Search + histats

Sunday, 17 July 2016

Cherry Butterfly ✴ 01 — [ Tora x Saga Fanfic ]

Author: RuKira Matsunori
Chapter: 01/x
Genre: Romance/ Drama/ BoysLove
Rating: R
Fandom: Alicenine
Pairing: Tora x Saga
Warning: Mungkin nanti... :") *maksudnya?*
A/N: Holaaa~ Minna-sama!!! Ohisashiburiiii da ne (*´∀`*) Adakah yang masih inget fanfic Tiger Eyes? Rasanya saia pernah berjanji untuk membuat Tora-side nya yah? (・∀・)a maaf untuk loooooooooong gapnya yang agak keterlaluan xD *minna: udah biasaaaaa!!!* Ano... sebenarnya saia suka membuat kalian penasarahahahahan xD *alesan!* Kalo ada yang baca Wanwis.... mohon kesabarannya ya *dibanting wajan*
Ja... Yonde Kudasai yo!



✴桜の蝶✴

Mereka bilang dunia sempit saat bertemu dengan orang yang diduga hanya punya kesempatan kecil untuk bertemu. Tapi aku tidak akan berhiperbola seperti itu, setidaknya, tidak terlalu melebihkan dari kenyataan. Jepang adalah negara yang kecil jika kita lihat di peta, dan Tokyo adalah kota besar dimana semua orang dari penjuru Jepang berdatangan hanya untuk mengadu nasib mereka. Tapi tetap saja, itu hanya setitik merah yang bahkan tidak lebih dari satu sentimeter di google map, huh?
Dari banyaknya distrik dan universitas di Tokyo, kenapa aku berakhir di universitas itu?
Dari banyaknya orang yang ku kenal dimasa lalu....... kau adalah orang yang paling tak ingin kulihat lagi sosoknya dalam kehidupanku. 'Cause it will be such a torture.
And yet, your beautiful feature appeared right before my eyes.
The torture I would've never felt ready to confront.





“Sepertinya kau cukup menikmati apa yang kau lihat dariku.”
Aku terkejut. Tapi aku menahan diri untuk mengekspresikannya ke permukaan.

“He?” Kata-kataku membuat matanya berhenti mengobservasi.
Dari tatapan itu..... Apa dia menyadarinya? Akankah dia mengenaliku dalam sekali melihat?
Satu alisnya terlihat terangkat, dan bibir mungilnya sedikit berkedut sebagai bentuk respon ketidakterimaannya atas perkataan asalku.
Tidak berubah...
Ekspresi jahil dan nakal di wajah itu tidak berubah.
Waktu 14 tahun, bukanlah sesuatu yang akan membuatku melupakannya.
Dan bibir itu....
Hanya satu orang di dunia ini yang memilikinya.

“Kau mau apa Saga? Kita sudah putus! Jangan harap kau bisa memintaku kembali padamu! Jadi menghilanglah dari pandanganku!” Perempuan yang sejak beberapa hari terakhir ini sok akrab denganku tiba-tiba membentak.

Saga...

Sepertinya aku pernah mendengar nama itu dari cibiran dan keluhan Hiroto.
Orang sok cakep, penjahat wanita dan brengsek.
Jadi itu pandangan orang tentangmu.... Takashi.

“Benarkah, jadi kau ingin mengambil gadismu kembali?”

Aku selalu berharap agar kau tidak pernah muncul lagi dalam kehidupanku. Tapi saat aku sadar kenyataan menentangku dan kau berdiri di hadapanku sekarang, aku tak bisa memungkiri.... Kenyataannya selama ini aku selalu merindukanmu. Tapi munculnya kembali kau dalam kehidupanku juga membuatku takut. Karena itu artinya aku harus siap untuk sebuah penyiksaan.
Kau yang telah tumbuh menjadi manusia sempurna dan makhluk secantik ini, tidak mungkin orang-orang melewatkanmu begitu saja. Dan melihatmu berkeliaran di sekitarku tanpa bisa kuraih, menyaksikanmu dengan perempuan-perempuan yang memujamu akan sangat menghancurkanku.

