Search + histats

Monday, 20 September 2010

thorny rose 2 [fanfic]

Author : Rukirakira aja sendiri ckck XD

genre : romance/ BL/ smut(?) T_T gak yakin

rated : M *my first*

fandom : Alicenine *doank*

pairing(s) : ToGa a.k.a Tora X saga

warning : Yaoi ne gaje, gak Yaoi sih tapi Yaoi ehe *duak*

summary : There is no rose without a thorn...

note : perhatikan baik baik judulnya ==" THORNY rose bukan HORNY rose wuakakakakak XDDDD





@-@
"benar tidak apa-apa?"
"tidak, thanks sudah mengantarku haha memalukan, seharusnya aku yang-"
"........"
"Saga?" ya ini aku kenapa matanya membulat melihatku berdiri di sini? Di depan pintu apatonya. Dan siapa gadis manis yang berada di sampingya itu?
"Saga, sudah berapa lama di sini?", tanyanya setengah Berlari menghampiriku. Aku hanya menatap matanya sinis tak menjawab. Aku tak menghitung berapa jam aku berdiri di sini, yang jelas aku melakukan apa yang tadi dia minta, 'datang sore hari', dan jam berapa sekarang? Kenapa dia baru pulang selarut ini? Dan bersama seorang gadis.
"maaf, aku pikir kau tidak akan datang"
memang awalnya aku tak akan datang. Lalu kenapa kalau aku tak datang? Apa harus membuatmu pulang selarut ini, membawa seorang gadis. Apa seperti ini yang selalu kau lakukan selama aku tidak ada? Ternyata aku harus melihat semua ini, itulah alasan kenapa rasanya aku ingin datang menemuimu sekarang.
"saga?"
Aku tetap merapatkan bibirku. Aku lihat cewek di sampingnya ikut memandangku heran? Siapa dia?
"ah, oh ya kenalkan ini Mai.. Kuraki Mai, temanku"
teman?
Teman kencan?
Teman tidur?
"hai, saya Mai salam kenal", cewek itu menyodorkan tangannya mengajakku bersalaman. Aku tak segera menyambutnya, setelah beberapa lama berpikir akhirnya kuputuskan untuk bersalaman dengannya.
"Saga, senang bertemu denganmu", aku tersenyum palsu, membuat cewek itu sedikit merona.
"ah, sudah malam. Kalau begitu aku pulang ya Shin-chan"
shinchan?
"ah iya, hati-hati ya", ujar Tora sambil sedikit mengusap-usap kepalanya manja. Lalu cewek itu pun pergi meninggalkan kami berdua.
"aku senang kau datang, kenapa tidak memberiku pesan atau menghubungiku kalau kau mau datang"
"aku tak mau mengganggumu", jawabku datar
"apa? Haha", ujarnya tertawa kecil, lalu dia membuka kunci apatonya dan mempersilahkanku masuk. Dia segera berlari ke dapurnya membawakanku segelas mocca kesukaanku. "mengganggu apa maksudmu? Justru aku senang", dia mengambil kursi duduk kecil memposisikannya tepat di depanku sehingga kami duduk berhadapan.
"untung aku tak menghubungimu kan? Jadi aku tak mengganggumu bersama cewek itu", celetukku ketus.
Dia mengangkat sebelah alisnya, "hei, tadi aku hanya tak sengaja bertemu dengannya di jalan lalu dia mengizinkanku untuk menumpang di mobilnya"
"kau tidak membawa motormu?"
"ee... itu-"
"apa kau selalu pulang selarut ini? Apa saja kegiatanmu di luar sana?", aku mengintrogasi. Rasanya aku tak kan tenang kalau tak melakukan ini.
"aa-", dia menggaruk-garuk belakang kepalanya. Apa susah menjawab pertanyaanku? Wajah gugupmu itu menunjukkan kalau ada yang kau sembunyikan dariku. Wajahmu itu menunjukkan kalau kau bersalah padaku Tora.
"aku pulang!", aku bangkit dari dudukku.
"ah Saga!", dia segera menarik tubuhku untuk duduk kembali, "jangan begini, percayalah! Dia temanku. Aku sudah berteman dengannya sejak kecil, kau tidak usah cemburu soal kami"
kami?
"cemburu?"
"ahaha iya, Saga kau itu mudah sekali ditebak", aku menyingkirkan tangannya yang memegangi kedua pundakku.Apakah ini lucu? Kenapa dia tertawa? Padahal perasaanku benar-benar kacau sekarang, namun aku masih berusaha untuk bersabar.
"aku harus segera pulang! katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku!", aku menegaskan.
"oh, emm~ ya..", dia kembali tampak gugup menggaruk-garuk tengkuknya, "susah mengatakannya kalau ekspresimu seperti itu"
kesabaranku?
Habis.

