Search + histats

Sunday, 16 April 2017

悪循環 - Vicious Circle - (Reituki fanfic) // CHAPTER 01

Author : RuKira Matsunori
Chapter : 1
Rating : R
Genre : AU / School / Drama / Romance / Fantasy?
Fandom : the GazettE and friends xD
Pairing : Reita x Ruki (Main)
Warning : Bullying! MxM! Alur maju mundur xD
Note : Heh? Apa saia melakukan pekerjaan yang benar di prolog kemarin? Saia agak khawatir lol

Present : *****
Flashback : 0++0++0



*****

“Tadaima...!”

“Onii-chan! Okaeri!”

Takanori tersenyum melihat adik kecilnya Shiori berlari ke arahnya dan kemudian memeluknya yang sedang membuka sepatu.

“Kaasan masak, kaasan beli banyak makanan! Hari ini kaasan gajian!” celotehnya sambil masih menempel pada kakak kesayangannya.

“Oh, coba kita lihat.” Takanori tersenyum berjalan menuntun adik perempuannya menuju dapur dimana ia menemukan sang ibu tengah menyajikan banyak makan malam di meja makan mereka masih dengan apron melekat di tubuhnya.

“Okaeri Taka...” Ibu Takanori tersenyum menyadari anak laki-lakinya telah pulang.

“Tadaima...”

“Ayo cepat duduklah! Ibu baru saja selesai masak.”

“Yee!! Shiori mau makan gyoza!” Takanori melihat adiknya berlari dengan riang naik ke atas kursi makan yang kemudian ia ikuti duduk di samping gadis kecil itu. Ibu Takanori tersenyum dan ikut duduk berseberangan dengan kedua anaknya.

“Itadakimasu!” Ucap mereka serempak sebelum menyantap makan malam mereka. Ibu Takanori tak hentinya tersenyum melihat Shiori memakan masakannya dengan lahap seakan tak ingin kehabisan. Dan ia beralih pada Takanori yang hanya melihat adiknya dengan senyuman tipis, dengan piring makannya yang masih tersisa banyak nasi seakan anak laki-laki satu-satunya itu baru memasukan satu dua suap saja ke mulutnya sementara Shiori sudah mengambil nasinya yang kedua.

“Taka?”

“Hn?”

“Ada apa?”

Takanori melihat kekhawatiran terpancar jelas dari mata sang ibu membuatnya sadar apa yang tanpa sadar telah ia lakukan sampai membuat ibunya khawatir begitu. Jarang-jarang mereka makan enak begini dan biasanya Takanori selalu lahap bahkan berebut makanan dengan Shiori.

“Tidak ada haha... ” Takanori tertawa canggung sambil melahap makan malamnya berusaha terlihat lahap. Takanori selalu berpikir bahwa masakan ibunya adalah yang terenak dan dia tidak pernah bosan, tapi entah bagaimana akhir-akhir ini bahkan semuanya terasa hambar. Dan Takanori merasa sedikit berdosa karena merasa seperti itu.

“Bagaimana sekolah?”

Mendadak Takanori merasakan mual mendesak ke tenggorokannya saat mendengar kata 'sekolah'. Namun ia hanya mengangguk berusaha menelan nasi di mulutnya. “semuanya baik-baik saja... ” rasanya ingin muntah.

Ibu Takanori menatap anak laki-lakinya satu-satunya itu dengan penuh perhatian dan kekhawatiran. Sebagai seorang ibu, tentu ia tahu saat ada sesuatu yang salah pada anaknya. Takanori yang tidak pernah sekalipun selama ini terdengar berkelahi dengan seseorang, tiba-tiba akhir-akhir ini bukan sekali dua kali ia pulang dengan lebam disudut bibirnya atau bajunya yang kotor bahkan sobek. Namun saat ditanya, ia hanya akan menjawab 'aku laki-laki bu, wajarkan aku berkelahi karena perempuan?' Karena itu ibu Takanori hanya bisa menghela nafas dan mengatakan 'wajar tapi kalau sesering ini ibu khawatir'. Tapi sepertinya hari ini anaknya pulang tanpa ada lebam baru ataupun bajunya yang kotor, karena itu Ibu Takanori berusaha untuk tidak membahasnya.

“Taka...”

“Hn?”

“Tentang pekerjaan part timemu..... Ibu khawatir pihak sekolah tahu. Kau tau kan? Kau bisa dikeluarkan.” Entah cuma firasatnya tapi sepertinya Takanori mengalami keanehan itu sejak ia mulai bekerja part time?

Takanori menggelengkan kepalanya,“Tidak kaasan. Aku akan berusaha merahasiakannya. Tidak ada siswa siswi yang tahu soal ini kecuali Yutaka dan Yutaka tidak mungkin akan memberi tahu seseorang, dia pasti tidak ingin aku dikeluarkan.”
Takanori berusaha meyakinkan.