“Tidak.”

Karena itulah kupikir lebih baik agar kau tidak pernah muncul lagi dalam kehidupanku.
Dunia mempertemukan kita. Mempertemukanku denganmu, hanya untuk mengiming-imingi, hanya sebagai pemikat bahwa di dunia ini ada makhluk seindahmu dan bukan untukku.

Aku melangkah pergi meninggalkannya yang terlihat asik bicara berusaha mengakrabkan diri denganku.

Karena aku egois dan aku pengecut Takashi.
Setelah semua hal yang kulalui.... kau muncul di hadapanku yang telah menjadi kotor di hadapanmu.
Bukan hanya ketidakpercaya dirianku untuk bisa memilikimu, tapi kepantasan dan kualitas diriku untukmu juga jadi hal yang membuat dunia sudah pasti tidak akan menyerahkanmu padaku.
Kau tidak akan pernah menjadi milikku....
Jangan mengenalku.
Bencilah aku...

✴桜の蝶✴

“Perkenalkan, mereka adalah kawan-kawanku... dan guys, ini adalah Tora. Mahasiswa transfer dari Inggris yang banyak diperbincangkan di Universitas kita.” Watanabe mengumumkan.
“Hai Tora-kun, aku sudah lama ingin mencoba berbincang denganmu.”
“Aku juga~”
“Aku juga~”
Aku hanya merespon dengan tersenyum tipis.
Watanabe menyeretku hingga aku duduk diantara jejeran teman-temannya di club yang bising ini. Sebagian besar teman Watanabe didominasi oleh perempuan, tapi ada beberapa orang laki-laki yang duduk di sana. Mata-mata yang melihat ke arahku benar-benar membuatku tak nyaman. Aku mengambil gelas berisi minuman di depanku dan sedikit menyeruputnya sampai tiba-tiba aku menangkap satu tatapan yang berbeda diantara banyaknya mata yang menatapku.
“Ah!”
“.........”
“Maaf, Tora-kun! Maaf!!”
Aku hanya menatap Watanabe tanpa menunjukan ekspresi apapun setelah dia menumpahkan minumannya ke bajuku. Aku dapat mendengar teman-teman perempuannya terkikik dan saling berbisik.
“Biar aku bersihkan... ya?” Rayunya dengan memasang tampang memelas.
“Tidak, biar aku—” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Watanabe menarik paksa tanganku dan membawaku ke toilet.

“Ini salahku, aku harus bertanggung jawab.” Ucapnya tersenyum sambil melap kemejaku dengan sapu tangan basahnya. Aku membiarkan dia melakukan kemauannya tanpa protes atau mengatakan apapun. Dengan begitu kupikir akan lebih cepat selesai.
“Tora-kun...”
Mendadak aku merasakan atmosfer yang tidak mengenakan mendengar nada suara Watanabe.
“Now, we're alone...”
Aku mengernyitkan dahiku saat tubuhnya semakin merapat, dan tangannya yang tengah melap kemejaku naik ke dadaku.

“Aku tidak menyukaimu.”
“He?”
“Aku tidak ingin kau salah paham dan berharap. Jadi aku tegaskan.”

Dia punya wajah yang cantik, tapi apa hanya itu yang dilihat Takashi?
Kepribadiannya seperti seorang wanita murahan. Apa yang membuat Takashi menyukainya selain wajahnya? Tubuhnya? Terlihat rata-rata di mataku.

“But you enjoyed my company up until before you said that just now~” Dia merengek.
“I'm not some kind of shelter for heartbroken girl who seek for refuge.”
“Apa?”
“Yang kulihat sebelumnya, kau hanya mencari seseorang untuk membuat mantan pacarmu cemburu. Kau masih mengharapkannya, Watanabe.”

