menghabiskan satu jam pelajaran mereka dengan membicarakan game yang akhir-akhir ini sedang Yutaka gilai dan keluhan-keluhan Takanori di tempat kerja sambilannya sampai Takanori menguap dan tanpa sadar tertidur saat Yutaka asik celoteh kesana-kemari.

“Oi!”

Takanori membuka matanya saat merasakan pipinya ditepuk-tepuk sebuah tangan. “Yutaka?”

“Mau sampai kapan kau tertidur? Dasar kebluk. Ini sudah bel pulang... ”

“Eh?” Takanori segera membangunkan dirinya. Rasanya baru saja sekejap dia tertidur.

“Ayo ambil tas, dan kita pulang!” Seru Yutaka sambil membangkitkan tubuhnya berdiri setelah sedikit meregangkan tubuhnya. Akhirnya jam sekolah hari ini berakhir, pikir Takanori sambil menepuk-nepuk celana olahraganya lalu berlari mengejar Yutaka yang telah lebih dulu dengan semangat berlari turun dari atap. Meski begitu, hanya beberapa jam saja dalam sehari mereka akan merasa bebas dari rasa tertekan dan cemas. Karena hari esok masih menunggu, untuk mengulang perasaan yang sama, hal yang sama, lagi dan lagi.



“Shiori?!”

Ibu Takanori sedikit kaget Takanori tiba-tiba masuk ke kamarnya dan memanggil adiknya yang sudah nyenyak tertidur dengan lantang bagitu. “Ada apa Taka? Shiori sedang tidur.”

“Shiori.... Apa dia mengambil buku sketsaku?” Tanya anak laki-laki mungil itu terlihat panik.

“Tidak, kalau dia mengambil barang-barangmu pasti dia membawanya padaku. Ada apa Taka?”

“Buku sketsaku.... ” Takanori bergumam meremat kain sweater di dadanya. Ia tahu. Takanori tahu buku sketsa itu selalu ada dalam tasnya, ia tahu bahkan tadi pagi ia melihatnya masih ada di sana. Tapi ia hanya ingin meyakinkan, setidaknya ia ingin kenyataan berubah dan ia akan bersyukur jika ternyata adiknyalah yang mengambilnya. Dicoret-coretpun tidak apa, Takanori tidak akan lagi marah seperti sebelumnya! Asalkan apa yang ada dipikirannya tidak benar-benar terjadi...


0++0++0++0


BRUAK.

Kepala Takanori refleks menyamping saat sebuah buku dilempar dengan kasar ke wajahnya. Dan saat buku yang sangat ia kenal itu jatuh berantakan di depan kakinya, Takanori sedikit tersenyum getir untuk kehidupan ini yang memang seakan membencinya.

“Mati saja kau!” Terdengar seperti gumaman tanpa ekspresi dan emosi yang keluar dari mulut orang itu, tapi itu sudah cukup untuk membuat Takanori benar-benar ingin mati.

PROK... PROK... PROK...

Takashi bertepuk tangan seakan meminta perhatian semua pengunjung cafetaria saat itu. “Minna-san, kita punya sedikit berita yang menarik di sini... ” Ucapnya lantang terlihat riang seakan itu adalah hiburan yang menarik untuknya. Takashi berjalan menghampiri leadernya dan Takanori yang berdiri tidak jauh beberapa langkah di depannya. “Kau seharusnya tidak memperlakukan karya seni kelas tinggi begini dengan tidak berperasaan begitu kan, Akira? ” Takashi berjongkok mengambil buku sketsa yang terlihat diabaikan dan membuka-bukanya dengan seringaian.

“Kita punya seorang seniman berbakat di sini, lihatlah! Dan berikan pendapat kalian!” Takashi mengangkat buku itu tinggi-tinggi di satu halaman agar semua orang di cafetaria itu bisa melihatnya. Dan semua orang terlihat terkejut dengan goresan-goresan pensil di kertas itu yang membentuk wujud sesosok orang yang sangat mereka kenal dan takuti. Namun baru saja sebentar Takashi memamerkannya , Suzuki Akira segera merebut buku itu dan membuangnya ke sembarang arah. Melihat buku sketsanya diperlakukan seperti itu, Takanori benar-benar ingin menangis rasanya.

“Akira~ tidakkah kau pikir dia seniman yang berbakat? Dia membuat portraitmu dengan sempurna!” rengek Takashi.

Takanori yang sedang  menatap buku sketsanya tergeletak menyedihkan di lantai ingin rasanya berlari mengambil buku itu tapi ia seakan tak punya kekuatan meski untuk bergerak hanya satu langkah. Sesuatu yang selalu ia jaga.... Tidak pernah terpikir sedikitpun untuknya membuat orang itu tau. Ia hanya mengagumi sebuah bintang yang tidak mungkin bisa ia raih dan akan mendengar perasaannya.

Tapi kenapa....?
Kenapa hal ini terjadi?

“Menggelikan sekaligus menjijikan... ”

Takanori mendengar seseorang di belakangnya...

“Apa dia gak ngaca?”

 Takanori meremat celana seragamnya, ia ingin berlari sampai tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menyentuh lehernya dan Takanori membulatkan matanya saat satu tangan itu kini mencekik lehernya kuat.