Aku bangkit berdiri cepat-cepat beranjak dari tempat dudukku, sial! Lagi-lagi tangannya menahanku. "Saga, tunggulah! Ah, aku punya sesuatu untukmu", tanpa melepaskan tanganku dia merogoh tasnya dan mengambil sesuatu, "ini.. kau mau ini kan?"
jam tangan?
"maaf, aku lama membelikannya untuk mu"
apa-apaan ini? Apa dia tak merasa kalau dia sudah membuat perasaanku kacau begini? Apa aku ini hanya anak kecil baginya, yang akan langsung tertawa mengucapkan terimakasih karena diberi benda seperti itu padahal hatiku benar-benar tak enak sekarang.
"Saga?"
maaf saja, tapi aku tak ingin tersenyum apalagi berterimakasih padamu sekarang.
"Sa-"
"tak butuh!"
"apa?" "aku tak membutuhkan benda seperti itu"
Dia terdiam dengan ucapanku. Shock?
"ada apa denganmu Saga?", tanyanya lemah. Aku melepaskan genggamannya,
"ada apa denganmu tora? Apa kau tak memikirkan perasaanku yang menunggumu berjam-jam? Tapi yang aku lihat adalah kau bersama perempuan itu?"
"aku sudah menjelaskannya padamu" "tapi kau tak memikirkan perasaanku! Sikapmu selalu menganggap enteng semuanya! Seakan tidak pernah terjadi apa-apa! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri"
"Saga..."
"renungkan itu!", aku segera beranjak menuju pintu keluar. Ini menyebalkan!! Benar-benar menyebalkan!!. Aku berharap dia menyadari kesalahannya, atau aku benar-benar menyerah. Aku muak kalau harus terus seperti ini, bukan aku yang membutuhkannya! Tapi dia yang membutuhkanku! Kenapa harus selalu aku yang merasa sakit.

Grep.

Sial..!!

"lepaskan aku Tora!!"

"aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja...", bisiknya ditelingaku. Pelukannya di tubuhku semakin kuat, membuatku tak bisa banyak bergerak. "tapi aku salah.."

aku berusaha melepaskan tubuhku dari pelukannya yang benar-benar kuat, "apa kau baru menyadarinya he?", tanyaku sambil terus berontak. Aku tak mendengar suara jawaban dari mulutnya, kenapa? Karena baru kusadari, bibirnya telah menempel di tengkukku.

"Aaaaaaaaaaaarrgh", aku tak bisa menahan diri untuk tidak berteriak.

sakit..

"aaaargh TORA!!"

Dia terus menggigit-gigit leherku. Seperti seorang vampire yang kehausan darah. Ini menyakitkan.

"BRENGSEK! Apa yang kau lakukan?!"

Duk.

Pelukannya terlepas karena baru saja ku injak kakinya dengan kuat. Aku membalikkan tubuhku menghadapnya sambil ku pegangi leherku yang tampak mengeluarkan darah karena gigitannya.

PLAK.

"jangan harap kau bisa menyentuhku lagi"

"........"

Aku tau apa yang aku katakan barusan, itu artinya kita berpisah. Dan hal itu adalah apa yang paling dia takutkan. Menyesalkah dia? Pasti. Terlihat dari wajahnya yang merunduk sejak tamparanku tadi, tentu saja dia menyesal. Itu harus!

"he...."

"??!!"

Dia mengangkat wajahnya. Tak kulihat ekspresi muka penyesalan yang seharusnya tampak di wajahnya. Apa itu?


Seringaian.

"Akh!"

Bruk.

Tubuhku terlempar ke atas sofa empuk tempat dimana tadi aku duduk. "apa yang-hmph"

Dia mengunci mulutku dengan mulutnya, tak membiarkanku menyelesaikan kata-kataku. Satu tangannya memegangi leherku dan tangan lainnya membuka kancing kemejaku satu-satu.

"hmmmbp???!!!"

apa-apaan ini?! Aku tak bisa bernafas

Aku berontak, menyingkarkan tangannya yang berusaha membuka kancing-kancing kemeja seragamku. Berusaha mendorong tubuhnya yang berada di atasku.

"fuah~ BAKA!", Teriakku ketika mulutku terbebas dari kuncian mulutnya, "aku benar-benar tidak akan memaafkanmu!", ujarku geram dengan nada tinggi. Dia hanya terdiam di posisinya tak mengatakan sepatah katapun. Matanya terlihat lebih menusuk dari biasanya, tak ku rasakan tatapan lembut seperti biasa. Tak kulihat ada rasa sayang terpancar dari matanya. Kenapa? Marah?

Aku merapikan seragamku, tak kudengar kata maaf yang selalu terlantun dari mulutnya setelah apa yang dia lakukan padaku. "sudah cukup!"

"belum!"

Aku mengernyitkan dahiku. Tangannya kembali mendorong tubuhku hingga aku terlentang di atas sofa panjang berwarna hitam itu. Kedua tanganku dia kunci diatas kepalaku dengan satu tangannya. genggamannya benar-benar kuat.