Kedua mata perempuan itu membulat. Kemudian ia sedikit merengut membuang mukanya dan menjauhkan tubuhnya dariku. “Aku tidak..... Dia itu brengsek! Hanya modal tampang dan tidak punya apa-apa! Untuk apa mengharapkannya kembali? Aku bisa mendapatkan yang lebih darinya!”
“Jika maksudmu itu adalah aku, kau keliru.”
“Tora-kun~!!” Rengeknya kesal.

Sejak awal aku tidak terlalu menyukainya. Menawarkan diri untuk menuntunku mengenal baik universitas ini dan kemudian bergelayutan di lenganku beberapa jam setelah perkenalan. Aku menyukai perempuan cantik yang bukan hanya tampang. Kriteriaku akan perempuan cukup sulit. Aku meciptakannya untuk melampaui Takashi, meski terasa mustahil tapi aku pernah menemukannya....

Baiklah! Dan kini perempuan di hadapanku ini menjelekan Takashi, membuat penilaianku tentangnya semakin merosot ke dasar. Dia memuakan. Tidak ada lagi alasan untukku untuk tetap berada di tempat ini.

“How's your days in Japan?” 
Aku membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral, “not bad.” Jawabku sebelum meneguknya. “Otou-sama?” Tanyaku balik.
“He is fine.” 
“Hm...” Aku menutup kulkas dan beranjak berjalan menuju kamar masih dengan ponsel di sebelah telingaku dan sebotol minuman di sebelah tangan.
Hari yang melelahkan. Setelah bertemu kembali dengan Takashi, otakku seakan memaksakan diri bekerja lebih giat dari biasanya. Kepalaku selalu dipenuhi olehnya. Dengan perasaan takut, cemas, gelisah. Memikirkan bagaimana caranya agar aku tidak bertemu lagi dengannya meskipun kami berada di universitas yang sama, dan agar dia tidak mendatangiku lagi.
Ah. Aku sudah mengabaikannya... Kuharap itu cukup untuk membuatnya tidak tertarik lagi berurusan denganku.
“Just worrying your father?” 
Aku mendudukan tubuhku di tepi tempat tidur, menatap langit-langit kamar. “Then, how about you... Kaasan?”
“I'm fine. Thanks for asking. Enjoy your days there..” 
“I will.”
“.........”  
“........”
Terdengar seperti sebuah helaan nafas dan bisikan, seakan berharap aku tak mendengarnya.
“Take care of yourself!” 
“Same for you.”
“Nothing to worry about me. There's beloved father here to take a good care of this mother.” 
Aku tersenyum tipis, “It's good then.”

Aku kembali meneguk air mineral yang masih tersisa di botol, menyimpan botol kosongnya di atas nightstand dan menjatuhkan tubuhku di atas tempat tidur.

Amano.

Banyak yang mengatakan betapa beruntungnya aku. Memiliki kedua orang tua kaya raya yang begitu menyayangiku. Tanpa mereka tahu bagaimana keadaan keluarga Amano di dalam, dan aku yang tidak semudah itu untuk sampai akhirnya bisa menyandang marganya.

✴桜の蝶✴

“Boleh aku bergabung?”

Selama ini Takashi dalam mimpiku, tidak pernah dewasa. Ia selalu berusia 6 tahun yang membuatku tak bisa mengapa-apakannya. Tapi sekarang aku telah melihat sosok dewasanya, dan itulah yang muncul dalam mimpiku semalam. Meski tetap... tidak secantik dia yang ada di hadapanku saat ini.

“Kau! Si playboy cap kambing!” Seru Hiroto tiba-tiba.
“Thanks.” Responmu datar. Kau tak tahu ada orang yang sedang berusaha menahan kekehan di sini karena ekspresi menggemaskanmu. Dan kedua mata itu beralih padaku sekarang, “pertama, kenalkan... Namaku Sakamoto Takashi, tapi aku lebih suka orang memanggilku dengan sebutan Saga.”