“Tapi Taka... Kau tau ibu bisa memenuhi kebutuhan hidup kita sendiri. Kau masih dibawah umur, seharusnya kau fokus belajar saja!”

Takanori menggeleng kepalanya lagi, “aku tidak bisa membiarkan kaasan terus lembur dan pulang larut malam. Lagipula aku menyukai pekerjaanku.” Takanori tersenyum sebelum kembali menyantap makan malamnya berusaha terlihat lahap.

Ibu Takanori menghela nafas, “kau memang kerasa kepala....kalau begitu jaga kesehatanmu! Jangan terlalu memaksakan diri!”

“Hal yang sama juga untukmu, Kaasan.”

Keluarga tanpa seorang ayah...
Takanori bangga pada ibunya yang bisa membuat mereka bisa bertahan hidup sampai saat ini walau tanpa seorang ayah untuk mencarikan nafkah. Tapi kini Takanori sudah dewasa, ia tidak bisa hanya membanggakan ibunya dan membiarkannya banting tulang seorang diri sementara ada yang bisa dia lakukan.


*****


Takanori menghela nafas.

Pagi...
Kenapa cepat sekali datang...

Itu yang selalu Takanori pikirkan setiap kali matanya terbuka dari tidurnya semalam.  Sambil membuka loker sepatunya, mengeluarkan sepatu dalam dan memasukan sepatu luarnya ke loker ia memikirkan apa lagi yang akan dilakukan Takashi dan teman-temannya padanya hari ini. Bohong jika Takanori mengatakan ia tidak takut dan gelisah setiap dihadapkan dengan yang namanya pagi dimana ia akan kembali mengulang apa yang disebut dengan "akujunkan"nya. Ia takut, tapi ia tidak bisa melarikan diri. Takanori bukanlah mereka yang saat mengetahui mendapatkan "Akujunkan" dan langsung melarikan diri dengan pindah sekolah, karena mereka punya uang. Orang tua mereka punya uang! Dan Takanori tidak mungkin terus bolos yang pasti akan beresiko pada beasiswanya. Ia tidak ingin menyerah setelah ia berusaha keras agar bisa masuk ke sekolah ini dan di saat setengah perjalanan lagi menuju kelulusan seperti ini...

Bukan berarti Takanori orang yang berani dan kuat , sejak semula ia hanyalah seorang pengecut yang akan melarikan diri saat seseorang meminta bantuannya, hanya saja..... tak ada tempat dan cara untuk melarikan diri baginya.... Ini hukuman untuknya.

Cklek.

Takanori menolehkan wajahnya ke samping dimana di sana berdiri beberapa langkah darinya, sahabat sejak kecil yang selalu mencerahkan paginya dengan senyuman dan lesung pipit itu mengucapkan "ohayou" padanya tengah sibuk mengeluarkan dan memasukan sepatunya ke dalam loker.

“.....”

Padahal mereka hanya berjarak beberapa langkah, tapi Takanori merasakan jarak yang teramat jauh bahkan hanya untuk agar suaranya mencapai sahabatnya itu.

Yutaka merasakan sepasang mata memperhatikannya dan ia segera menutup lokernya tanpa menoleh ke arah orang itu dan segera pergi dari sana dengan terburu-buru.

“Ohayou...” Takanori tersenyum getir sambil menutup lokernya. “Yutaka... ”


0++0++0++0


“Umm~ Masakan Ibu Taka memang paling enak!” Komentar Yutaka setelah diam-diam mengambil lauk dari bento Takanori.

“Dasar kau!” Takanori mengambil bentonya dan menjauhkannya dari jangkauan Yutaka. “Ibumu akan terluka kalau mendengar kata-katamu itu!”

“Masakannya memang tidak enak. Dia tidak pintar masak makanya membayar pembantu untuk melakukan itu kan?” Yutaka mengangkat kedua bahunya sambil memasukan nasi ke mulutnya.

Takanori menatap iba sahabat sejak kecilnya itu beberapa saat. Tidak, Tidak! Jangan tentang keluarga Yutaka, itu selalu membuat mood Yutaka memburuk kalau membahas tentang orang tuanya. Ia harus mengalihkan pembicaraan !!

“Aa... Beberapa hari yang lalu ...” Takanori memulai.

“Hn?”

“Aku melihat seorang siswa tak beruntung yang tak sengaja menumpahkan minumannya ke baju seragam Suzuki Akira... ” Takanori masih ingat bagaimana kedua mata itu menatapnya meminta pertolongan sebelum akhirnya Takanori memutuskan untuk pergi dari sana sebelum melihat sesuatu yang akan semakin membuat perasaan bersalahnya menggunung.