Mata yang menatapnya dengan kemarahan itu...
Tangan yang mencekiknya tanpa belas kasihan.

Suzuki Akira....

Orang yang membuat jantung Takanori selalu seakan berhenti atau berdebar hebat bukan hanya karena takut....


“EEEEEEEEEEEEEEEHHHH??!!” Untuk kedua kalinya Yutaka dibuat kaget hari ini oleh sahabat kecilnya. “S-Suzuki Akira?”

“Aku mohon tolong jangan katakan pada siapapun!” Takanori panik.

“Tapi... kau sadar Taka?  Kau tidak mungkin mendapatkannya! Dari banyaknya laki-laki di dunia ini kenapa dia?! Kenapa harus laki-laki berbahaya seperti dia?! Dan kau tau, dia straight! Yang telah meniduri banyak perempuan, orang yang mungkin akan membunuhmu karena merasa jijik! Apa kau sadar itu?!”

Takanori tahu itu.
Ia selalu menyadarinya.
Jika saja ia bisa memilih, ia juga tidak ingin menyukai orang menakutkan seperti Suzuki Akira!

Takanori meronta berusaha melepaskan tangan yang mencekiknya. Tiba-tiba ia melihat sosok sahabatnya berdiri jauh di belakang sana menatapnya.

Yutaka!

Tolong!!

Takanori meronta, ia tidak kuat lagi, ia akan mati.

BRUK.

“Ohok... Ohok... Ohok...
!!” Takanori memegangi lehernya sambil terduduk di lantai. Dia merasa akan mati.... Dia hampir saja akan mati....

Saat Takanori tengah berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk kembali mengumpulkan nyawanya yang sempat terasa hilang, tiba-tiba ia merasakan rambut belakangnya di jambak dengan kuat dan Takanori menemukan wajah Takashi menyeringai di depan wajahnya, “menyedihkan....” ucapnya dengan tampang prihatin, “kau menyukai Akira he?” Tanyanya dengan seringaian, Takanori salut dengan berbagai macam ekspresi yang bisa Takashi keluarkan untuk setiap kata-katanya. “Kau sok berani menentangnya saat itu apa hanya agar mendapatkan perhatian Akira, kecil?” Takashi manyun, “kuakui kau cukup berani. Tapi itu tidak akan berakhir baik. Seharusnya kau tau itu?”

Takanori berusaha menggelengkan kepalanya tapi jambakan tangan Takashi di rambutnya tak membiarkannya melakukan itu.

“Jadi katakan... Do you have some dirty fantasies about Akira? Did you thinking about him while touching yourself, huh?”

“Tidak!” Takanori membentak memejamkan matanya.

Tidak seperti itu.
Dia tidak menyukai Suzuki Akira seperti itu!

“Hentikan itu atau ku hancurkan mulutmu Takashi! Kata-katamu membuatku ingin muntah!” Suzuki Akira melempari teman berambut hazelnya itu dengan kaleng bekas minumannya sambil beranjak dari sana membuat Takashi mendengus. Takanori kemudian melihat Takashima Kouyou juga bangkit dari kursinya dan beranjak dari sana mengikuti Suzuki Akira. Dan meski sebentar, Takanori tanpa sengaja menangkap laki-laki berambut pirang madu itu melirik ke arahnya sebelum ia pergi. Namun kemudian Takashi kembali mengambil perhatian Takanori dengan menguatkan jambakannya di rambut laki-laki mungil itu.

“Dengar! Kau adalah mainan spesial kami mulai saat ini. Kau berhasil membuat Akira menunjukan emosinya hanya karena dia benar-benar muak denganmu.... Itu artinya kau akan mendapatkan kesempatan untuk dia sering-sering terlibat dan turun tangan langsung untuk bermain denganmu, kau senang?” bisik Takashi menyeringai,  “berterimakasihlah pada temanmu!” Dan Takanori membulatkan matanya membuat seringaian Takashi semakin melebar, puas dengan reaksi yang ditunjukan Takanori atas kata-katanya. “Apa kau tidak berpikir.... Siapa yang dengan lancang mengambil barang berhargamu itu dan menyerahkannya pada kami?”

Bohong!

“Jangan tunjukan wajah seakan kau tidak menduga hal ini sama sekali!”

Tidak!

Takashi melepaskan tangannya dari rambut Takanori dan menyeringai meregangkan tubuhnya santai sebelum akhirnya ia beranjak dari sana mengikuti kedua temannya meninggalkan Takanori yang terduduk shock.

Tidak.

“Menjijikan!”

Takanori tidak percaya.

“Beraninya dia punya perasaan begitu pada Suzuki Akira!”

Tidak mungkin.

“Ngaca woi!”

Takanori tak mendengarkan ocehan orang-orang itu yang kini mulai melemparinya dengan makanan dan kaleng minuman. Takanori tak perduli dengan benda-benda yang dilempar ketubuhnya maupun kata-kata ejekan kasar yang mereka tujukan padanya.

Dia hanya memikirkan sahabatnya.
Dia hanya ingin berteriak...

YUTAKA TIDAK MUNGKIN MELAKUKANNYA!!



#TBC#



Heheh... 

No comments:

Post a Comment