"TORA!!!"

"sampai akhirpun aku tak ingin menyakitimu"


"AARGH!!!"

sakit...

"BRENGSEK..!!! TORA KUSSO!!"

Aku terus berusaha berontak, namun tangannya benar-benar kuat mengunci kedua tanganku. Aku menggerak-gerakan kakiku, tapi apa yang bisa dilakukan kakiku?

Bibirnya terus menciumiku, bibirku, pipiku, menjilat hidungku. Mata kami sempat beradu pandang, yang kulihat kali ini adalah tatapan penuh nafsu tak ada kasih sayang. Dia telah membiarkan nafsu menguasai dirinya, kenapa?

"AAAAARGH!!! ku-so.."

rintihanku kembali mengalun saat kurasakan ada benda keras yang menggit-gigit leherku. Setelah puas mengoyaknya ia menjilati luka yang telah ia buat dan terus seperti itu. Ini benar-benar menyakitkan, bukan hanya tubuhku tapi hatiku juga sakit. Tak pernah aku mendapatkan perlakuan sekasar ini darinya.


Setauku dia selalu menghormatiku, setauku dia selalu menyanyjungku, meninggikanku.

Tapi sekarang? Aku benar-benar rendah di hadapannya. Sakit! Tapi aku tak mau menangis. karena itu akan menunjukkan kalau aku benar-benar rendah, lemah.

"argh! ngh... TORA BAKA!!"

Aku memejamkan mataku, meresapi sakit sakitnya bekas gigitan itu, perih. Sampai tanpa terasa air mata itu memaksa untuk keluar dan mengalir dengan sendirinya. Tapi ini bukan keinginanku! Sungguh aku tak ingin terlihat lemah di hadapan laki-laki yang mungkin akan kubenci ini.

Aku merasakan nafas-nafasnya membentur wajahku. Tangannya mengusap keningku, menyingkirkan rambutku yang tergerai di sana. Menyapu keringat yang renum di pelipisku.

"aku selalu menginginkanmu Saga", bisiknya ditelingaku dengan nafasnya yang sedikit tersenggal. Tangannya menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi telingaku. Kurasakan gigitan-gigitan kecil di daun telingaku mengiringi disetiap ia berbisik. "Saga.."

"Aaarrgh!!!"

ini terlalu menyakitkan, menyesak di perasaanku. terlalu perih aku rasakan di tubuhku. Hingga air mataku terus mengalir seperti tak kan pernah habis. Dan aku tau, mungkin dia menertawakan laki-laki lemah sepertiku dalam hatinya.

CHIKUSO!!!!


aku terus mengutuknya dalam hati. Perlahan kubuka mataku, dengan sedikit cengiran menahan rasa sakit aku melihat wajahnya tepat berhadapan denganku. Matanya... mata yang sering kulihat sebelumnya. Tegas namun lembut dan penuh kasih sayang. Apa artinya ini? Dia tidak dikuasai nafsunya lagi?

"Saga..."

DUAK.

Aku membenturkan kepalaku ke wajahnya sampai tangannya yang mengunci kedua tanganku terlepas dan ia meringis memegangi hidungnya. Dengan segera aku dorong tubuhnya sampai terjatuh ke lantai. Mungkin aku terlalu geram sampai aku mendorongnya terlalu kuat, dan keseimbangan badanku tak dapat menahan tubuhku untuk tidak terjatuh menimpa tubuhnya. Sekarang keadaan berbalik.

Aku menjadikan satu tanganku sebagai tumpuan menopang berat badanku, sedangkan yang satunya lagi kupakai untuk mencekik lehernya, tidak kuat hanya sebatas menekan rahangnya. "aku bersumpah hari ini kau benar benar BRENGSEK!"

dia tersenyum, "maaf"

"aku kecewa padamu Tora!"

"tapi aku ingin kau"

"TAPI BUKAN BEGITU-"

"tapi kau tak pernah menginginkanku!"

"..........."

aku? menginginkanmu?


"cih"

Aku segera bangkit berdiri mengancingkan dan merapikan kemeja seragamku. Dia bangun dari lantai tak dapat kulihat keseluruhan wajahnya karena ia tertunduk. Mungkin merenungi kesalahannya kah? Aku tak perduli. Dengan kasar kutarik tasku yang tergeletas di lantai lalu mulai melangkahkan kakiku untuk beranjak pulang. Namun lagi-lagi tangannya menahanku.

"Maaf.."

Aku sedikit melirik kearahnya. Dia masih tertunduk tak menatap lurus padaku. Merasa bersalah? Tentu saja, itu harus.

Aku sedikit berjongkok mengangkat dagunya untuk melihat wajahnya yang terakhir kali sebagai kekasihku.

"Amano Shinji.."