Yutaka berhenti mengunyah makanannya, “Suzuki Akira?!”

Takanori mengangguk.

“Wow! Akujunkan yang akan didapatkan anak itu pasti spesial.”

Takanori kembali mengangguk pelan.

Ya. Suzuki Akira...

Bisa dikatakan dia adalah leader dari geng Takashi. Bahkan Takashi yang tak berperasaan itupun takut padanya. Anak dari pemilik perusahan Suzuki Corporation, perusahaan yang namanya sudah mendunia dan memiliki ratusan cabang di berbagai belahan dunia,  menjalin hubungan baik dengan Yakuza dan para petinggi negara. Bahkan hukum bisa dibelinya. Mungkin membunuh satu manusia tidak akan dipermasalahkan jika Suzuki Akira yang melakukannya.Karena itu berurusan dengannya apalagi membuatnya terganggu atau jengkel adalah mimpi buruk bagi siswa siswi di sekolah ini.
Dan satu hal yang selalu Takanori dan mungkin semua siswa siswi di sekolah ini pertanyakan.... Adalah sesuatu yang menutupi hidungnya. Entah itu hanya style atau ada alasan dibaliknya, Tak ada yang tahu. Tapi semua menganggap itu sudah seperti ciri khas seorang Suzuki Akira. Dan semua mengakui ia memang terlihat keren dengan itu dan sebagai orang yang ditakuti, itu memberinya kesan misterius dan aura yang berbahaya.

Dan satu orang lagi teman satu geng Takashi yang juga ditakuti oleh siswa-siswi Senbazuru High.
Dia adalah Takashima Kouyou.
Saat pertama kali melihatnya kita tidak akan percaya dia adalah satu dari orang yang ditakuti seluruh siswa di sini. Wajahnya yang lebih cocok dikatakan cantik daripada tampan (ini juga berlaku untuk Takashi) dan sering sekali menebar senyum pada orang-orang disekitarnya, santai dan terlihat kalem. Dia tipe laki-laki yang akan membuat perempuan bersedia menjadi wanitanya yang kesekian-sekian asalkan bisa mendapatkannya. Dia adalah sepupu Suzuki Akira. Dia tidak banyak turun tangan untuk memberi siswa-siswi akujunkan seperti yang dilakukan Takashi. Tapi sebagai sepupu Suzuki Akira, dia tetap lebih ditakuti daripada Takashi. Karena saat seorang siswa/siswi membuatnya merasa terganggu, meski ia tidak memberi mereka akujunkan, mungkin Suzuki Akira yang akan menggantikannya memberi perintah pada para siswa pengikut mereka. Dan itu berarti Akujunkan yang akan mereka terima lebih daripada sekedar bullyan seperti dijauhi semua siswa dan dikunci digudang sekolah selama seharian yang biasa diberikan Takashi. Untuk kasus yang pernah terjadi sebelumnya bahkan ada seorang anak yang sampai dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Oleh karena itu, berurusan dengannya mungkin sama halnya berurusan dengan Suzuki Akira.

“Kawaisou ne...” Yutaka bergumam sambil memasukan sesuap nasi, “apa kita pernah melihat anak itu sebelumnya?”

Takanori tampak berpikir beberapa saat, “kurasa aku pernah melihatnya. Sepertinya seangkatan dengan kita... ”

“Hm...” Yutaka kembali mengangguk memasukan sesuap nasi lagi ke mulutnya.

“Yutaka....”

“Hn? ”

“Aku selalu berpikir... Bagaimana jika orang yang menjadi korban akujunkan Takashi dan gengnya adalah orang yang kita kenal dan tak sengaja kita melihatnya dibully di depan kita, apa kita akan diam saja dan melarikan diri?”

Yutaka mengernyitkan dahinya, “seperti teman sekelas kita yang pada brengsek itu? Yang hanya pamer kekayaan orang tua mereka dan memandang rendah kita?” Yutaka menggelengkan kepalanya kuat, “tidak, tidak! Karena itulah kita membatasi diri untuk tidak terlalu dekat dengan mereka kan? Kita tidak perlu merasa bersalah kalau-kalau menemukan mereka dalam keadaan seperti itu.”

Takanori tertawa kecil, “tidak semua teman sekelas kita seperti itu!” Dan Yutaka menggulir bola matanya.

Memandang rendah kita?