Oh.
Sepertinya kau menyadarinya....
Dan kau sedang dalam usahamu untuk memastikan?

“Dan apa yang membuatmu duduk di hadapanku..... Saga?” Aku menaikan satu alisku.
“Kau tidak ingat sesuatu? Maksudku... Setelah kusebut nama lengkapku?”
Ada raut malu dan panik di wajahmu. Apa kau berusaha memberanikan diri untuk menanyakan itu dan sekarang kau menyadari bahwa mungkin kau salah orang?

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” tanggapku berusaha terlihat tidak setertarik mungkin. Meski kenyataannya, aku ingin melihat raut wajah panik bersemu malu itu lebih lagi. It feels so damn nice to tease you.

“Benarkah? Kau tidak pernah berhubungan dengan yang namanya Panti Asuhan Sumire? Atau Naomi-san?”
Itu tempat yang mempertemukanku denganmu. Dan wanita yang sangat kukasihi.
“Oi, bicara apa kau? Kenapa Tora harus berhubungan dengan panti asuhan?” Hiroto terlihat mengernyitkan dahinya. Ah, dia tidak tahu hal itu dan aku tidak pernah punya niatan untuk memberitahunya.
“Mungkin saja dia anak angkat keluarganya?”
“Apa yang dia bicarakan, Tora? Kau anak angkat keluargamu?”
Tapi setelah ini, sepertinya aku harus menjelaskan sesuatu padanya.
Itu akan sedikit merepotkan. Aku menghela nafas. “katakan saja kalau ingin ber-buddy-buddy ria denganku. Tidak perlu membawa topik omong kosong untuk mengawali pembicaraan,” aku mengeluarkan sebungkus rokok dari saku dan memasukan satu batangan itu ke mulutku.

“Aku hanya ingin memastikan kalau—”
“dan perlu kutegaskan,” aku memotong kalimatnya sambil menyalakan pematik dan menyulut rokok di mulutku, “aku tidak tertarik untuk berhubungan dengan kalangan rendah. Jadi, jauh-jauh dariku sebisamu, ok?”

Kedua matamu membulat. Tapi itulah yang harus kukatakan untuk membuatmu menghindariku. Sangat menyenangkan mempermainkanmu Takashi, tapi aku tidak ingin keenakan dengan kau keluar masuk sesukamu ke dalam barrierku.

“Aku mengerti, maaf sudah mengganggu waktu berhargamu tuan kalangan atas,” ucapmu seraya berdiri dari kursimu duduk sebelum aku sedikit dikejutkan dengan cairan dingin yang mengaliri pangkal kepala dan wajahku.
“Oi, apa-apaan kau?!” Hiroto menggeretak.
“Aku tidak perduli apakah kau benar Shinji atau bukan, kau membuatku muak.”

Sambil mengusap wajahku dengan telapak tangan, aku tersenyum samar yang pasti tak kan kau lihat semenjak kau segera beranjak dari tempatmu dengan penuh kekesalan. Kau yang melakukan hal seberani ini tidaklah mengejutkanku.
Yang membuatku sedikit jengkel, kau melakukannya di depan semua orang dan saat aku berpikir ke depan, aku tidak bisa mengikuti mata kuliah dengan keadaanku seperti sekarang ini yang artinya aku harus kembali pulang, mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu dan itu sangat merepotkan. Tapi aku puas. Kau muak denganku yang artinya kau akan berhenti keluar masuk pertahananku.

Tetaplah di sana Takashi. Dalam jarak di luar jangkauanku.
Jangan biarkan kau kuraih dan kuseret paksa masuk dalam kehidupan penuh noda-ku.

✴桜の蝶✴

“EEEEHH!!!”