Aku menatap matanya dalam begitupun dia membalasku.

"Sakamoto Takashi.."

"........."

Aku melepaskan tanganku dari dagunya, "terima kasih untuk semuanya, aku pulang", ujarku seraya melangkahkan kakiku menjauh darinya.

"Saga.."

aku mengangkat sebelah tanganku seraya meninggalkannya, "selamat tinggal", kataku enteng tanpa sedikitpun meliriknya di belakang sana.

BRAK.

Aku menutup pintu apatonya dengan kasar. Aku masih berdiri di depan pintu, tak kudengar suara yang memanggil manggil namaku ataupun langkah kaki yang berusaha mengejarku dari dalam sana. Apa dia menerima keputusanku begitu saja?

Aku sandarkan tubuhku di pintu yang telah tertutup rapat di belakangku. Tanganku memegangi leher yang masih ada saja rasa perih di sekitar sana. Atas apa yang telah dia lakukan padaku tadi, aku yakin dengan kata-kata yang kulontarkan padanya tadi. Namun kenapa masih ku renungkan?

Sesak


@<-<-

"Ohayou!", sapaku pada ketiga temanku sambil mendudukan diri di bangku.
"Wei.. Saga", Nao menghampiriku.
"Lagi-lagi lu pake beginian?", Hiroto menarik narik syal yang sudah 3 hari terakhir ini setia melingkari leherku. "lu gak sakit kan? Apa-apaan pake syal segala" Aku menepis tangan Hiroto,
"diem lu gigi"
"bitchy boy" mataku berkilat,
"APA LU BILANG??!!", spontan tanganku menarik kerah seragam temanku yang berbadan lebih mini itu. "LU NGATAIN GUE APA?"
"lu sendiri ngatain gue apa?"
"LU..", Aku semakin menguatkan genggamanku di kerah baju Hiroto.
"Woi woi woi", Nao dan Shou berusaha meleraiku yang tiba-tiba naik pitam dengan kata-kata yang seharusnya sudah sering kudengar dari mulutnya, "masih pagi woi"
"lu kenapa si Ga?", tanya Shou, " Akhir-akhir ini mood lu jelek mulu"
"tau nih, pasti ada masalah ma si Tora lagi", cibir Hiroto menyindirku.
"benarkah? Haha dasar! Untung aku ne jomblo ya, jadi moodku happy selalu wkwk..", Nao ikut-ikutan memperolokku. Aku kembali duduk di bangku sembari mendengus. Shou menyusul duduk di bangku di depanku.
"beneran lu ada masalah sama Tora? Gue gak pernah liat lu jalan lagi sama dia, ada Apa lagi?", tanyanya. Aku mengalihkan pandanganku ke sekitar untuk menghindari tatapan mata Shou yang kadang terlalu jujur mengkhawatirkanku.
"Saga?"
TAK.
Hiroto dengan entengnya menjitak ubun-ubunku membuatku sedikit mengaduh. "ditanya tuh!"
"gue tau gigi!"
"jawab donk! Belagak budeg" Aku menarik bibir Hiroto membuatnya tak bisa berkata-kata lagi sampai tangan Shou menepuk nepuk tanganku untuk melepaskannya. Aku memang belum menceritakan perihal hubunganku dengan Tora yang mungkin sudah berakhir. mungkin?
entahlah, tapi aku tak berniat menceritakannya pada mereka. Apa karena aku masih berharap itu dapat berubah?
HAAAAAAAAAAAA....??" aku dan ketiga temanku melirik sadis sekumpulan cewek centil yang berisik di sebelah kami. Apalagi kalau bukan membahas tentang cowok-cowok yang mereka gilai. Dasar! Apa mereka tidak bisa melakukan hal yang lebih berguna dari itu?
"Aku gak terima"
"bagaimana bisa dia.."
"kyaa Tora kun" Tora? "hei, lu denger? mereka ngomongin Toramu", bisik Nao.
Toraku?
"dia dari kelas mana sih?"
"padahal kayak pendiam, tapi kok bisa huaa" Atas apa yang telah ia lakukan padaku, aku yakin dengan keputusanku dan laki laki tidak menarik ucapannya kembali, begitupun aku. Atas apa yang telah ia lakukan padaku aku seharusnya tak perduli lagi apapun tentangnya, dan tak penasaran dengan apa yang cewek cewek itu perbincangkan. Tapi... pada kenyataannya aku memang penasaran. Aku keluar dari bangkuku menghampiri sekumpulan cewek itu. Apa yang aku lakukan sekarang, sungguh di luar kehendakku.
"apa yang kalian bicarakan?", tanyaku tanpa ekspresi. "he Saga kun?" Aku lihat mereka semua senyam senyum mesum melihat kehadiranku diantara mereka, membuatku tak tahan kalau harus berlama lama. "Ada apa dengan si Tora?"
-
-
-
-
-
kret.