Takanori sedikit menunduk memasukan makanannya ke mulutnya. Sebenarnya yang mereka pandang rendah hanyalah Takanori, tapi karena Yutaka selalu bersamanya ia jadi ikut diperlakukan sama. Tapi pernah beberapa kali tanpa sengaja Takanori menemukan beberapa teman sekelasnya mengajak Yutaka ber main dan bahkan ada seorang perempuan di kelas mereka yang pernah menyatakan perasaannya pada Yutaka, namun Yutaka menolak semuanya, hanya karena ia tidak ingin Takanori merasa tertinggal. Itulah Yutaka. Sejak dulu dia selalu berdiri untuknya. Bahkan ialah yang selalu membela saat teman-teman sekolah dasar Takanori menjailinya. Karena itu Takanori merasa sangat beruntung bisa berteman dengan Yutaka. Ia akan melakukan apapun untuk agar selalu bisa menjadi temannya.... Teman yang baik untuknya.

“Gochisousama deshita!” Ucap Takanori dan Yutaka serempak lalu segera membereskan bento mereka.

“Taka, kapan kita bisa main sepulang sekolah lagi? Sejak kau kerja paruh waktu, waktu kebersamaan kita jadi berkurang.” Keluh Yutaka.

“Haha... aku tahu, kalau aku libur.... bisa kan?”

“Tapi kapan hari liburmu itu? Tidak jelas.” Yutaka menggerutu.

“Nanti aku beri—”

DUK... DUK... DUK... DUK... DUK...

Yutaka dan Takanori serempak menolehkan wajah mereka ke arah pintu atap, sumber dari mana mereka mendengar suara seperti banyak langkah kaki yang naik berlari menaiki tangga. Dan saat pintu atap terbuka dengan kuat Takanori dan Yutaka segera menyembunyikan diri mereka di balik dinding bagian belakang pintu atap.

“Haha... Mau lari kemana lagi kau?”

Takanori menahan nafasnya saat melihat anak laki-laki yang kemarin tak sengaja menumpahkan minumannya ke seragam Suzuki Akira itu dengan wajah ketakutan terpojok di sana dengan 6 orang siswa mengepungnya. Tak ada geng Takashi diantara mereka tapi Takanori tahu mereka pastilah suruhan geng Takashi.

“Kau tau?  Dengan menyusahkan kami seperti ini hukumanmu akan lebih berat.” Salah satu dari lima orang siswa itu menyeringai.

“Aku mohon lepask—ugh!”

Anak itu terduduk di lantai setelah salah seorang dari kelima siswa yang mengepungnya menendang perutnya.

Takanori memalingkan wajahnya tak tega melihat itu. Ia berpaling pada Yutaka yang entah kenapa terlihat mengepal tangannya dengan sorot mata seperti.....marah?

“Bagaimana kalau kita telanjangi saja dia terus kita buang semua bajunya?”

“Eww!!  Terdengar menjijikan tapi ide yang bagus!”

Dan Takanori mendengar kelima orang itu tertawa serempak.

“Yuta—”

BUAGH!!

Takanori membiarkan tangannya tetap terulur karena orang yang tadi bermaksud ia hentikan dari perginya dengan menarik seragam nya tak berhasil ia hentikan karena gerakannya yang begitu cepat seperti hendak memburu.

Kenapa?

“Brengsek!  Siapa kau hah?!” Salah seorang dari kelima orang itu terlihat geram setelah mendapatkan tinjuan di pipinya dari Yutaka.

“Sedikit saja kalian menyentuhnya lagi, aku akan—”

BUAGH!!

Siapa anak itu bagi Yutaka?

“Menghajar kami? HAHAH!!”

Takanori hanya berdiri mematung melihat kelima orang itu sekarang mengeroyok dan menghajar sahabatnya. Kakinya terasa mati rasa, kepalanya terasa berputar dan saat itu Takanori menyadari betapa menyedihkannya dia, seorang pengecut yang hanya bisa berdiam diri melihat sahabat baiknya dipelakukan seperti itu.

Itulah yang selalu ia lakukan selama ini?
Pada mereka yang dalam hatinya menjerit meminta tolong padanya?


Tapi ia tak bisa bergerak dari sana.... Kakinya serasa terpaku.

Setelah puas menghajar Yutaka dan anak yang menjadi sasaran awal mereka, kelima orang itu pergi dari sana karena mendengar suara bel sekolah berbunyi setelah mengatakan, “sampai jumpa besok pasangan homo loveydovey!”

“Dan kau!” Salah seorang dari mereka menunjuk Yutaka, “kau akan menyesal karena mengganggu kesenangan kami! ” kemudian mereka pergi sambil tertawa-tawa.

Takanori masih terdiam di tempatnya tak punya muka untuk menunjukan dirinya di depan sahabatnya itu setelah menunjukan betapa pengecutnya dia. Namun Yutaka melihat kearahnya dan tersenyum dengan sudut bibir lebam dan berdarahnya, “Maaf Taka... Aku melanggar janji.”

Dan saat itulah tanpa terasa setetes air mata menetes dari satu mata Takanori.


#TBC#



No comments:

Post a Comment