Aku sama terkejutnya dengan Hiroto. Tapi aku bisa mengontrolnya dengan baik.
2 minggu setelah dia menumpahkan jus di atas kepalaku. Itu pertemuan kedua dan haruslah jadi yang terakhir kalinya dia menampakan dirinya di hadapanku, sejak aku mengatakan kata-kata yang pasti akan merubah pandangannya dan menghentikan rasa penasarannya tentangku. Tapi saat ini, akulah yang mendatanginya...... dengan tidak sengaja.

“Sejak kapan kau jadi bartender di sini? Mana Nao?” tanya Hiroto terlihat tak senang.
“Aku hanya menggantikannya untuk sementara, dia telat datang hari ini,” jawabnya sambil melap meja konter.
“Aku baru tahu kau bekerja di sini.”
“Aku juga baru tahu kau suka datang kemari.” responnya, masih sibuk membersihkan konter.
Tubuhnya yang berbalut outfit seorang bartender...
Jujur saja membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku.

“Serius! Aku tidak tahu dia bekerja di sini, padahal aku suka tempat ini. Kalau kau tidak suka, kita bisa cari tempat lain!”

Bartender hm...?
Menarik.

“Tidak apa-apa.”

Aku ingin melihatnya.
Untuk saat ini saja, biarkan aku mengabulkan keinginan egoisku.

“Oh, ok.” Hiroto mengambil posisi duduknya di bar stools yang kemudian ku susul. “Oi, kau yakin bisa meracik minuman?” Hiroto tampak tak yakin.

Takashi menepuk-nepukan kedua tangannya sebagai tanda acara bersih-bersihnya berakhir dan memfokuskan perhatiannya pada kami, “aku tidak akan berdiri di sini kalau aku tidak bisa melakukannya,” jawabnya dengan senyuman menantang dan 'berusaha untuk terlihat' penuh percaya diri. Karena aku dapat melihatnya...
“Kalau begitu buatkan aku Mojito!”

“Sebelum itu, boleh kulihat KTP-mu?”
“Apa?”
“minimal usiamu harus 20 tahun untuk bisa menikmati minuman di sini.”
“Aku 20 tahun! Dan ini bukan pertama kalinya aku kemari !”
“Ho, kupikir kau anak SMP.”
“Brengsek kau!”

Caramu menggulir bola matamu dengan jahil, dan sudut bibirmu yang melengkung mengejek. Gerak anggun tubuh rampingmu yang berbalut outfit yang kurasa sangat cocok melekati kulit tubuh pucatmu, jari-jarimu yang ramping dan lentik menyentuh permukaan meja konter. Aku yakin kau tak punya niatan untuk membuat dirimu terlihat begitu menggemaskan di depan siapapun. Tapi aku di sini menahan diri untuk tidak menyerangmu.

Ck! Apa yang kau pikirkan Tora?!
Kau hanya membuat penyiksaan untuk dirimu sendiri.

Aku mengambil sebatang rokok dan kusulut di antara bibirku. Aku perlu sebuah distraksi untuk mengalihkanku dari pemandangan kejam yang secara tak langsung menyiksaku dari dalam.

“tuan kalangan atas yang di sana?”
“Bir,” aku menarik rokok dari mulutku, mendapatkan kembali pengendalian diriku.“Vienna Lager.”

“pesanan kalian segera siap!” ucapnya sebelum menuangkan bir untukku dan meracik koktail pesanan Hiroto.

Aku membiarkan segelas bir di hadapanku tak tersentuh untuk sementara aku menyaksikan pertunjukanmu dalam kekaguman diam. Kupikir bartender adalah pekerjaan yang keren. Apalagi seseorang yang kita cintai yang melakukan pekerjaan itu. Meski gerakannya masih terlihat amatir, dan saat kedua matanya terkunci dengan milikku, apa boleh buat... aku tak bisa tidak jatuh cinta lagi pada sosok dewasanya.

Karena itulah kau harus berhenti muncul di hadapanku, atau aku akan berkali-kali jatuh cinta padamu dan itu akan semakin menyiksaku.
Takashi.