Aku membuka pintu apato yang tak terkunci itu perlahan. Sungguh tak diinginkan aku harus melihat sesuatu yang sedari tadi kuyakini tidak mungkin. Aku tau cewek cewek itu bermulut besar dan suka melebih lebihkan tapi apa yang kulihat sekarang justru lebih dari apa yang mereka katakan.

Dan aku hampir tak kuasa mempercayainya. Dia... Di sofa itu... Setengah telanjang dengan seorang wanita di atas tubuhnya yang serasa tak asing bagiku. Iya, aku pernah melihatnya, wanita yang memberikan roti apple hari itu.

"kyaa~", cewek itu segera merapatkan kancing kancing seragamnya yang terbuka dengan satu tangannya karena menyadari kehadiranku. Kulihat ia tergesa gesa turun dari tubuh laki laki itu, iya laki laki teman bercintanya.

"Saga..?"

".........."

Aku tak mau mempercayai ini tapi kenyataan mengharuskanku untuk menerimanya.

"aku mencarimu ke kelas, teman temanmu bilang kau tak masuk"

".........."

"cih, ceroboh sekali kau. melakukan hal kotor seperti itu dalam ruangan yang tak terkunci"

"aku pikir tak kan ada orang yang berani nyelonong masuk ke rumah orang sepertimu", ujarnya santai sambil mendudukan dirinya menghadapku. Dilehernya penuh dengan bekas merah hasil bercinta dengan cewek itu.

"jadi aku mengganggumu?"

"sangat mengganggu"

"........"

mendadak kakiku gemetar, seperti tak bisa lagi menopang berat badanku. "brengsek"

"terserah mau mengataiku apa, sebaiknya kau pergi dari sini", ujarnya santai tanpa beban.

"kau pikir selama ini aku tak bisa? AKU BISA MENDAPATKAN CEWEK 1000 KALI LEBIH DARI DIA UNTUK MENEMANIKU BERCINTA, AKU BISA!!"

"lakukan saja.."

Buk.

"MATI SAJA KAU!!", aku berjalan keluar membelakanginya setelah kulayangkan satu pukulan tanganku di wajahnya.

BRAK.

Aku berjalan menuruni tangga menahan rasa sakit. Mataku kabur terhalangi air mata yang kapan saja bisa tumpah, tapi aku tak mau menyia nyiakan air mataku untuk hal seperti ini. Seharusnya aku tak merenungkannya, seharusnya aku tak kembali lagi ke tempat itu. Meninggalkannya adalah keputusanku yang paling tepat.

Menyesakkan sekali sampai rasanya tak bisa lagi bernafas. Tora yang tampan, Tora yang baik. Aku membencimu.

Bruk.

"duh"

"ah, maaf", ujarku tanpa menoleh lagi pada orang yang tak sengaja kutabrak. Aku terus melangkah tak perduli di depanku ada siapa, aku hanya akan terus berjalan menjauhi tempat itu, tempatnya.

"Saga?"

"........", mendadak langkahku terhenti dan aku berdiri mematung.

"benar Saga ya?"

"kau?"

"ini aku Mai, masih ingat?"

"oh ya tentu saja", jawabku tak bersemangat memaksakan untuk tersenyum.

"ada apa? kau baik baik saja?"

"tidak aku-, ah kalau kau ingin menemuinya jangan sekarang. Nanti kau mengganggunya"

"apa?"

"dia sedang menikmatinya waktunya dengan seorang cewek, jadi temui dia lain kali saja! Aku duluan ya!"

"ah tunggu! Apa maksudmu? Tora bersama cewek?"

aku menoleh dengan malas, "hm? Oh, maaf aku keceplosan. Jangan sakit hati ya!", aku kembali melanjutkan perjalananku.

"tidak! Tunggu! Itu tidak mungkin, kekasih Tora itu kau kan?"

".......", langkahku kembali terhenti karena kata kata perempuan itu. "apa?"

"iya, aku tau Tora begitu menyayangimu.. Kami sudah berteman lama, aku tau semuanya dari Tora jadi tidak mungkin-"

"maaf aku harus segera pergi"

"Saga!", perempuan itu menarik lengan kemeja seragamku, "Tora sampai meninggalkan rumah dan bertengkar dengan ayahnya itu karena Kau!"

lagi lagi aku tertegun, meninggalkan rumah? "apa... maksudmu?"

-

-

-

-

aku menyodorkan minuman kaleng pada gadis berparas manis itu, "terimakasih"

"hm", tanggapku sambil duduk di sampingnya meneguk minumanku.

"ini minuman kaleng kesukaanmu kan?"

aku berhenti sejenak, menoleh kearahnya, "...."