Kau terlihat tak nyaman ku perhatikan dan melemparkan tatapan protesmu padaku. Dan bagaimana kalau kau tau fantasi apa yang ada di dalam kepala ini tentangmu.... Sudah bisa kubayangkan tatapanmu protesmu itu berubah menjadi apa.


“Berbeda dari racikan tangan Nao, tapi... lumayanlah,” Hiroto berkomentar setelah meneguk koktailnya. “Oh ya, Tora. Apa kau sudah pernah kembali bertemu dengan anak-anak SMP XXX? Reuni misalnya?”
“Tidak.”
“Dulu kau sempat digosipkan dengan Kuraki kan? Beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengannya di reuni haha... Dia masih saja menggunakan bahasa yang sangat sopan seperti ketika SMP.”
“........”
“Dia menanyakan kabarmu, tapi aku tidak tahu apa-apa tentangmu saat itu. Aku tidak menyangka akan kembali bertemu denganmu di universitas!”
“Dia baik-baik saja?”
“Hn, Kuraki? Ya, dia semakin cantik~ dan dewasa hehe...”

Syukurlah.

“Dan Abe, kau ingat? Dia menjalankan bisnis orang tuanya memproduksi bento, tokonya tidak jauh dari sini, mungkin sekali-kali kita ke sana... bagaimana?”
“Ide yang bagus.” aku tersenyum kecil mengagumi skill Hiroto dalam berceloteh. Sejak dulu dia tidak berubah, tapi kebawelannya itulah yang membua terasa menyenangkan berada di sekitarnya. Aku tidak pandai membuat topik obrolan yang menarik dan tipe orang yang lebih baik diam jika hal yang dibicarakan terasa tidak ada artinya. Tapi Hiroto bertahan dengan aku yang seperti itu.

“Tidak, aku hanya menggantikan temanku untuk sementara. Aku biasanya bekerja di belakang.”
Aku mendengar Takashi bicara dan baru ku sadari ada seorang tamu lagi selain kami beberapa kursi di sebelah Hiroto.
“baiklah, kalau begitu buatkan aku Vesper Martini!” Suruh pengunjung baru itu yang kutebak berada di usia sekitar 40an ke atas.

Aku melirik Takashi yang terlihat gugup akan sesuatu. Adam apple-nya yang mungil terlihat turun dan kembali naik menandakan ia menelan ludahnya dengan paksa. Dan sepertinya aku tahu sesuatu....

“Aa... Ano, sebentar lagi Nao akan datang, kalau anda bersedia menunggu—”

Kau tidak bisa membuatnya.

“Kau tidak bisa?” Tanya bapak tua itu.
Aku lihat Takashi mendelik ke arah Hiroto yang terkikik puas karena raut wajah malunya. Sepertinya tanpa sadar aku sempat mengabaikan ocehan Hiroto namun syukurlah ketidakberdayaan Takashi menarik minatnya hingga ia beralih.
“Haha... baiklah, karena kau anak muda yang manis aku memaafkanmu.”
“Hah?”

Katakan sekali lagi?!

“Ambilkan aku red wine!” suruh pak tua itu mengabaikan ekspresi wajah Takashi yang masih terlihat shock dengan perkataannya.
“Oh,” Takashi mengangguk dan segera menuangkan pesanannya.

Aku melirik laki-laki tua itu yang duduk di samping Hiroto. Matanya tak henti menatap Takashi yang tengah sibuk melap botol-botol minuman dengan senyuman menjijikan di wajah keriputnya. Tua bangka mesum yang gay, huh?
Tatapannya yang seakan menggerayangi tubuh Takashi, membuat tanganku gatal ingin menghantam wajah tuanya itu dengan sekali tonjokan.

“.......”
“.......”