"aku tau dari Tora", ucapnya menjawab rasa penasaranku, "aku sudah berteman dengan Tora sejak kecil. Aku tau semua tentang dia termasuk kau, orang yang sangat dia sayangi"

"ohok.. ohok.. ohok!", aku menepuk nepuk dadaku. "sudah ohok.. hentikan itu"

"dia bahkan menolak dijodohkan denganku dan menentang ayah yang sangat dia hormati demi kau"

aku membulatkan mataku, apa apaan ini? "apa yang kau katakan barusan?"

"tentu saja, Tora belum menceritakannya padamu? Kalau dia diusir dari rumahnya karena menentang keinginan ayahnya. Sejak tiga bulan lalu dia hidup dengan uang sendiri dengan kerja sambilan disebuah kafe. Itu juga kau tak tau?"

"aku-"

apa apaan ini? Benarkah? Aku yang kekasihnya bahkan tak mengetahui ini.

"Tora bilang dia akan mengatakannya padamu kalau waktunya tiba. Dia hanya takut kau tidak bisa menerimanya lagi, aku tau dia begitu menjagamu", gadis itu tersenyum kecut.

Prang.

Aku melempar kaleng bekas minumanku ke atas aspal.. "argh! Dia-", aku mengacak acak rambutku sendiri. "kenapa dia melakukan ini padaku?"

"karena dia menyayangimu lebih dari siapapun"

"tapi baru saja aku melihatnya bersama seorang perempuan, apa karena ini aku harus melupakan semua itu?"

"tentu saja, yakinlah orang yang Tora cintai hanya kau"

"tapi-"

"Saga.."

Aku menundukkan wajahku beberapa saat. Mencoba berpikir lebih jernih dan menghancurkan egoku.

"Saga, kau baik-baik saja?"

Aku bangkit berdiri membuat mai sedikit kaget. "Sa.. Saga?"

"aku permisi", ujarku sedikit membungkukkan badan.

"heh? Mau kemana?"

"aku harus menemuinya sekali lagi"

".......", gadis itu sedikit cengok tapi beberapa saat kemudian dia tersenyum padaku. Manis sekali, bodohnya si Tora itu menolaknya.

Aku kembali membungkukkan tubuhku dan berlari menapaki jalan yang sudah dua kali ku pijaki hari ini. Aku ingin memperjelas semuanya, dia harus membuka diri untukku.

Aku setengah berlari menaiki anak anak tangga yang kian banyaknya. Tak perduli kalau seandainya aku kelelahan dan tersandung jatuh. Dadaku sesak melebihi sakit yang kurasakan saat aku melihatnya dengan wanita itu. Aku kekasihnya tapi aku tak tau saat dia dalam masalah, aku kekasihnya tapi aku tak pernah ada saat dia membutuhkanku, menyadari hal ini lebih menyakitkan daripada melihatnya bercinta bersama puluhan gadis.

Dan aku menyadarinya... Aku yang salah.

Aku hanya ingin cepat bertemu dengannya, entah perasaan apa ini tapi baru kali ini aku benar benar ingin menatap wajahnya, memeluk tubuhnya, mencium bibirnya. Apakah aku baru menyadarinya, kalau aku lah yang begitu membutuhkannya, menginginkannya.

BRAK.



"saga?"

Aku berlari menghampirinya, membenturkan tubuhku dengan tubuhnya sampai dia terjatuh ke atas sofa.

"Saga, apa yang-"

"mana perempuan itu?", aku menarik kerah bajunya kuat.

"dia.. sudah pergi"

"oh, bagus berarti aku tak perlu mengusirnya"

"lepaskan ini", dia memegang tanganku yang menggenggam kuat kerah bajunya. "kau mau apa lagi? Belum puas memukulku?"

"katakan padaku!"

dia mengernyitkan dahinya, "apa?"

"KATAKAN SEMUANYA TENTANG DIRIMU YANG TAK AKU TAHU!!!"

"........"

"aku tak mau ada orang lain yang memberitahuku tentang kau untuk ke dua kalinya"

".........."

"setelah itu baru aku akan puas meninggalkanmu", aku melepaskan tanganku dari kerah bajunya menjatuhkan tubuhku di atas tubuhnya.

"........."

"aku tak suka kau terlalu baik pada orang lain"

"he?"

"aku cemburu? Iya aku cemburu!"

"Saga?"

"diamlah! aku hanya mencoba untuk jujur dan terbuka padamu!"

"........."

"aku egois tak mau terlihat lemah dihadapanmu, padahal hanya saat di hadapanmu lah aku begitu lemah"

"Sa-", aku menyentuh bibirnya dengan jari telunjukku menghentikan kata katanya.

"dengarkan saja! aku selalu menganggap diriku adalah segalanya bagimu, tanpa perduli apa masalahmu. Seharusnya aku sadar banyak hal yang juga harus kau pikirkan, aku pantas-", kali ini dia yang menghentikan kata kataku dengan telunjuknya.

Dia tersenyum, "maafkan aku Saga"

Aku bangkit dari tubuhnya, "apa?"

"maaf karena bersama gadis itu"

"........", aku menatap matanya datar, masih terasa sakit memang, jika ingat hal itu. Tapi tak ada rasa benci pada diriku itu artinya aku memamaafkannya, "apa saja yang kau lakukan dengannya?", aku berjongkok di lantai menghadap dia yang duduk di atas sofa.

Dia menaikkan dua kakinya ke atas sofa dan bersila, "apapun yang kulakukan dengannya, sama sekali tak kunikmati. Berbeda denganmu, saat menatap wajahmu seperti inipun aku menikmatinya", katanya sambil nyengir kuda mengusap usap kepalaku, membuatku gemas melihatnya. Tanpa sadar aku menarik tangannya membuat wajahnya mendekat, dengan cepat aku menekan belakang kepalanya membuat bibir kami saling bertemu.

"uhuk.. uhuk.."

Aku sedikit merengut karena ciuman itu amat amat amat sangat sangat singkat sekaliii. "uhuk.. maaf, aku-"

"tidak apa apa", aku berdiri lalu duduk di sampingnya, "kau diusir dari rumah?"

dia spontan menoleh ke arahku, "kau tau dari-"

"Mai temanmu, aku malu sebagai kekasihmu tak tahu hal itu"

"Saga, aku tidak bermaksud menyembunyikannya, aku hanya-"

"kesempatan. Aku tak pernah memberimu kesempatan kan?"

"eer...", Tora menggaruk garuk tengkuknya.

"dan kau bekerja sambilan di kafe..."

"iya"

"motormu?"

"aku menjualnya"

"hmm~"

"tanya apa lagi?"

Aku menundukkan kepalaku beberapa saat, "kau menolak untuk dijodohkan dengan gadis semanis Mai?"

"iya"

"demi aku?"

"he'em"

"apa aku begitu berharga-"

"sangat", jawabnya dengan tangannya meraih daguku. Aku segera menepisnya, dia hanya terkekeh menyadari wajahku mulai memerah.

"thanks Tora"

"kembali huny"

"bah!", aku menggeplak kepalanya, "baru digituin ngelunjak! Tapi ingat!"

"he?"

"jangan terlalu baik pada orang lain! aku suka kau baik, tapi bukan berarti kau boleh baik pada semua orang membuat mereka menaruh harapan padamu!"

"sip bos!", Tora meletakkan sebelah tangannya di atas sandaran kursi mencoba merangkulku, "kau tau Saga?"

"nggak!"

"aku tak pernah melupakan saat pertama kali kau bilang suka padaku, kau bilang kau suka padaku karena aku baik", Tora menyandarkan kepalanya di bahuku. "aku selalu menjaga itu, dan menjaga image baikku dimatamu. Namun kenyataannya aku tak sebaik itu kan?"

"baka!"

"haha.."

"Tora, aku selalu ingin menanyakan ini padamu"

"hem?"

"kenapa kau memilihku? Mudah bagimu mendapatkan perempuan cantik kapan saja"

"kenapa kau memilihku?"

"hei, aku yang tanya duluan!", aku mendorong kepalanya dari bahuku.

"jawabaku adalah jawabanmu dari pertanyaanku"

"Tora..."

Dia menekan kedua pipiku dengan dua tangannya, "oke oke", aku melepaskan paksa kedua tangannya dari wajahku. "karena... kau cantik"

"........", aku mengalihkan pandanganku ke samping, "sial..", sepertinya wajahku mulai mendidih lagi, padahal aku sudah tau selama ini dia memang selalu bilang aku cantik, menyebalkan memang tapi aku tak bisa bohong pada diriku sendiri, aku senang.

"seperti mawar"

"hah?"

"mawar yang berduri"

aku menaikkan sebelah alisku, "cantik tapi tak bisa sembarangan menyentuhnya. Dan aku sudah berjanji untuk menjaga keindahannya.. Tapi aku melanggar itu. Apa yang harus aku lakukan untuk menebusnya?"

Aku terdiam tak berkedip menatapnya setelah apa yang dia katakan padaku baru saja.

Mawar?

Dia bilang aku seperti mawar?

"Saga?"

"heh?"

"daijoubu ka?", Tora dadah dadah di depan wajahku.

"daijoubu", jawabku menyeringai. Aku merangkulnya mengecup bibirnya lembut. Tak pernah aku merasa sebahagia ini saat bibir kami bersentuhan, selama ini egoku selalu menguasaiku, membuatku tak pernah bisa benar benar menerima apa yang menjadi milikku. Tak pernah menyadari apa yang berharga bagiku.

"ngghh.....", aku tak rela melepaskan bibirnya begitu saja, terus kukecup sampai aku merasa benar benar itu sudah cukup.