Ups! Sepertinya aku tertangkap tengah menatap tua bangka itu sambil mengutuknya dalam hati. Aku kembali mengalihkan perhatianku pada Hiroto yang tanpa kusadari sudah asik lagi berceloteh tentang masa lalu kami. Kalau tua bangka itu tidak berhenti juga menatap Takashi dengan tatapan menjijikan itu, aku perlu memperingatkannya di luar nanti agar jangan pernah sekali-kali lagi ia datang kemari dan menatap Takashi-ku dengan mata mesum itu!
Takashi adalah orang yang harus ditatap dengan kekaguman. Bukan kemesuman apalagi tua bangka sepertinya yang melakukannya!

“Hei anak muda, kau terlihat sangat atraktif, kau punya tampang dan penampilan yang sangat mendukung untuk jadi seorang idola, apa kau sadar?” Laki-laki tua itu tiba-tiba mengatakan.
“Huh? Idola?”
Aku melirik Takashi yang terlihat bersemu senang mendengar kata-kata pak tua itu.
Jangan bodoh! Aku yakin itu hanya caranya untuk membuatmu melayani obrolannya!

“Apa kau berminat untuk jadi seorang aktor GAV?”

BRUUUUUUFFTT!!

Aku refleks menyemburkan minumanku membuat Takashi beralih menatapku dengan pandangan heran.
“Tora, kau tidak apa-apa?”
“Tidak, aku tidak apa-apa.”

Itu mengejutkanku.
Takashi..... menjadi aktor GAV?
Tidak-tidak!! Jangan membayangkannya Tora!

“Aku adalah produser di production house xxx.”
Aku lihat aki-laki itu mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku kemejanya dan menaruhnya di atas meja konter. “Percayalah, Kau akan mendapatkan bayaran yang sangat tinggi untuk satu kali berperan dalam filmku. Plus, kau punya wajah tipe uke yang selama ini kucari-cari.” Ucapnya tertawa aneh.

Aku tahu itu.
Dengan wajahnya itu, dia pasti akan sangat populer.
Tapi aktor GAV? Itu artinya dia harus beradegan vulgar dengan banyak laki-laki random? Sedangkan aku yang menyukainya sejak lama tak pernah sekalipun menyentuhnya.....
TIDAK AKAN KUBIARKAN.

“Maaf, tapi aku hanya tertarik pada wanita,” jawabnya tersenyum.
“......”
Benar. Ck. Apa yang kupikirkan?
Sudah pasti kau hanya tertarik pada perempuan, dan mendengarnya di saat seperti ini membuatku lega dengan kenyataan bahwa kau tidak mungkin menerima tawaran tidak normal seperti itu.

“Haha... Kau tidak harus seorang gay untuk menjadi aktorku.”
“Maaf, tapi aku tidak tertarik.”

Aku melihat ketidak tertarikan itu jelas di raut wajahmu. Kau tak nyaman dengan pembicaraan seperti ini dan ingin segera mengakhirinya.
Mereka yang melemparkan dirinya ke industri seperti itu tidak semua karena mereka adalah gay, tapi demi popularitas yang tidak bisa mereka dapatkan di industri entertainment yang normal, dan iming-iming bayaran yang tinggi.
Kalau saja kau tergoda dengan hal seperti itu dan menerima tawarannya... kau akan membuatku kecewa.
Tapi aku tahu kau bukan orang seperti itu. Aku tidak akan jatuh cinta pada orang seperti itu.

✴つづく✴

Nahahah sekarang kita *kita?!* akan tahu pikiran-pikiran nakalmu itu Tora!!!
Dan....... beritahu saia jika ada yang tertarik dengan ini... sepertinya ini sedikit membosankan...
haruskah saia melanjutkannya? *plak*

2 comments:

  1. ya ampun, segitunya kau tuan macan. -___-
    Baca ini kenapa saya Geregetan dan malu-malu sendiri ? -///-
    Min Rukira lanjutkan ya, wkwk...

    ReplyDelete