"mmmmph...", dia sedikit menjauhkan tubuhku darinya melepaskan ciuman yang belum rela ku akhiri. "haaah..", dia menghirup udara yang sempat terlupakan saat kami melakukan tempel mulut tadi X3

'Tuan Tora, kau salah jika mengatakan aku tak pernah menginginkanmu'

Aku mendorong tubuhnya membuatnya dalam posisi tak aman. "Sa-Saga mmm"

Aku kembali melanjutkan aktifitasku yang sempat tertunda. Melumat habis bibirnya, tak perlu kerja keras bagiku untuk menjamah setiap rongga dalam mulutnya dengan lidahku, karena dengan senang hati dia seakan mempersilahkanku masuk.

Aku rasa semakin lama suhu dalam ruangan apatonya ini semakin meningkat. Bahkan bibirnya pun terasa panas, aku melepaskan bibirku dengan bibirnya mencoba menatap wajahnya beberapa saat.

"Sa.. ga.."

"Tora, kau baik baik saja?", tanyaku khawatir karena melihat wajahnya merah matang dan berkeringat.

Dia terkekeh, "aku tidak apa apa Saga", tangannya menarik kemeja seragamku mencoba lebih mendekatkanku dengan dirinya. Aku sedikit menciumi lehernya, hawa tubuhnya terasa begitu panas membuatku mengucurkan keringat yang tidak sedikit.

"Tora?"

"ngh?"

Aku menempelkan tanganku di keningnya, "gila! Ini sih demam tinggi", aku segera bangkit dan beranjak ke dapur. Menuangkan air panas dan segera mengopresi keningnya. Aku sedikit kesulitan karena tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.

"Kenapa tidak bilang kalau kau sakit?"

"memalukan sekali kena demam"

Aku menghela nafas, "baka"

dia terkikik ditengah tengah panas suhu tubuhnya. "biar aku menemanimu malam ini"

"HAH?", dia bangkit dari tidurnya membuatku sedikit terperanjat karena tiba-tiba.

"hei, apa ekspresimu gak berlebihan tuh?"

"haha maaf, aku terlalu senang.. hehe". Aku kembali mendorong tubuhnya untuk kembali tiduran.

"aku hanya menemanimu karena kau sakit, tak ada sentuh menyentuh! Wkwk"

"jah!", dia mendengus kecewa

"aku ingin menjadi orang yang selalu ada saat kau butuhkan"

"........."

Benar. Aku tak ingin membuatnya menyesal telah memilihku. Tak ingin lagi membuatnya kecewa karena keegoisanku.

"manisnya... Kau membuatku jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya"

"oh ya? Kau orang sakit, bersiaplah untuk jatuh cinta padaku berpuluh puluh kali lagi haha"

"cantik cantik aneh"

Aku memecet hidungnya yang super mancung itu dengan gemas. Aku hampir lupa kalau sekarang ini dia berstatus orang sakit.

"ini"

"he?"

"aku harap sekarang kau mau menerimanya!", dia membuka kotak kecil itu dan terlihatlah jam tangan berwarna silver keren yang akhir akhir ini aku incar. Dia menarik tanganku lalu memakaikannya di pergelangan tanganku. "bagus"

Aku pura pura menilik nilik jam tangan baru itu dengan seksama, "lumayan"

dia tersenyum lembut menatapku.

"thanks lagi Tora"

"kembali lagi Saga"

Aku selalu dibuat kagum karenanya, aku selalu dibuat tinggi karenanya, aku selalu dibuat lemah di hadapannya. Dia selalu bisa memenangkan hatiku, membuatku merasa berharga.

Tora yang keren, Tora yang tampan, Tora yang baik. Jika aku mawar yang berduri maka hanya untukmu duriku menjadi tumpul. X3333


@<-THe ENd->@


Akakakakakakak gaje beneeeeeerrrr... Huwaaaa>< lagi =".="a

6 comments:

  1. wah so sweet, saga uke yg berkuasa hoho. Tp kok ntoh adegan ending na, saga mau bunuh tora yah? Udah tau bdan tora lg pnas eh di kompres pake aer pnas wkwkwkwkwkwkw bs kena stip tuh macan hehe, good job!

    ReplyDelete
  2. Wahaha mksh udh mau baca XDD eeehh? Saga kan g biasa ngurus org sakit wkwk

    ReplyDelete
  3. ane baru tau kalo ada ni fanfic.. =___=

    GOOD JOB KIRA!!!
    sumpehh bner2 coo cwiiit..lagii dong tora x saga nya..wkwkwkwkw

    ReplyDelete
  4. Hahahak XDD hontou?! Terlalu lebai ini mah jiakakakak... ^^ sankyuu udah bc... InsyaAllah saia buat tora x saga lg dah hho~

    ReplyDelete
  5. *nangis* aku sampe nangis baca nih fic! honto ni! fic ini bagusss banget X')

    ReplyDelete
  6. Eh?0.0 nangis???
    Hehe sankyuuuuu~ <3 XDDDDDD

    ReplyDelete